Kabar Program Pengabdian: Setelah Pantai Pandawa, Desa Kutuh Siap Luncurkan ‘Gunung Payung Cultural Park’

Pembangunan panggung pementasan di tebing Pantai Gunung Payung untuk pertunjukan kecak atau yang lainnya sebagai bagian dari daya tarik Gunung Payung Cultural Park (Foto Darma Putra)

Pembangunan panggung pementasan di tebing Pantai Gunung Payung untuk pertunjukan kecak atau yang lainnya sebagai bagian dari daya tarik Gunung Payung Cultural Park (Foto Darma Putra)

Setelah sukses mengembangkan daya tarik wisata Pantai Pandawa, masyarakat Desa Kutuh Kecamatan Kuta Selatan membangun aneka daya tarik wisata memikat lainnya. Salah satunya adalah Gunung Payung Cultural Park (GPCP) yang dilabel dengan ungkapan ‘wisata religi penuh sensasi’.

Demikian terungkap dalam diskusi ‘Mendalami Pariwisata Berbasis Masyarakat Pantai Pandawa’ yang diselenggarakan Prodi Magister Kajian Pariwisata Pascasarjana Unud di wantilan Pura Gunung Payung, Jumat, 30 September 2016. Diskusi ini dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian pada Masyarakat Prodi Magister Kajian Pariwisata Pascasarjana Unud di Desa Kutuh.

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi adalah Dr. I Made Wena, Bendesa Adat Desa Kutuh, dan Ir. Anak Agung Raka Dalem,M.Sc. mahasiswa S-3 Pariwisata Unud, dipandu Dr. Ida Bagus Pujaastawa.

Acara yang dipimpin Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Prof. I Nyoman Darma Putra dan Sekretaris Prodi Dr. Syamsul Alam Paturusi itu diikuti 55 mahasiswa. Hadir pula warga masyarakat membuat semarak diskusi.

img_0863

Dari kiri: AAG Raka Dalem, IB Pujaastawa, Bendesa I Made Wena, dan Kaprodi I Nyoman Darma Putra.

Daya Tarik

Pura Gunung Payung terletak di areal tanah desa seluas 15 hektar. Pura yang indah, suci dan hening berlokasi tak jauh di tebing pantai yang mempesona. Di sana sudah berdiri wantilan dan beberapa warung rakyat yang menyediakan minuman segar termasuk kelapa muda dingin.

Daya tarik GPCP adalah perpaduan antara suasana pura, pesona laut, tekstur alam, dan pementasan kesenian senja hari. Di areal itu juga terdapat monkey forest. Daya tariknya sungguh beraneka.

Di sebelah pura kini sedang dibangun stage untuk pementasan tari kecak. Panggung ini indah karena terletak di tebing pantai dan juga mendapat pesona sunset di barat dayanya. Pementasan kecak direncanakan divariasikan dengan sinar laser tiga dimensi sehingga menjadi lebih menarik dan eksotik.

Pura Gunung Payung dan Wantilan yang luas.

Pura Gunung Payung dan Wantilan yang luas.

Monumen dan ‘Pura Walk’

Menurut Bendesa Made Wena, di areal GPCP juga akan dibangun monumen Padma Buana setinggi 30 meter yang membuat daya tarik tempat ini semakin bernilai budaya.

“Monumen ini tak hanya untruk daya tarik wisata tetapi lebih penting adalah sebagai media edukasi kepada masyarakat akan budaya Bali berlandaskan agama Hindu,” ujar Bendesa yang meraih gelar doktor dari Universitas Negeri Jakarta.

Pura Gunung Payung akan dihubungkan dengan tiga pura lainnya di tepi pantai sampai ke Pantai Pandawa yang jaraknya sekitar  2 km. Lorong jalan selebar 2,5 meter itu akan menjadi ‘pura walk’ dengan membelah tebing setinggi 60 meter.  Sekretaris Desa Adat Dr. I Nyoman Tingkat menyampaikan bahwa Pura Walk menyajikan media rekreasi spiritual.

“Warga atau wisatawan bisa melintasi temple walk yang menghubbungkan tiga pura,” ujar Nyoman Tingkat. Ketiga pura itu adalah Pura Gunung Payung, Pura Melang Kelod, dan Pura Penyarikan. Inilah yang disebut dengan jalan eksotik menghubungkan tiga pura.

Menurut rencana, Gunung Payung Cultural Park diresmikan bulan Desember, menyambut hari liburan ramai tiba untuk memberikan arena rekreasi tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Tahun lalu Desa Kutuh khususnya Pantai Pandawa-nya dikunjungi 1,6 juta wisatawan. Pengelola optimistik kunjungan tahun 2016 akan melebihi capaian tahun lalu.

Pantai Pandawa, dibalik tebing tebing eksotik.

Pantai Pandawa, dibalik tebing tebing eksotik.

Mengagumkan

Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Unud Prof. Darma Putra menyatakan kagum atas kemampuan dan prestasi masyarakat Desa Kutuh mengembangkan potensi desa menjadi daya tarik wisata yang memikat. Keberhasilan mereka sangat mengagumkan buktinya tidak saja dari kunjungan wisatawan, kualitas objek yang ditawarkan, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya. Masyarakat mengontrol penuh daya tarik wisata di daerahnya, menurut Darma Putra, adalah salah satu ciri dari commmunity based tourism.

“Ini contoh community based tourism yang dibangun dari bawah dan berhasil luar biasa buktinya mengundang decak kagum banyak pihak,” ujar penyunting buku Pariwisata Berbasis Masyarakat Model Bali (2015) di mana profil model pariwisata berbasasis masyarakat Pantai Pandawa ada dianalisis dalam buku itu.

Desain sampul Gde Aryantha Soethama, foto Dr. Komang Arba Wirawan.

Sampul buku.

Dengan pendapatan dari pengelolaan pariwisata, Desa Kutuh bisa mendanai pembangunan sosial budaya, termasuk memberikan beasiswa bagi warga untuk sekolah dan kuliah.

“Seni budaya juga dilestarikan, lewat penggalian dan pementasan,” ujar Darma. Dia menyarankan agar di Wantilan Pura Gunung Payung bisa dilaksanakan latihan menari setiap akhir pekan seperti halnya di Puri Ubud karena bermakna ganda.

“Anak-anak senang menari sebagai jalan melestarikan seni budaya, aktivitas mereka bisa dinikmati wisatawan,” tutur Darma.

Foto bersama mahasiswa, dosen, dan pengusur Desa Adat Kutuh (Foto Syamsul Alam Paturusi).

Foto bersama mahasiswa, dosen, dan pengusur Desa Adat Kutuh (Foto Syamsul Alam Paturusi).

Dalam program pengabdian masyarakat ini tercetus keinginan dari Bendesa Desa Adat Kutuh untuk melihat kemungkinan kerja sama pengembangan pariwisata antara Prodi S-2 Pariwisata Unud dengan Desa Adat Kutuh.

“Membuat kesepakatan lewat MoU adalah ide bagus, kami akan tindaklajuti,” ujar I Nyoman Darma Putra (dp)