Kebahagiaan dalam Perjalanan Mengelilingi Taman Nasional Komodo

Oleh Yudha Eka Nugraha, Angkatan 2016

Penulis di Pulau Komodo (Foto-foto Ander).

Kesempatan menjelajahi kepulauan di Indonesia adalah hal yang paling saya tunggu. Karena hanya dalam kesempatan inilah saya dapat mengenal Indonesia lebih dekat dari keunikan sosial-budaya masyarakat setempat sampai dengan kekayaan alam yang indah dan membahagiakan.

Sebelumnya, saya pernah mengunjungi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok, sehingga pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman baru saya mengunjungi Taman Nasional Komodo yang terletak di antara Pulau Sumba dan Pulau Flores.

Secara administratif, Taman Nasional Komodo terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan sejak tahun 1991 telah dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Saya melakukan perjalanan ini bersama dengan 19 teman dari program Magister Kajian Pariwisata angkatan 2016 dan 1 dosen pendamping. Kami memulai perjalanan bersama dari Bali pada hari Selasa, 14 Maret 2017. Dengan menggunakan pesawat, kami semua diantar menuju Bandara Komodo Labuan Bajo dan tiba pada pukul 9.15 WITA.

Sesampainya di Bandara Komodo, kami langsung menuju pelabuhan untuk berpindah transportasi dengan kapal laut. Tujuan kami adalah menuju penginapan kami yang terletak di Kecamatan Komodo.

Teman perjalanan Trip Komodo (doc: Ander)

Kunjungi Pulau Kanawa

Pada hari pertama ini, kami diajak mendatangi dua destinasi, yang pertama adalah Pulau Kanawa. Nama Kanawa diambil dari jenis pohon yang tumbuh di sana, pohon ini biasanya digunakan untuk berteduh dikala panas menyengat kulit. Kami hanya sebentar di pulau Kanawa, beberapa diantara kami melakukan kegiatan berenang di pantai mengingat pantai ini sangat jernih dan menyegarkan.

Papan selamat datang di Pulau Kanawa dan Pemandangan jernih Pulau Kanawa (doc: pribadi)

Tujuan kedua di hari pertama ini adalah trekking di Pulau Gili Lawa, di Pulau ini tidak ada Komodo, namun memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan. Kami membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk dapat naik ke puncak bukit Gili Lawa.

Walaupun terlihat kelelahan, kami semua berhasil sampai di puncak Gili Lawa dan dapat menikmati pemandangan dari atas bukit. Kegiatan kami disepanjang kegiatan trekking adalah mengabadikan setiap momen pendakian dan keindahan pemandangan yang ada di Gili Lawa, dari atas bukit kita bisa melihat bentuk pulau yang elok beserta dengan garis pesisir pantai yang mengelilinginya.

Pemandangan dari atas bukit Pulau Gili Lawa (doc: pribadi)

Sengaja di Rumah Warga

Selesai dengan pendakian Gili Lawa, kami kembali ke kapal dan kapal membawa kami ke penginapan kami di Kecamatan Komodo. Kami memilih untuk menginap di rumah warga, sehingga kami dapat mengetahui lebih banyak informasi mengenai Taman Nasional Komodo ini.

Saya pribadi sudah terbiasa dengan sistem homestay bersama warga sekitar sehingga mudah untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar. Tata krama kami selama di sana sangat dijaga sehingga kami tidak melakukan tindakan-tindakan yang mencolok.

Kami menjaga supaya keadaan di tempat tersebut kondusif dan tidak terlalu ramai supaya tidak mengganggu warga sekitar. Sampai di penginapan, kegiatan kami tidak terlalu banyak karena lelah telah melalui hari dengan menyenangkan dan juga mempersiapkan stamina untuk besok hari di mana kami akan mengunjungi Taman Nasional Komodo.

Riang gembira serasa bahagia bersama teman seperjalanan.

Kunjungan ke Komodo

Kunjungan ke Taman Nasional Komodo kami lakukan pada hari kedua, yaitu pada tanggal 15 Maret 2017. Mulai pagi hari, kami berangkat ke tujuan pertama kami, yaitu ke Pulau Padar. Pulau ini merupakan salah satu dari tiga pulau yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Perjalanan dari homestay ke Pulau Padar tidak terlalu jauh, Sekitar sampai 1 jam kami sudah sampai di Pulau Padar. Sesampainya di Pulau Padar, Saya melihat ada dermaga kecil di sana yang terbuat dari kayu tempat bersandar kapal. Setelah kapal berlabuh, tanpa berlama-lama kami mulai turun satu persatu dan mulai mendaki pulau Padar. Tidak semua peserta perjalanan ikut naik mendaki pulau padar, beberapa dari kami tinggal di kapal dan lebih memilih snorkeling di bawah.

