Kabar Alumni: Setelah Sembilan Tahun, Kangen Muncul

Oleh I Nengah Subadra, Angkatan 2004

I Nengah Subadra, Angkatan 2004. Bersama keluarga di London, rekreasi di tengah kesibukan kuliah s-3.

I Nengah Subadra, Angkatan 2004. Bersama keluarga di London, rekreasi di tengah kesibukan kuliah s-3.

Rasa kangen muncul setelah sembilan tahun meninggalkan bangku kuliah di Kajian Pariwisata, Universitas Udayana. Banyak sekali kenangan dan pengalaman yang saya dapatkan selama menempuh program Master bidang Pariwisata di kampus tercinta Universitas Udayana selama dua tahun (2004-2006).

Kenangan yang indah ini tidak hanya disebabkan karena ruangan belajarnya yang nyaman dan letak kampusnya yang strategis di pusat Kota Denpasar, tetapi juga keteladanan para dosen untuk berbagi ilmu kepada saya dan teman-teman seangkatan dan juga ketekunannnya dalam membimbing mahasiswa.

Bimbingan Kritis

Yang tak kalah pentingnya kekritisan para penguji tesis dalam mengekplorasi isinya dan juga saran-saran yang sangat konstuktif untuk dituangkan dalam tesis saya yang berjudul “Ekowisata hutan mangrove dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan: studi kasus di kawasan Mangrove Information Center (MIC), Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar”. Komentar dan kritik mereka membuat saya dapat menghasilkan kajian dan pembahasan yang lebih mendalam.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa usaha-usaha yang dilakukan oleh para dosen di Program Studi Kajian Pariwisata telah terbukti menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing di dunia internasional.

Melanjutkan ke Inggris

Dasar-dasar ilmu dan teori kepariwisataan yang saya dapatkan selama kuliah di Pascasajana Program Studi Kajian Pariwisata, Universitas Udayana terasa kurang cukup bagi saya yang sekarang ini menggeluti profesi sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya, Dalung-Badung.

Oleh karena itu, saya memiliki keinginan yang sangat kuat untuk terus menggali ilmu bidang pariwisata khususnya Pariwisata Budaya dengan melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi agar kelak saya bisa membagikan ilmunya kepada mahasiwa-mahasiswi di Bali yang haus dengan pengetahuan pariwisata.

Kesempatan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk melanjutkan studi di luar negeri tidak saya sia-siakan; dan tentunya saya menggunakan kesempatan tersebut untuk mengasah ilmu saya di University of Lincoln, United Kingdom yang secara khusus mengkaji tentang pariwisata budaya yang selama ini saya anggap belum secara maksimal dibahas oleh kalangan akademisi pada tingkat teoritis atau philosophy.

Pembahasan yang selama ini ada hanya pada tingkatan deskripsi mengenai pariwisata budaya yang tentunya sangat berguna bagi para ilmuwan pemula yang menuntut ilmu di Strata I dan II sebagai pengenalan awal dalam dunia pariwisata.

Namun, kajian deskriptif ini perlu dikaji lebih mendalam pada tingkat pemahaman (understanding) terhadap kekomplekkan (complexity) dari pengembangan pariwisata budaya di Bali yang dilihat dari berbagai perspektif seperti kebijakan, undang-undang, objek dan subyek pariwisata, konsekuensi dan dampak pengembangan pariwisata budaya, dan lain-lain.

Disertasi tentang Pura

Desertasi saya yang berjudul “Preserving the sanctity of temple sites in Bali: challenges from tourism” yang saya ajukan dan pertahankan dalam ujian terbuka (Viva) untuk meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD), secara khusus memberikan pemahaman tentang complexity penggunaan Pura Hindu di Bali khususnya di Pura Tirtha Empul dan Pura Goa Lawah sebagai daya tarik dan atraksi wisata di Bali yang di satu sisi secara ekonomi telah terbukti memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan pelestarian pura-pura tersebut dan juga membantu meningkatkan pendapatan daerah di mana kedua pura tersebut berada.

Namun di sisi lain, keberadaan wisatawan domestik maupun mancanegara yang di dalam pura khususnya di Utama Mandala (bagian tersuci pura) yang pada awalnya didesain secara khusus untuk melakukan kegiatan persembahyangan dan ritual keagamaan lainya yang sekarang ini telah agak mengusik kekhusukan para pemedek (umat hindu yang melakukan persembahyangan di pura) dan juga para pemangku (pendeta) yang sehari-harinya memimpin jalannya upacara keagamaan di pura tersebut.

Dan, bahkan keberadaan wisatawan tersebut telah menui penolakan (resistance) dari umat Hindu yang sama sekali tidak memiliki kepentingan ekonomi terhadap pura tersebut. Hal inilah yang menyebabkan konflik di antara para pihak yang berkepentingan masih terus berlanjut sampai sekarang.

Permasalahan tersebut tidak terlepas dari tidak tepatnya kebijakan yang diterapkan, sistem manajemen pengunjung yang kurang baik, komersialisasi kawasan pura yang terlalu belebihan, kurangnya peran pramuwisata dan juga pusat informasi yang dalam menginterpretasikan pura dan ritualnya yang dijadikan sebagai daya tarik wisata, sehingga mengakibatkan kesalahpahaman (misunderstanding) bagi para wisatawan yang mengunjungi kedua pura tersebut.

Permasalahan-permasalahan tersebut masih perlu dikaji secara lebih mendalam oleh rekan-rekan yang sekarang ini masih menempuh program studi Kajian Pariwisata di Universitas Udayana, baik itu pada tingkat S2 maupun S3.

Pada kesempatan ini saya mengajak Anda semua untuk bersama-sama mengkaji permasalahan pengembangan pariwisata budaya di Bali. Saya secara pribadi siap untuk berbagi ilmu yang saya dapatkan dari University of Lincoln di Inggris dan juga berbagi pengalaman dalam melakukan penelitan, penulisan disertasi yang berstandar internasional.

Teman dari Berbagai Daerah

Kebersamaan juga sangat terasa ketika saya dan teman-teman baik saya yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia seperti Bali (Nengah Wirata, Nyoman Sudiksa, Ida Ayu Tari Puspa, Ida Ayu Puspadiayu, Agus Mahayogi dan Yovie Aryanta), Lombok (Wayan Bratayasa dan Putu Gede), Semarang (Teguh Sutrisno) dan Papua (Jerry Agus Aronggear) mengenyam pendidikan di Program Studi Kajian Pariwisata Unud.

Kami selalu kompak dalam belajar dan juga sangat aktif dalam berdiskusi tentang pariwisata yang tentunya dipandu oleh para dosen seperti Profesor Mardani, Profesor Sirtha, Profesor Pitana, Dr. Darma Putra, Prof Suci, Profesor Dewa Atmaja, Prof Wijaya Kusuma, Dr Madiun, Dr Suradnya, Dr Sukaatmaja, Pak Sunarta, dll.

Kekompakkan juga terasa ketika saya dan teman-teman secara bersama-sama mengikuti kegiatan kuliah penelitian lapangan yang ketika itu dilakukan di dua tempat yaitu Jatiluwih (Tabanan) dan Bagus Agrowisata (Petang-Badung) dalam kurun waktu yang berbeda pula.

Kedekatan saya dengan teman-teman dan juga para dosen yang telah banyak membagi ilmunya kepada saya menggugah hati saya untuk menyapa rekan-rekan seangkatan saya dan juga ingin memperkenalkan diri saya kepada adik-adik angkatan saya yang sudah pasti banyak sekali jumlahnya sekarang ini.

Email Subadra: insubadra@yahoo.com