Kesederhanaan “Homestay” Cermin Kehangatan Pesona Raja Ampat

Catatan Perjalanan Diah Praba, Angkatan 2015

d1

Tampak depan homestay (Foto Diah Praba)

Berlibur gaya anti-mainstream? Raja Ampat dapat menjadi salah satu pilihan destinasi yang tepat untuk mencari hal baru dan mengeksplorasi kekayaan Indonesia.

Berwisata ke Raja Ampat membutuhkan modal besar? Tentu hal itu akan bisa dinilai saat sudah menginjakkan kaki di tanah surga ini.

Membutuhkan keinginan kuat dan jiwa petualang untuk sampai di Raja Ampat dan semua akan terbayar saat menyaksikan indahnya gugusan pulau dengan alam yang masih asri.

dr

Toilet, kamar, dan penulis usai memasak bersama Mama (Foto Sukma Sukadana)

“Homestay” di Raja Ampat

Resort yang nampak seperti Maldives? Sekilas seperti Maldives tetapi ini Raja Ampat. Raja Ampat menawarkan pengalaman menginap yang berbeda.

Bangunan tradisional yang langsung berhadapan dengan bibir pantai dengan suguhan panorama pulau-pulau yang membentang. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat ikan karena setiap pagi di depan homestay gerombolan ikan-ikan selalu datang berkunjung.

Homestay di Raja Ampat dimiliki oleh satu keluarga yang dikelola bersama, tidak ada jual beli lahan dan hanya boleh untuk disewakan.

d5

Bincang-bincang dengan tetua penjaga spot snorkeling di Desa Yenbuba (Foto Diah Praba)

Homestay di Raja Ampat sebagian besar dikonstruksi menggunakan bahan alam dan baru sedikit yang dikonstruksi dengan beton. Bahan-bahan alam tersebut dapat ditemukan di satu pulau tersebut. Untuk membuat pondasi mereka menggunakan kayu gatal yang sangat kuat dengan air pantai.

Dinding homestay terbuat dari daun bobo yang mirip seperti daun pandan yang tersusun rapi dan tahan sampai 3 tahun. Untuk atap mereka menggunakan daun sagu yang disusun rapi menahan air.

Penerangan masih menggunakan genset yang mereka operasikan hanya sore sampai malam hari karena apa umumnya tamu yang menginap menginginkan kesunyian.

Pada malam hari ruang makan digunakan sebagai tempat berkumpul dan bersendagurau sambil menikmati lagu reggae.

Kamar sederhana yang nyaman di pasangi kelambu untuk menghindarkan nyamuk dan serangga-serangga. Toilet yang bersih tetapi dengan air tanah yang payau. Terdapat jalan setapak yang menghubungkan satu homestay ke homestay lainnya sehingga terjadi interaksi dengan tamu homestay lainnya.

Mayoritas paket yang dipilih saat berkunjung ke Raja Ampat adalah fullboard karena susah sekali menemukan warung ataupun restoran. Hanya terdapat satu restoran yang di satu pulau dan harus berjalan kaki untuk mencapainnya. Dengan pengalaman menginap yang disajikan tidak salah jika tamu yang berkunjung dominan berkewarganegaraan perancis yang sangat gemar mencari hal yang alami.

Kehangatan Penduduk

Hal yang menarik yang didapat saat berkunjung ke Raja Ampat tidak saja  menikmati keindahan alam melainkan keramahan dan kehangatan penduduk lokal. Mereka tidak enggan untuk menyapa tamu dan memberikan senyuman yang tulus bahkan tidak canggung untuk berfoto bersama.

Apalagi bila ada seorang tamu/ wisatawan yang memberikan mereka buah pinang/permen. Maka akan dibalas dengan segurat senyum yang tulus dan perbincangan yang ramah.

Sudah menjadi budaya di Raja Ampat, mereka memakan camilan saat bercakap-cakap (Para para pinang) saling bertukar cerita sambil mengunyah buah pinang maupun permen.  Interaksi bersama penduduk lokal menjadi kenangan tersendiri.

Masyarakat lokal sangat sadar dengan asset keindahan yang dimiliki oleh Ampat. Mereka  membuat zona-zona tertentu untuk memancing dan snorkling.

Masyrakat hanya diperbolehkan menangkap ikan hanya di laut lepas dan tidak boleh menangkap ikan hias. Untuk snorkling wisatawan tidak boleh menginjak karang, dikenakan sangsi untuk itu. Mereka bergotong royong untuk menjaga lingkungan sekitar dengan bersih-bersih pantai.

Kehidupan beragama sangat kental yang mana mayoritas penduduk raja ampat adalah nasrani, setiap minggu seluruh aktivitas berhenti karena mereka melaksanakan ibadah.

Sungguh pengalaman yang hangat dan berkesan.