Kabar Alumni: Kuliah di Bali untuk Membangun Pariwisata Raja Ampat Papua

Oleh Ika Palimbunga, Angkatan 2013

Ika saat wisuda di Univeristas Udayana.

Bahagia tak terkira rasanya setelah lulus dari Program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Kebahagiaan kian bertambah karena tawaran kerja seperti menjadi dosen berdatangan, silih berganti.

Tapi, sebagai orang yang kelahiran Papua, saya berketetapan hati untuk berkontribusi dalam pembangunan pariwisata di Raja Ampat, Papua.

Terima kasih Universitas Udayana yang memberikan bekal ilmu pengetahuan kepariwisataan. Suka-duka kuliah bergulir seperti cerita berikut.

Selembar Tiket Emas

Apalah arti selembar ijazah tanpa pengorbanan, inilah sebuah nilai hidup yang saya dapatkan. Semua hal butuh proses dan pengorbanan. Belajar tentang bagaimana berjuang dan tetap mempertahankan semangat adalah berjuang untuk selembar “tiket emas” untuk masa depan.

Melanjutkan pendidikan di jenjang S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana memang adalah mimpi serta doa saya dan kedua orang tua bahkan sebelum saya lulus sarjana.

Ika (tengah) bersama dosen pembimbing dan penguji tesis.

Memutuskan untuk mengambil jurusan yang berbeda mungkin bukanlah hal yang mudah, karena jurusan S1 saya adalah Sastra Inggris. Meskipun kedua jurusan tersebut masih saling terkait satu dengan yang lainnya, namun tetap saja saya merasa seperti masuk dalam dunia yang baru.

Dunia pariwisata memang sangat menarik untuk didalami dari segala aspek, kemudian menuntunku hingga menetap di Bali dan belajar lagi.

Udayana pantas menjadi pilihan utama

Kenapa mesti lanjut kuliah di Universitas Udayana? Sederet pertanyaan menghampiri.

Universitas Udayana adalah kampus unggulan di Bali yang memiliki tim pengajar yang sangat berkompeten di bidangnya, dosen-dosen dan staf yang sangat ramah dan bersahabat.

Selain itu juga biaya kuliah kuliah yang terjangkau di lengkapi dengan fasilitas kuliah yang mendukung proses belajar mengajar. Saya sangat bangga pernah mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari Magister Kajian Pariwisata Unud.

Belajar tentang banyak hal mulai dari menyesuaikan diri dengan disiplin ilmu yang berbeda, bisa dibilang ini adalah awal yang penuh dengan adaptasi. Beradaptasi dengan ilmu yang baru serta teman-teman yang baru.

Melewati masa perkuliahan yang padat dengan tugas, mengikuti seminar-seminar baik seminar Internasioanal maupun seminar nasional memberikan pengetahuan baru tentang pariwisata. Mengikuti kegiatan seperti pengabdian masyarakat juga memberikan pengalaman yang luar biasa.

Berpose bersama kawan-kawan seangkatan di Prodi Magister Kajian Pariwisata.

Menulis Tesis

Setelah mengikuti perkuliahan yang sangat padat dengan tugas yang datang silih berganti, saatnya menyiapkan diri menulis proposal tesis.

Saya mengajukan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata sebagai topik penelitian. Penelitian ini dilakukan di Desa Wisata Tablanusu, Distrik Depapre Kabupaten Jayapura, Papua.

Saya memilih Desa Tablanusu sebagai lokasi penelitian dengan harapan penelitian ini mampu memberikan kontribusi bagi daerah di Papua yang sedang gencar mengembangkan potensi-potensi pariwisata.

Dalam proses penelitian, saya mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat di Desa Tablanusu. Sungguh, pembelajaran yang membuka mata saya tentang kearifan lokal yang terungkap dari setiap kebiasaan hidup masyarakat. Mereka begitu ramah menyambut kehadiran saya dan sangat membantu selama proses penelitian.

Banyak upaya yang dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menjaga laut dan segala potensi yang ada agar tetap lestari. Adapun upaya yang dilakukan terkait adat yang ada yaitu proses upacara Sasi dan Tiyatiki, yaitu upaya pelestarian potensi laut dengan aturan adat yang melarang mengambil ikan serta segala potensi laut sampai batas waktu yang ditentukan.

Berbaur dengan masyarakat lokal selama melaksanakan penelitian memberikan banyak pengalaman hidup.

Ika (tiga dari kanan) usai acara pelepasan calon wisudawan di Pascasarjana Unud.

