Kajian Pariwisata Unud Seminar Internasional di Universiti Sains Malaysia

Pembukaan seminar.

Pembukaan seminar.

Pada hari Kamis, 21 Mei 2015, Universiti Sains Malaysia menggelar seminar internasional dengan tema “Seminar On Managing Cultural Tourism: Issues and Challenges”. Seminar menghadirkan empat pembicara masing-masing dari Universitas Udayana (Bali), Universitas Mercu Buana (Jakarta), Tourism Malaysia, dan Think City, Penang (Malaysia).

Seminar yang berlangsung di Dewan Pembangunan Siswa 2, Kompleks Cahaya Siswa, Universiti Sains Malaysia (USM), Penang, diikuti 150 peserta, dari kalangan mahasiswa, dosen, dan badan promosi pariwisata Malaysia. Dari Universitas Udayana hadir 10 peserta termasuk seorang pembicara.

Seminar dibuka oleh Dekan School of Housing, Building and Planning, USM, A/Prof. Dr. Aldrin Abdullah. Dalam sambutannya, A/Prof. Aldrin mengatakan bahwa seminar tak hanya penting untuk membahas masalah pengelolaan budaya mendukung kepariwisataan tetapi juga penting sebagai penjajakan menjalin kerja sama institusional dan akademik antara peserta.

Seminar ini diprakarsai oleh Prof. Dr. Badaruddin Mohamed, Head of Sustainable Tourism Research Cluster, USM. Menurut Prof. Badaruddin, topik pengelolaan pariwisata budaya dipilih karena ada banyak masalah dan hal positif dalam pengelolaan budaya untuk kepariwisataan yang bisa dibahas dan dipertukarkan dalam seminar.

Pembicara dan pamrakarsa seminar, dari kiri: Prof. Darma Putra (Unud), M. Razip Hassan (Malaysia Tourism Promotion Board), Prof. Badaruddin (USM), Dr. Neil Khor Jin Keong (Think City), dan Danto Sukmajati (Universitas Mercu Buana Jakarta).

Pembicara dan pamrakarsa seminar, dari kiri: Prof. Darma Putra (Unud), M. Razip Hassan (Malaysia Tourism Promotion Board), Prof. Badaruddin (USM), Dr. Neil Khor Jin Keong (Think City), dan Danto Sukmajati (Universitas Mercu Buana Jakarta) (Foto Diah Suthari).

Kaitan Budaya untuk Pariwisata

Empat pembicara utama yang tampil saat seminar masing-masing membahas masalah kaitan budaya dengan kepariwisataa, yaitu di Bali, Jakarta, Penang, dan pentingnya budaya dalam promosi pariwisata Malaysia.

Pembicara pertama adalah Profesor Dr. I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana membawakan materi mengenai Intangible Cultural and Heritage Management: Issues and Challenges in Bali. Dalam presentasinya Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata itu menguraikan evolusi Bali menjadi destinasi wisata budaya sejak zaman kolonial Belanda sampai dewasa ini, yakni sampai UNESCO menetapkan lanskap budaya Bali sebagai warisan budaya dunia tahun 2012.

“Pengembangan pariwisata bernafaskan budaya di Bali secara signifikan berkontribusi terhadap nilai-nilai budaya lokal namun pada saat bersamaan juga menciptakan apa yang oleh Michel Picard disebutkan dengan touristic culture, budaya atau seni yang tercipta untuk kepentingan kepariwisataan,” ujar Darma Putra. Artinya, seni budaya yang sesuai dengan tradisi dan agama tetap tumbuh dalam jalurnya sedangkan seni pertunjukan turisk juga berkembang dalam jalurnya.

Menurut Darma Putra, sampai saat ini banyak hal dilakukan Bali dalam mengelola pariwisata budaya di antaranya melalui peraturan-peraturan yang pro-budaya seperti Perda Pariwisata Budaya serta usaha-usaha untuk menjadikan situs sebagai warisan budaya UNESCO sehingga kelestariannya dapat terus dijaga.

“Bali bangga karena usulan menjadikan suber daya budaya dan keindahan alam bisa mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia,” ujarnya sambil menyebutkan “Cultural Landscape of Bali Province: The Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy” yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2012 lalu.

