Kabar Alumni: Empat Manfaat Penelitian Lapangan

Oleh I Gede Gian Saputra, Angkatan 2013

Pesona Gunung Batur yang dikembangkan menjadi Geopark, yang jadi topik penelitian (Gian Saputra).

Pesona Gunung Batur yang dikembangkan menjadi Geopark, yang jadi topik penelitian (Foto-foto Gian Saputra).

Masih terasa di benak saya dua tahun lalu (2013), pada saat melakukan penelitian untuk skripsi. Sulitnya bukan main, namun syukurlah tantangan itu bisa saya rampungkan.

Tahun 2015, saya kembali harus melakukan penelitian. Kali ini untuk menyusun tesis, syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana. Tesis lebih tinggi tingkatannya daripada skripsi. Lebih sulit, tentunya.

Namun, berdasarkan pengalaman saya, ada banyak berkah luar biasa yang menanti untuk dinikmati setelah penelitian terlewati.

Tulisan tentang pengalaman riset di Batur Global Geopark Kintamani, kampung saya sendiri, saya akhiri dengan memaparkan empat manfaat melaksanakan penelitian lapangan.

Target Penyelesaian

Berbekal pengalaman meneliti pada saat menyusun skripsi, saya berpikir bahwa meneliti tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dalam artian, pada waktu meneliti kita harus memiliki semacam pedoman atau perencanaan yang jelas kapan target penelitian ini bisa terselesaikan.

Saat itu, saya mulai menyusun ide-ide yang terkait dengan pariwisata dan menulis tema-tema yang saya minati. Tanpa minat kita untuk meneliti suatu masalah, sulit penelitian itu bisa diselesaikan.

Namun, yang terpenting menurut saya ketika memulai untuk menyusun tesis adalah, jangan sampai kita jauh dari lingkungan kampus. Di kampus kita bertemu dengan banyak orang, sehingga ini akan memotivasi kita untuk segera menyelesaikan kewajiban yang memang kita cari kedunia kampus.

Apalagi di saat ditanya “bagaimana tesisnya?” atau melihat teman seangkatan sudah bisa maju ujian, tentu kita tidak mau ketinggalan. Jadi sering-seringlah kekampus, minimal datang ke perpus atau bertemu dosen untuk sekedar berdiskusi akan sangat membantu terselainya tesis.

Usai ujian tesis, dengan penguji (dari kiri): Dr. Sukma Arida, Dr. Nyoman Madiun, Prof. Darma Putra, penulis, dan Dr. Made Adhika.

Usai ujian tesis, dengan penguji (dari kiri): Dr. Sukma Arida, Dr. Nyoman Madiun, Prof. Darma Putra, penulis, dan Dr. Made Adhika.

Memilih Tema dan Lokasi

Merumuskan masalah penelitian merupakan langkah awal yang penting untuk bisa menyusun tesis. Masalah dalam penelitian bisa dijumpai dalam keseharian kita atau pada penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. 

Karena saya bekerja di industri perjalanan wisata, sering kali saya berkunjung ke Kintamani untuk mengantar wisatawan yang ingin menikmati suasana alam pegunungan ketika berlibur di Bali.

Selain sering berkunjung, saya juga lahir di Kintamani sehingga cukup banyak permasalahan yang saya lihat terjadi. Saat ini di Kintamani dikembangkan suatu konsep yang berasal dari negara-negara di Eropa dikenal dengan nama “geopark”.

Sebenarnya konsep ini sangat baik bagi keberlanjutan pariwisata di Kintamani, sehingga hal ini pula yang menyebabkan UNESCO mau untuk ikut memfasilitasi pengembangan geopark di seluruh dunia dan di tahun 2012, Kintamani berhasil masuk menjadi anggota global geopark network pertama di Indonesia.

Namun, yang menarik adalah sudah tiga tahun berjalan, tidak banyak orang yang mengerti atau tahu apa itu geopark, bahkan di kalangan pemerintah sendiri. 