Di awal pendakian, saya melihat tangga yang memudahkan kami untuk naik, tangga tersebut tidak banyak, barangkali hanya 200 M saja tingginya. Disepanjang tangga saya melihat ajakan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kemungkinan ajakan tersebut berhasil dengan baik member peringatan kepada wisatawan karena posisi peletakannya sangat strategis dan hampir semua wisatawan pasti melihat papan peringatan tersebut.

Himbauan ini dimaksudkan dalam rangka menjaga keasrian lokasi wisata agar tidak mudah dikotori oleh sampah yang berasal dari wisatawan.

Papan himbauan menjaga kebersihan lingkungan (doc: Ander)

Pendakian Pulau Padar memakan waktu hampir sama dengan Pulau Gili Lawa yaitu sekitar 1,5 jam. Hanya saja menurut saya pribadi, trek mendaki di Pulau Padar lebih menantang daripada Pulau Gili Lawa dimana di Pulau Padar medan pendakiannya sangat curam.

Di sepanjang perjalanan, saya bertemu dengan beberapa wisatawan local yang sedang berlibur. Mereka terlihat lelah namun berseri-seri. Bagi saya, pemandangan Pulau Padar ini memang sangat breathtaking semakin ke puncak, sehingga Saya pikir inilah yang membuat wisatawan-wisatawan ini sumringah walau kelelahan.

Saling sapa antarpendaki juga terjadi, mereka yang sudah naik terlebih dahulu dan turun berpapasan dengan kami memberikan semangat supaya kami bisa menikmati pemandangan indah yang sama seperti yang mereka lihat di puncak.

Pemandangan Pulau Padar dari Puncak Bukit (doc: Marcela)

Berdecak Kagum

Satu persatu kami sampai di puncak, dan semuanya berdecak kagum dengan pemandangan yang disuguhkan pulau Padar. Beberapa dari kami bersitirahat di bawah pohon dan sebagian besar mengabadikan momen dan panorama melalui kamera. Tak lupa sebelum turun, kami juga mengabadikan foto bersama dan kemudian turun untuk menuju destinasi selanjutnya, Pulau Komodo.

Monumen tanda Taman Nasional Komodo yang ditandatangani oleh Soeharto dan Papan selamat datang di Pulau Komodo (doc: pribadi dan Wiwik)

Kapal ini perlahan membawa kami pergi dari Pulau Padar dan menuju ke Pulau Komodo. Tidak lama kami berlayar, kami sampai di Pulau Komodo.Turun dari kapal kami masuk ke pintu gerbang Taman Nasional Komodo dan disambut oleh beberapa ranger disana. Ranger adalah orang yang menjadi pawang kadal raksasa alias komodo. Mereka memiliki pengalaman dalam memandu wisatawan untuk memberikan informasi mengenai perilaku komodo.

Ranger atau yang kadang disebut juga polisi hutan bertugas melindungi kawasan Taman Nasional Komodo dari pencuri satwa yang kerap kali datang. Komodo merupakan hewan yang dilindungi karena populasinya semakin berkurang dari tahun ke tahun, oleh karena itu keamanan Taman Nasional Komodo dijaga ketat kerena penyelundupan satwa komodo adalah tindakan criminal. Siang itu cuaca sangat terik, Ranger membawa kami ke salah satu tempat untuk memberikan kami penjelasan singkat mengenai serba-serbi Pulau Komodo sampai dengan perilaku Komodo yang harus diperhatikan.

Tiket Masuk

Tiket masuk ke Pulau Komodo adalah Rp 90.000. Tiket ini merupakan tiket terusam sampai dengan Pulau Rinca. Namun sayang dikarenakan waktu yang mepet, kami hanya menjelajah di Pulau Komodo.

