Kabar Alumni: Kesempatan dan Pengalaman Berharga Kuliah di S-2 Kajian Pariwisata Unud

 Oleh Putu Devi Rosalina, Angkatan 2014

Seminar Medical Tourism, penulis nomor dua dari kanan.

Masa kuliah dua tahun (2014-2016) di S2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana terasa begitu cepat. Mungkin karena selama itu saya menikmati dan mendapatkan banyak hal baru; menikmati dan mendapatkan banyak hal berharga.

Selama dua tahun itu, saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman berharga, mulai dari terbukanya pemikiran baru mengenai pariwisata di Bali dan dunia, mendapatkan teori pariwisata dari dosen-dosen terbaik, dikelilingi teman-teman sekelas yang sudah professional di industri pariwisata, sampai juga pertama kalinya menjadi pembicara di kampus serta berkesempatan mengunjungi daya tarik wisata di dunia. Semuanya berkat kuliah di Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Double Degree

Pilihan saya untuk mengambil S2 Kajian Pariwisata adalah karena saya merasa perlu untuk semakin memperdalam pengetahuan tentang pariwisata sesuai dengan tempat saya bekerja, yakni Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional.

Lingkungan kerja tersebut yang mendorong saya untuk harus tahu lebih banyak tentang dunia pariwisata, terlebih karena S1 saya bukan tentang pariwisata, melainkan Sastra Inggris.

Hal lain yang menambah minat saya ketika mendaftar waktu itu adalah adanya kegiatan study tour yang disertakan dalam kurikulum, serta program beasiswa Double Degree ke Prancis.

Selain itu, tidak hanya dari segi mata kuliah tetapi juga dari profesionalitas dosennya yang mumpuni dalam bidang pariwisata serta sektor lainnya yang bersinggungan, seperti budaya, hukum, ekonomi, sosiologi dan sumber daya manusia.

Usai kuliah umum dari Prof. Dr. I Gde Pitana, M.Sc.

Study Tour

Saat perkuliahan dimulai, saya menemukan banyak pengetahuan dan pengalaman yang baru. Kami tidak hanya duduk belajar di kelas untuk membahas pariwisata secara teori mengambil jurnal nasional dan internasional, tetapi kami juga diberikan kesempatan melihat langsung prakteknya, mengamati, menanggapi serta menganalisis apa yang terjadi di lapangan.

Study tour pertama kalinya adalah di Desa Jatiluwih yang merupakan bagian dari UNESCO World Heritage Site. Kami juga diberikan kesempatan untuk melihat sekeliling dan berdialog langsung dengan masyarakat dan perangkat desa, sehingga bisa dengan lebih jelas melihat bagaimana ketika teori pariwisata tersebut diimplementasikan.

Study Tour ke Desa Jatiluwih, bagian dari warisan budaya dunia UNESCO.

Kegiatan menarik lainnya adalah saat mengikuti seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Universiti Sains Malaysia dan Sustainable Tourism Research Cluster di Penang. Seminar ini membahas tentang Managing Cultural Tourism: Issues and Challenges dengan membahas mengenai budaya dalam kepariwisataan, di antaranya: Bali dengan Subaknya, Jakarta dengan Kota Tuanya, Penang dengan George Town-nya, serta kemudian membahas pariwisata budaya Malaysia secara umum.

Melalui seminar ini, kami juga banyak mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana memaksimalkan budaya sebagai pendongkrak perkembangan pariwisata. Saat study tour ke Malaysia tersebut, kami juga tidak melewatkan kesempatan untuk berkeliling Singapura saat transit ketika akan pulang ke Bali (Selengkapnya di: http://tourism.pps.unud.ac.id/singgah-di-changi-dimanja-bagai-raja.html).

Seminar di Universiti Sains Malaysia, Penang. Penulis nomor 4 dari kanan.

Selain seminar, kajian pariwisata Unud juga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuannya. Kebetulan saat itu, saya beserta tiga teman lainnya ditunjuk kelas untuk menjadi pembicara dalam seminar yang kami selenggarakan bertema “Membuka Pintu Pengembangan Medical Tourism di Bali” (Selengkapnya di: http://tourism.pps.unud.ac.id/peluang-bali-membuka-pintu-medical-tourism.html).

Selain saya, pembicara lainnya adalah I Wayan Suteja, Gde Bagus Brahma Putra, dan Diah Sastri Pitanatri sebagai moderator. Seminar ini diprakarsai oleh dosen S-2 Kajian Pariwisata Prof. Made Sukarsa, dihadiri Dekan Fakultas Pariwisata Unud Drs. I Made Sendra, M.Si diikuti kalangan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 serta akademik di lingkungan Unud.

Kemudian, pengalaman yang paling berharga bagi saya adalah ketika saya berhasil mendapatkan beasiswa DDIP di University of Angers. (Selengkapnya di: http://tourism.pps.unud.ac.id/surat-dari-perancis-ddip-yang-berawal-dari-mimpi.html) Banyak teori pariwisata yang saya pelajari terutama bagaimana perspektif orang Prancis mengelola pariwisatanya.

Saya juga bisa melihat langsung bagaimana Eropa mengemas pariwisatanya menjadi kian menarik, sekaligus mengobservasi strategi marketingnya sebagai magnet yang mendatangkan jutaan wisatawan.

Saat Kuliah di University of Angers, Perancis.

Publikasi

Kesempatan saya untuk studi di Angers juga membuka kesempatan lainnya yakni untuk pertama kalinya saya ikut menulis dalam buku yang diterbitkan berskala internasional. Buku yang berjudul “Tourism in Bali: A Means of Sustainable Development?” tersebut masih dalam proses editing dan akan segera dipublikasikan.

Beruntung, saya diberi kepercayaan oleh pembimbing saya, Dr. Sylvine Chevalier-Pickel, untuk menulis mengenai pariwisata Bali Utara. Tulisan tersebut dirangkum dari tesis saya dan dibimbing pula oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt.

Akhir kata, rasa terima kasih dan puji syukur yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh civitas akademika Kajian Pariwisata Universitas Udayana yang telah membimbing saya sehingga kini berhasil mendapatkan gelar M.Par.

Pencapaian ini merupakan suatu perjuangan dan apresiasi yang sangat luar biasa. Terima kasih.