Kabar Alumni: Kenangan Tour ke Perth dan Melbourne Angkatan 2008

Oleh Putu Sucita Yanthy, Angkatan 2008

DSCN8876

Berkunjung ke Konsulat Jenderal Indonesia, Melbourne. Penulis (nomor 3 dari kiri), sedangkan Prof Sirtha (lima dari kiri) dan Pak Sunarta (tujuh dari kiri).

Siapa sangka, mata kuliah traveling pada semester ketiga memberi pengalaman luar biasa buat saya dan teman sekuliah Angkatan 2008. Memasuki semester ketiga, kami mulai disibukkan dengan mempersiapkan calon tesis. Kami harus mulai memilih topik, teori, konsep dan lain-lain. Ke urusan tesis-lah fokus perhatian kami.

Akan tetapi, mata kuliah traveling yang dilaksanakan semester ke-3 tak kalah menarik fokus perhatian. Kami harus berdiskusi dengan teman sekelas, mulai dari menentukan destinasi, tiket pesawat, dan akomodasi dipertimbangkan dengan baik. Pertimbangan pada saat itu adalah tiga destinasi Australia, Singapura-Malaysia, dan Tanah Toraja.

Namun, pada akhirnya keputusan saya jatuh pada negeri kangguru Australia. Kegiatan traveling dilakukan pada tanggal 1-7 Oktober 2009 dengan mengunjungi negara bagian Australia Barat (Perth) dan Victoria (Melbourne).

Tur diikuti oleh 16 orang di antaranya 2 dosen yaitu Prof Sirtha dan Pak Surnarta, 8 orang mahasiswa dan 6 orang pendamping. Paket perjalanan wisata diatur oleh Satriavi Leisure Management Tour and Travel.

Pukul 08.00 wita tanggal 1 Oktober 2009, kami sudah berkumpul di Bandar Udara Ngurah Rai, keberangkatan Internasional. Bagasi, paspor dan tiket telah lengkap dan tiba saatnya masuk boarding gate, dan take off menuju Perth pada pukul 10.20 wita dengan pesawat GA 724. Waktu tempuh selama 3,5 jam penerbangan karena tidak ada perbedaan waktu antara Perth dan Denpasar rasanya aman tidak perlu sering-sering melirik jam tangan.

Pada pukul 13.33 waktu setempat tiba di Perth Internasional Airport dan langsung menuju King’s hotel, menurut tour leader setelah sampai hotel harusnya beristirahat, tapi sayang sekali sudah jauh-jauh terbang dari denpasar hanya berdiam diri di kamar.

Saya lalu putuskan untuk ikut ajakan teman berkeliling menikmati suasana Perth yang udaranya semakin dingin. Beruntungnya, malam itu saya habiskan waktu menikmati suasana pasar malam dan pesta kembang api sekaligus temu kangen bersama seorang teman baik.

Kunjungan ke Universitas

Angkatan 2008 saat berkunjung ke Curtin University, Perth.

Angkatan 2008 saat berkunjung ke Curtin University, Perth.

Hari kedua di Perth, udara masih saja dingin tapi terbayar dengan warna-warni bunga yang mulai bermekaran. Pagi-pagi suasana sempat menegang karena kunjungan ke Konsulat Jenderal Indonesia di Perth. Sebelumnya kunjungan dijadwalkan agak siang ternyata menjadi lebih awal sehingga beberapa dari kami tidak bisa ikut termasuk saya.

Sambil menunggu saya mempersiapkan bahan presentasi yang akan didiskusikan pada kunjungan ke Murdoch University. Usai sarapan, perjalanan langsung menuju Curtin University.

Sambutan hangat oleh staff yang dengan senang hati menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan, begitu pula ketika berkeliling suasana belajar sungguh kental. Fasilitas belajar yang super wow baik perpustakaan, ruang kelas, sampai kantinnya menimbulkan motivasi untuk menimba ilmu di negeri kangguru ini.

Foto bersama didepan Curtin University. Pak Sunartha, ibu Ayu, Yanthy, Leli, Sugi, Prof. Sirtha, ibu soka, Redi, Tirta

Setelah puas berkeliling di Curtin University, tiba saatnya melanjutkan perjalanan ke Murdoch University di sana saya kali pertama bertemu dengan Prof. Carol Warren dan Dr Dyane Lee.

Mereka berdua sungguh antusias akan kedatangan dan diskusi yang kami lakukan di sana. Saya mempersiapkan peresentasi tentang Tanah Lot dan Jati Luwih berduet dengan Tinong Maharde. Kami menyampaikan potensi dan kendala pengembangan kawasan tersebut.

