Kabar Alumni: Teringat Tetesan Keringat Menulis Tesis yang Nyaris Tak Rampung

Oleh Altri Tiyar Barunawati, Angkatan 2013

12717937_648512391953342_652318327480716108_n - Copy

Altri (tengah) saat wisuda di Kampus Universitas Udayana, Maret 2016.

Perasaan riang gembira saat melangkahkan kaki kembali di Pulau Dewata, dengan membawa segudang harapan baru setelah dinyatakan lolos seleksi penerimaan mahasiswa dalam Program Studi Magister Kajian Pariwisata, pada angkatan 2013 di Universitas Udayana.

Hingga, ketika memasuki program matrikulasi mata kuliah, pihak Sekretariat Kajian Pariwisata menawarkan program beasiswa Double Degree Indonesia-Prancis (DDIP), dan saya pun beserta sebelas teman lainnya menerima tawaran tersebut.

Lingkungan dan suasana tempat yang nyaman serta teman yang berada dari berbagai daerah, membuat saya dapat beradaptasi lebih cepat. Rasa syukur dan bangga yang menyelimuti hati ketika proses belajar mengajar dimulai, yaa.. setidaknya saya bisa melanjutkan Program Studi Magister (S2) seperti apa yang pernah ibunda saya dapatkan selama ini.

Namun, terkadang manusia merupakan Ciptaan Allah SWT yang tak pernah ada kata sempurna, begitu pula dengan diri ini. Bergulirnya waktu pada saat proses perkuliahan, emosi dan pengendalian diri saya kurang stabil.

Hal itu antara lain dikarenakan padatnya jadwal perkuliahan yang dilaksanakan dari pagi hingga siang, yang kemudian siang hingga sore hari melanjutkan jadwal  kursus bahasa Perancis di Lembaga Alliance Francaise (AF), ditambah dengan berbagai jenis tugas yang diberikan dosen-dosen serta tugas yang diberikan pihak Lembaga Kursus membuat saya harus pintar membagi waktu. Pada saat itu, yang tertanam dalam hati dan pikiran adalah harus menjalankan di setiap prosesnya.

pelepasan-3-mmare-2016-2

Altri keempat dari kiri. Dari kiri ke kanan: Pande Putu Indrayana Tirtayasa, Elizabeth Araujo, Aritiana Kumala Pratiwi, Altri Tiyar, Prof. Darma Putra, Nur Efendi, Saptono Nugroho, dan Nurdin.

Kerja Keras dan Optimistis

Jadwal perkuliahan dan kursus bahasa Perancis pun terus berjalan, saya dan teman lainnya (DDIP) memaksimalkan usaha serta doa.

Suka dan duka telah dirasakan seperti, rasa cape, lelah, ngantuk karna kurang optimalnya porsi tidur di malam hari. Namun, dibalik itu semua saya dan kawan-kawan masih bisa tetap tertawa dan bercanda disela-sela jadwal perkuliahan dan kursus tersebut. Semua yang telah kita lakukan harus dijalankan dengan kerja keras dan selalu optimis dengan apapun yang terjadi.

Pengalaman dan pengetahuan yang mengasyikan semasa mengenyam Program Studi Magister Kajian Pariwisata sangat membekas di benak saya. Pengalaman dan pengetahuan tersebut adalah program studi lapangan yang dilaksanakan baik oleh mahasiswa kelas pagi, DDIP dan kelas sore.

Program studi yang telah dilaksanakan tersebut seperti, studi lapangan yang dilakukan di masa awal perkuliahan ke Desa Sudaji, Kabupaten Buleleng, studi lapangan ke Desa Kertasari, pengabdian masyarakat pada subak di Desa Lod Tunduh Kauh, Ubud, seminar-seminar baik Nasional atau pun Internasional yang diselenggarakan di kampus Pascasarjana Universitas Udayana serta pengalaman dan pengetahuan lainnya di tempat kursus seperti bertemu orang-orang penting yang berasal dari Negara Perancis.

Proses dari sebuah perjuangan yang telah saya jalani dan teman-teman lainnya (DDIP) dalam mendapat Program Beasiswa mendapatkan hasilnya, di mana pihak DIKTI menyatakan bahwa mahasiswa yang berasal dari Magister Kajian Pariwisata yang akan berangkat ke Prancis hanyalah satu orang saja, karena saya dan ke-10 teman lainnya belum cukup memenuhi syarat secara akademik seperti belum terpenuhinya sertifikat kursus B1 ataupun B2 serta skor TOEFL yang masih di bawah rata-rata.