Peserta seminar saat berdiskusi (Foto Diah Suthari).

Peserta seminar saat berdiskusi (Foto Diah Suthari).

 Malaysia Tourism

Presentasi kedua dibawakan oleh Mohmed Razip Hassan (Director Communication and Publicity Division Malaysia Tourism Promotion Board) dengan mengeksplorasi topik Promoting Cultural Tourism in Times of Crisis. Malaysia sebagai negara peringkat ke-9 dalam penerimaan jumlah wisatawan setelah mampu mendatangkan lebih dari 27 juta wisatawan mancanegara tahun 2014 juga melakukan promosi terhadap budayanya dengan selogan Malaysia Truly Asia. Strategi pemasarannya memiliki “packaging” yang sangat menarik dengan menonjolkan competitive advantages sebagai destination branding negeri jiran tersebut.

Seperti tahun 2015 ini, tema yang diusung adalah Malaysia Year of Festival dan Malaysia Soul of Asia (link video Malaysia Year Of Festivals 2015 https://www.youtube.com/watch?v=b8PxRSfjJn0 dan Malaysia The Essence of Asia https://www.youtube.com/watch?v=rrUXxqxu74k )

Dr. Neil Khor Jin Keong (Chief Operating Officer Think City, Malaysia), merupakan pembicara ketiga yang membawakan topik menarik mengenai Developing an Economy Based Culture: Some Experiences from the George Town UNESCO WHS. Dr. Neil menyatakan bahwa preservasi budaya hanya dapat dilakukan jika ada economic benefit bagi masyarakatnya.

Sebagai contohnya adalah restorasi kota peninggalan zaman kolonial George Town dengan mengubah rumah tinggal menjadi restauran atau toko souvernir. Saat bernilai dan memberi manfaat ekonomis, maka akan timbul kesadaran masyarakat untuk menjaga kota tua George Town karena di sanalah angsa bertelur emas tinggal.

 Kota Tua Jakarta

Sebagai pembicara terakhir, Danto Sukmajati dari Universitas Mercu Buana Jakarta membawakan presentasi mengenai Urban Heritage Tourism in Kota Tua: Between Preservation and Profit. Danto sedang menyelesaikan studi doktornya di USM, di bawah bimbingan Prof. Badaruddin M.

Dalam presentasinya, Danto menegaskan bahwa Kota Tua yang terletak di ibu kota Jakarta merupakan peninggalan penting budaya Betawi. Saat ini sedang dilakukan preservasi dan penanganan secara serius dari stakeholder terkait sehingga Kota Tua tidak hanya menjadi kota tua kumuh yang lambat laun akan ditinggalkan.

Peserta dari Prodi Kajian Pariwisata, dari kiri: Dr. Widiastuti, Dr. Syamsul Alam Paturusi, Darma Susila, Diah Suthari, Prof. Darma Putra, Devi Rosalina, Diah Sastri, Putu Suhartana,  Gde Brahma, Andre Oktovan.

Peserta dari Prodi Kajian Pariwisata, dari kiri: Dr. Widiastuti, Dr. Syamsul Alam Paturusi, Darma Susila, Diah Suthari, Prof. Darma Putra, Devi Rosalina, Diah Sastri, Putu Suhartana, Gde Brahma, Andre Oktovan.

 Atensi Penuh

Kegiatan seminar diakhiri dengan concluding remarks oleh penasehat panitia, Profesor Badarudin Mohamed di mana kembali ditegaskan bahwa menjadikan budaya sebagai produk pariwisata harus dilaksanakan dengan atensi yang penuh. Budaya lokal yang rentan perubahan, sangat mungkin berubah akibat pariwisata melalui interaksi masyarakat dengan wisatawan.

Oleh sebab itu, diskusi tentang mengelola budaya dalam konteks pembangunan kepariwisataan sebaiknya terus dilakukan sehingga pemahaman mengenai pengelolaan pariwisata budaya yang lebih baik dapat dilakukan pada masing-masing destinasi.***

-Ditulis oleh Putu Diah Sastri Pitanatri (NIM 1491061001), peserta seminar.