Akhir diskusi ada sesi foto bersama dan menyerahkan cinderamata sebagai kenang-kenangan kunjungan karyasiswa Program Studi Magister Pariwisata angkatan 2008.

Setelah itu saya kembali ke hotel dan pada malam hari saya serta beberapa orang teman memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan karena memang lokasi hotel dipusat kota jadi tidak sulit untuk kami menemukan toko souvenir.

Ketika asyik menikmati suasana kota Perth, saya dikejutkan oleh beberapa orang Indonesia yang mengenakan batik, benar karena tanggal 2 Oktober 2009 batik ditetapkan sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible heritage of Humanity oleh UNESCO. Kami pun selama kunjungan ke Curtin dan Murdoch mengenakan busana Batik.

Foto bersama Tinong, Laksmi, Ibu Soka (Istri Prof. Sirtha), Prof Carol Warren, Dr Diane Lee, Redi

Foto bersama Tinong, Laksmi, Ibu Soka (Istri Prof. Sirtha), Prof Carol Warren, Dr Diane Lee, Redi

Hari ketiga, fullday Tour di Perth

Sebelum berangkat tour, kami sudah menyiapkan tour sendiri yang direncanakan semalam sebelum tidur. Pagi itu, saya bangun lebih awal dan secepatnya menyelesaikan sarapan.

Keluar hotel dan menyusuri jalanan yang masih sepi. Berbekal informasi dari reseptionis yang bertugas pada malam sebelumnya. Saya mantapkan langkah untuk mencari Swan Bell.

Swan Bell berdiri sejak Desember tahun 2000, tinggi 82,5 meter terletak dibarat Swan River. Terdapat 18 buah bell dari seluruh dunia tak banyak yang bisa dilakukan karena menara lonceng ini belum buka. Tetapi, kesempatan tak terbuang percuma saya sempat berfoto di luar menara.

Setelah itu, saya kembali ke hotel karena jadwal tur dan bus sudah siap mengantar kami mengunjungi King’s Park. King’s Park Botanical Garden, Luas 400 hectare daya tarik King’s Park adalah monumen Hill, Elevated Glass Walkway, Panorama kota Perth dan tanaman Ecalyptus.

Luas King’Park tak menyurutkan semangat untuk mengelilinginya dari utara hingga barat berbagai jenis tumbuhan tumbuh bebas dan subur. Selanjutnya perjalanan menuju Lake Monger. Pada tahun 1900-an terbentuklah sebuah danau yang semula adalah lahan basah yang kemudian terisi penuh air dan menjadi tempat rekreasi yang menarik seperti piknik, memancing dan berenang. Sempat sekitar tahun 1905-1963 Lake Monger menjadi tempat pembuangan sampah.

Selain itu Lake Monger sampai saat ini masih digunakan oleh Suku Aborigine untuk melaksanakan tradisi-tradisi mereka, kawasan Lake Monger ini merupakan kawasan konservasi, yang dalam perkembangannya adalah untuk meningkatkan kualitas air, keseimbangan ekosistem, dan sebagai tempat untuk beristirahat. Di Lake monger kita juga dapat menemukan angsa hitam yang merupakan spesies burung asli Perth.

Menara Lonceng Perth Swan bell

Menara Lonceng Perth Swan bell

Pasar Tradisional

Jalan-jalan berikutnya ke Fremantle Market, merupakan pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari seperti buah-buahan, sayuran, daging dan bumbu-bumbu masak.

Toko souvenir dan barang-barang kuno pun juga bisa kita temukan disini. Fasilitas terutama toilet yang sangat membuat saya terkesan karena ditengah pasar tradisional ini saya menemukan toilet dengan keadaan yang sangat baik jika dibandingkan dengan pasar tradisional yang ada di Bali.

Selain itu terdapat suguhan atraksi menarik dari penduduk lokal seperti tarian dan lantunan tembang negeri koala.

Usai dari Fremantle lanjut santap malam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara karena penerbangan berikutnya menuju Melbourne pukul 23.35 tiba 06.10 dengan penerbangan QF 646.