 Tawaran Mengajar Berdatangan

Seperti yang dialamin oleh teman-teman lainnya, saya juga merasakan keberuntungan itu. Setelah lulus pada 22 Agustus 2016, saya pun sibuk mengurus persyaratan administrasi untuk wisuda, hingga tepat tanggal 17 November saya di yudisium dan 03 Desember 2016 saya pun diwisuda.

Tawaran mengajar mulai berdatangan bahkan sebelum saya diwisuda. Lulusan Magister Pariwisata memiliki peluang kerja yang cukup besar mengingat makin banyaknya kampus yang membuka program pariwisata.

Tawaran yang datang baik dari universitas negeri dan swasta, berasal dari Bali maupun di luar Bali, seperti Papua yang juga lagi gencar meningkatkan kualitas pariwisatanya.

Bukan hanya itu, tawaran dari kampus di Medan juga sempat menghampiri, begitu mendapat tawaran itu sepintas membayangkan Provinsi Sumatera yang jauh di sana.

Hal ini menunjukkan bahwa alumni Unud, khususnya Magister Kajian Pariwisata memiliki keunggulan yang tak perlu diragukan lagi karena saat ini menjadi incaran utama di dunia pariwisata.

Acara pelepasan adalah moment setelah kami resmi dinyatakan sebagai alumni, pada pelepasan calon wisudawan ke-84 Periode IV pada tanggal 17 November 2016. Rasanya lega setelah menikmati proses yang cukup panjang hingga sampai ke tahap ini. Semuanya baik.

Perasaan bersyukur tak pernah berhenti sampe disitu saja, sangat bersyukur kalo semua proses dapat saya lalui dengan baik. Puji Tuhan.

Dalam perayaan HUT ke-15 S-2 Kajian Pariwisata dan Reuni Alumni 17 Desember 2016.

All about tourism

Seorang pahlawan tidak instan berada di puncak kemenangan, tetapi pasti harus menapaki setiap proses yang ada. Dapat dikatakan saya memulai semuanya dari zero.

Beruntung punya hobby traveling, dari setiap perjalanan saya menemukan banyak hal, bertukar pengalaman hidup dengan orang lain, mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya.

Awalnya saya hanya sekedar menikmati perjalanan ke beberapa tempat wisata di Indonesia, pengalaman-pengalaman tersebut kemudian saya kemas dalam blog pribadi, akhirnya saya tertarik untuk mendalami ilmunya.

Ini bisa dibilang tahap nol, kemudian mendapatkan kesempatan belajar di Universitas Udayana di Magister Kajian Pariwisata dan ini adalah proses untuk meningkatkan kompetensi saya di bidang pariwisata, menuju hero.

Hero bukan saja untuk kepentingan pribadi tetapi terlebih lagi untuk kepentingan bersama. Harapan ke depan yaitu saya dapat berkontribusi buat tanah kelahiran saya, Papua, dalam mengembangkan pariwisata.

Dengan berbekal ilmu pariwisata yang saya peroleh semasa kuliah tentunya dapat menjadi panduan untuk mengembangkan pariwisata di Papua, khususnya di bidang pengembangan kawasan pariwisata yang ramah lingkungan dan juga melibatkan masyarakat lokal dalam segala aspek.

Tur ke Korea bersama mahasiswa S-2 Magister Kajian Pariwisata tahun 2014.

Terima Kasih untuk Guru

Saatnya menyampaikan terima kasih untuk para guru. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Prof. I Nyoman Darma Putra, Dr. Syamsul Alam Paturusi, Prof. M. Sudiana Mahendra, Prof. Dr. Ir. I.G.P Wirawan, Prof. Dr. A.A. Ngurah Anom Kumbara dan Dr. I Made Suradnya yang telah banyak berkontribusi dalam penyelesaian tesis saya.

Terima kasih untuk ilmu serta pengalaman yang telah dibagikan selama saya menjadi karyasiswa. Terima kasih juga untuk segenap staf prodi dan staf dosen yang sangat bersahabat selama saya menempuh pendidikan di Universitas Udayana, Bali.

Artikel ini saya tulis sebagai ungkapan terima kasih kepada almamater saya, Universitas Udayana, sekaligus berbagi kisah pengalaman selama menempuh pendidikan S-2 di Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Bali.

Semoga ilmu serta pengalaman berharga yang sudah saya dapatkan selama menempuh pendidikan bisa diimplementasikan dengan baik dan bisa menjadi saluran berkat di mana pun saya bekerja nantinya.

 Sumber: http://ikapalimbunga.blogspot.co.id/2017/02/selembar-tiket-emas-untuk-papua.html