Pada saat itu sempat terselip rasa kecewa yang hadir pada diri saya dan kawan-kawan DDIP yang tidak jadi berangkat ke Negara yang mempunyai ikon wisata menara Eifeel tersebut, karena kami tidak bisa melanjutkan sisa kuliah kami ke negara yang diimpikan dan cita-citakan selama ini.

Namun, kami tetap menanamkan rasa syukur dan sisi positif setelah kejadian tersebut, dimana setidaknya kami telah mendapatkan banyak ilmu dan wawasan karena telah mengikuti kursus di lembaga bahasa Prancis. Selain itu, kami masih bisa tetap melanjutkan studi di Pasca Sarjana Kajian Pariwisata tercinta ini.

Saat tur ke Komodo, 2015.

Saat tur ke Komodo, 2015.

Desa Slangit

Latar belakang Desa Slangit, menghantarkan usulan penelitian saya mengenai pengembangan daya tarik wisata budaya di desa tersebut.

Pengembangan Daya tarik Wisata Budaya Desa Slangit membawa dampak positif bagi saya. Berbagai macam potensi wisata budaya telah saya dapatkan diantaranya, berbagai macam upacara adat yang semuanya melibatkan ritual dan menggunakan tari topeng Cirebon. Pada akhirnya, potensi wisata budaya Desa Slangit dapat mempengaruhi masyarakat lokal terhadap sistem sosial, budaya, ekonomi dan seni.

Pengalaman pada saat penelitian, tidak akan pernah saya lupakan. Lokasi yang lumayan cukup jauh dari pusat kota, membuat saya harus pulang pergi dari tempat tinggal saya ± 2 ½ jam. Terik matahari yang menyengat dan hujan yang deras tidak menyurutkan saya untuk tetap melanjutkan penelitian ini.

Selain itu, terdapat beberapa kesukaran yang saya alami pada saat penelitian. Kesukaran yang saya alami pada saat proses penelitian diantaranya:

Pertama, proses wawancara yang ditujukan kepada beberapa masyarakat lokal, karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang menyebabkan terhambatnya komunikasi atau pada saat proses wawancara tersebut.

Kedua, terbatasnya data-data yang dapat menunjang dalam penulisan laporan tesis ini. Namun demikian, saya sangat senang berada di lingkungan Desa Slangit.

Aparat Desa dan masyarakat lokal yang ada di Desa Slangit menerima saya dengan ramah dan santun. Kesederhanaan mereka membuat saya betah di lingkungan desa tersebut.

Saya sempat menginap di salah satu rumah warga, mencicipi makanan khas desa dan bekeliling untuk melihat potensi wisata budaya Desa Slangit. Potensi wisata budaya yang ada di Desa Slangit itu seperti, upacara tradisi Ngunjung Buyut, Mapag Sri, Sedekah Bumi dan lainnya.

Beberapa Keuntungan

Pada saat penyusunan tesis juga membuat saya mendapatkan hasil yang dapat mendatangkan beberapa keuntungan. Selain dapat mengenal dengan masyarakat dan tokoh adat, saya juga bisa kenal dengan instansi pemerintahan, para pelaku wisatawan yang dapat memperluas jaringan pertemanan dan peluang dalam mencari pekerjaan.

Terima kasih kepada seluruh dosen dan staff pegawai yang telah membantu selama proses perkuliahan serta penyusunan tesis. Meskipun semua proses yang telah dilalui masih jauh dari kata sempurna. Namun hal tersebut telah menjadi kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri apabila kita mampu menyelesaikannya dengan jerih payah sendiri.

Usai ujian tesis, berfoto dengan pembimbing dan penguji.

Usai ujian tesis, berfoto dengan pembimbing dan penguji.

Tetesan Keringat

Yang lebih membanggakan adalah bila teringat masa awal riset dan menulis yang rasanya tesis taka kan kunjung rampiung meski keringat bertetesan terus sambung-sinambung.

Kenangan yang sangat mengesankan tercatat ketika kami bersama kawan-kawan sekampus berkunjung ke Taman Nasional Komodo, yang diakui UNESCO sebagai warisan alam dunia. Kami melihat komodo di alam bebas dan juga bermalam di atas kapal yang mengapung di laut.

Perjalanan ini menambah pengetahuan dan kebanggan atas warisan budaya alam UNESCO yang ada di Tanah Air.