DSC_6187

Buah-buah segar dan tooko Antik di Fermantle market

Buah-buah segar dan tooko Antik di Fermantle market

Sightseeing Melbourne

Kami tiba di Tullamarine Airport Melbourne pukul 06.10 pagi, perbedaan waktu dengan Denpasar adalah 2 jam. Nah di sini saya mulai perhatian dengan jam tangan. Mata masih mengantuk, sambil berlari-lari kecil keluar dari bandara dengan suhu yang luar biasa dinginnya 15C informasi terakhir sebelum turun dari pesawat. Sarapan sudah, lalu halfday sightseeing tour dikota Melbourne, mengunjungi Eureka Skydeck bangunan 88 lantai.

Di sini uji keberanian untuk sampai pada level 88 lalu masuk kedalam sebuah ruang kaca yang nantinya akan bergerak menjorok keluar. Melihat ke atas adalah langit, sekelilingnya gedung-gedung yang hampir sama tinggi dan ketika pandangan dialihkan kebawah arus lalu lintas kota tampak jelas.

Lumayan uji nyali, bagi yang phobia ketinggian siapkan diri dengan baik sebelum mencoba atraksi ini. Senang sekali tapi mulai terasa letih dan mengingat sedari pagi belum mandi, setelah makan siang lalu meluncur menuju Collins Hotel.

Antri tiket masuk Eureka Skydeck Melbourne

Antri tiket masuk Eureka Skydeck Melbourne

Lanjut hari kelima saya mengunjungi Captain Cooks, photo stop di Palement house, mengunjungi The Shrine of Remembrance dan The South Bank. Usai lunch berkunjung ke St.Patrick’s Cathedral dan dilanjutkan dengan kunjungan ke Konsulat Jenderal Indonesia di Melbourne.

Acara tidak berlangsung lama setelah sambutan dan diskusi lalu foto bersama. Uniknya, ketika saya ijin ke toilet satu benda yang sulit saya temukan baik di Perth dan Melbourne adalah gayung. Ya, ditoilet ini ada gayungnya senang sekali seperti menemukan harta karun. Ciri khas orang Indonesia, karena sulit menerima fungsi tisu ketimbang fungsi gayung tersebut.

The Shrine of Remembrance. Dari kiri Pak Sunarta, Ibu Ayu (istri Pak Sunarta), Laksmi, Yanthy, Leli, Prof Sirtha, Ibu Soka, Ibu Sari, Pak Ismoyo, Sugi, Kris

The Shrine of Remembrance. Dari kiri Pak Sunarta, Ibu Ayu (istri Pak Sunarta), Laksmi, Yanthy, Leli, Prof Sirtha, Ibu Soka, Ibu Sari, Pak Ismoyo, Sugi, Kris

Detik-detik LiburanBerakhir

Acara bebas artinya bebas kemana saja, saya memutuskan untuk mencoba transportasi kota melbourne gratis yaitu trem; kereta api tradisional yang sudah dibantu dengan listrik untuk menjalankannya.

Naik turunnya gratis karena trem tersebut akan berhenti pada pusat-pusat perbelanjaan dan atraksi di kota Melbourne. Cuaca agak kurang mendukung jalan-jalan dihari terakhir tour kota Melbourne. Hanya dalam satu jam cuaca dapat berubah, sebentar dingin lalu mendadak panas kemudian diguyur hujan. Untungnya selalu cek ramalan cuaca jadi jalan-jalannya bisa dilanjutkan.

Rabu 07 Oktober 2009 hari terakhir di Melbourne adalah hari dimana saya harus kembali ketanah air dengan penerbangan GA 719 dari Melbourne menuju Denpasar. Perth sampai Melbourne adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri, awalnya hanya mimpi ingin berjumpa sahabat ternyata melalui program traveling ini saya dapat banyak hal. Bertemu sahabat lama adalah bonus buat saya, belajar dan bertemu sahabat baru adalah nilai plus dari mata kuliah ini.

Jatuh Cinta pada Negeri Kangguru

Sepulang dari Australia, sepertinya saya telah jatuh cinta pada kota Perth. Sepanjang tahun selalu ada doa kecil agar bisa kembali lagi.

Harapan untuk kembali pun ternyata bersambut, November 2014 saya berkesempatan berangkat ke Perth lagi untuk ikut seminar international yang diselenggarakan oleh International Tourism Studies Association (ITSA) bersama Sriaryanti dan Irma Rahyuda yang juga alumni program S2 pariwisata. Silahkan klik link ini untuk informasi kegiatan ITSA 2014 http://intltourismstudies.com/programs-services/perth-conference/

Penulis (paling kanan) bersama teman-teman saat konferensi ITSA di Perth

Penulis (paling kanan) bersama teman-teman saat konferensi ITSA di Perth

Email: putusucitayanthy@yahoo.com