Selama penjelasan mengenai Komodo, kami memerhatikan dengan saksama bagaimana kebiasaan Komodo. Singkat kata, Komodo merupakan hewan buas, mereka memiliki gigitan yang berbahaya karena liur komodo mengandung bakteri beracun. Komodo bisa lari sampai dengan 18 KM/jam, sehingga wisatawan harus berhati-hati. Komodo sangat sensitive dengan bau darah, sehingga untuk wanita yang sedang mengalami haid sebaiknya tidak ikut masuk untuk menjumpai komodo.

Komodo juga sangat tertarik dengan benda yang mudah bergerak seperti selendang, gantungan, dan benda sejenis lainnya sehingga kami semua diminta memasukkan benda aksesoris menggantung yang kami pakai ke dalam tas untuk menghindari perhatian komodo. Apabila sampai dikejar oleh komodo, ranger menyarankan untuk berlari dengan zigzag karena badan komodo hanya bisa berlari lurus.

Menurut informasi ranger, komodo muda (anak komodo) biasanya hidup diatas pohon untuk melindungi dirinya, sehingga kami dihimbau untuk tetap waspada selama berjalan.

Tidak lama setelah penjelasan, kami mulai masuk menjelajah ke dalam Taman Nasional Komodo, kami memilih short trek mengingat waktu yang menipis karena masih ada tempat yang harus dikunjungi selanjutnya.

Tidak lama setelah berjalan sekitar 500 meter dari gerbang masuk, kami semua sudah menemukan satu komodo sedang berjemur dan di dekat lokasi tersebut kami melihat rumah panggung yang ternyata di bawahnya tiga komodo sedang berjemur disana. Ranger yang bertugas membuat garis di tanah dengan tongkatnya untuk membatasi kami dengan area komodo.

Di sini kami mengamati perilaku komodo dan berhati-hati dengan pergerakan kami karena jumlah kami yang cukup banyak sehingga komodo mulai berpindah ke tempat lain melihat kedatangan kami. Satu komodo berada dekat dengan rumah panggung dan terlihat tidak bergairan karena menurut penjelasan ranger, komodo tersebut adalah komodo yang sudah tua sehingga tidak lagi banyak bergerak. Sedangkan dua sisanya, merupakan komodo dewasa yang besarnya hampir sebesar babi hutan dewasa, bahkan lebih panjang.

Setelah mendapat penjelasan singkat dari ranger, kami mulai mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama Komodo dengan jarak yang sudah ditentukan oleh ranger. Saya sendiri beruntung bisa mendapatkan satu frame sendiri dengan Komodo.

Di Pulau Komodo

Setelah puas berfoto, kami kembali lagi ke depan, selama berjalan kedepan, ranger yang berada di dekat Saya bercerita lebih lanjut mengenai perilaku komodo sampai dengan suka dukanya menjadi ranger (polisi hutan) di Taman Nasional Komodo. Walaupun di sini manusia dan komodo bisa hidup berdampingan, namun tetap saja keberadaan Komodo harus diwaspadai karena natural habit komodo yang merupakan hewan buas.

Komodo dapat memangsa kerbau, babi hutan, kambing, bahkan bila tidak terkontrol dengan baik bsia juga menyerang manusia. Pengalaman sebelumnya biasanya anak-anak yang diserang oleh Komodo, dan ini pernah terjadi disini. Saat ini, jumlah komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo berjumlah 5.400 ekor. Sehingga wajib untuk dilindingi mengingat suaka asli tempat Komodo bisa bebas hanya bisa dijumpai di Indonesia.

Selesai dari Taman Nasional Komodo, kami melanjutkan perjalanan untuk snorkeling dan kembali lagi ke homestay kami bersama warga di Pulau Komodo. Pengalaman hari kedua ini merupakan pengalaman yang paling berkesan dimana saya bisa menjelajah Taman Nasional Komodo mulai dari mendaki Pulau Padar dan melihat hasil karya Sang Pencipta dari atas Pulau Padar. Kemudian mengunjungi suaka asli Komodo di Taman Nasional Komodo untuk melihat langsung kehidupan kadal raksasa yang pernah menjadi 7 keajaiban dunia ini.

Sayangnya, kami semua belum sempat berkunjung ke pulau terakhir yang termasuk dalam rangkaian Taman Nasional Pulau Komodo, yaitu Pulau Rinca. Namun secara keseluruhan perjalanan kali ini sangat mengesankan dan memberikan pengalaman baru bagi saya. Bahagia rasanya pascaperjalanan mengunjungi Taman Nasional Komodo (*).