Sering beberapa teman guide bertanya apa sebenarnya geopark, karena ketika tamu bertanya kepada guide, yang menjadi jawaban adalah Gunung Batur.

Hal ini wajar, mengingat nama geopark di Kintamani adalah Batur Global Geopark. Padahal jelas, geopark tidak hanya tentang Gunung Batur. Bahkan, beberapa masyarakat di luar Desa Batur sempat merasa tersingkirkan. 

Sebagai contoh di wilayah Kintamani terdapat pula Gunung Abang yang tidak terlihat dari penamaan Batur Global Geopark, serta banyak lagi masalah lainnya. Dari kasus inilah, akhirnya saya memutuskan untuk memilih tema respon stakeholder pariwisata di Kintamani terkait adanya geopark.

IMG_3471

Geopark Batur Kintamani

Proses Bimbingan

Saya bersyukur dalam proses penyusunan tesis ini banyak pihak telah membantu sehingga walaupun dengan usaha yang cukup berat tesis ini akhirnya rampung. 

Saya sangat berterimakasih kepada para pembimbing Pak Prof. Darma Putra dan Pak Dr. Sukma Arida yang telah berkenan meluangkan waktu dan memberikan banyak ilmu selama proses bimbingan berlangsung baik bertemu langsung, bimbingan via email bahkan bimbingan via chatting whatsapp.

Pembimbing saya adalah inspirasi dalam meneliti karena nama besar mereka telah saya ketahui walaupun dahulu masih hanya bisa saya lihat dalam buku. Ketika proses bimbingan berjalan saya selalu semangat menjalaninya.

Pada saat pengumpulan data di lapangan, awalnya saya hampir menyerah karena banyaknya data dan luasnya cakupan penelitian yang terkadang saya berpikir akankah ini terselesaikan. Namun, saya ingat apa yang saya mulai harus saya selesaikan, saya berusaha semaksimal mungkin dengan dibantu para narasumber yang baik hati dan responden yang sangat loyal yang mau secara sukarela ikut memberikan informasi yang mereka punya terkait geopark di Kintamani.

Beruntungnya saya bertemu dengan Mbak Eva seorang mahasiswa doktor di Jepang yang kebetulan sedang meneliti di Bali. Saya belajar banyak darinya. Pada penelitian ini, saya menyebarkan 100 kuesioner kepada wisatawan, melakukan wawancara kebeberapa narasumber yang terkadang sangat susah untuk bertemu, melakukan diskusi grup terfokus dengan masyarakat lokal Kintamani yang berada di tiga desa, di antaranya Desa Catur, Desa Batur Selatan, dan Desa Songan.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika melakukan diskusi grup terfokus secara serius di kampung sendiri. Ada perasaan malu karena harus berbicara serius di depan masyarakat yang saya kenal pada suatu acara pertemuan khusus dan ada pula perasaan bangga karena setidaknya saya berkontribusi untuk kemajuan daerah saya minimal membuka wawasan masyarakat dengan isu kepariwisataan yang sedang terjadi. Akhirnya berkat dukungan dari semua pihak, semua proses itu saya lalui dan selesai.

Wisatawan yang berkunjung ke Kintamani, di sana juga ada Geopark.

Wisatawan yang berkunjung ke Kintamani, di sana juga ada Geopark.

Empat Manfaat Riset

Saat ini baru saya sadar kenapa universitas menjadikan penelitian sebagai tugas akhir dan syarat bagi kelulusan mahasiswa. Setidaknya ada empat manfaat pengalaman penelitian lapangan.

Pertama, ketika melakukan penelitian kita berusaha untuk memahami suatu kondisi secara menyeluruh. Memandang fenomena (permasalahan) yang terjadi dalam masyarakat akan terasa berbeda ketika kita hanyut di dalam suasana tersebut dan pada saat meneliti terkadang kita harus lepas dari situasi dengan melihat fenomena dari luar. Hasilnya, dari hal ini kita bisa mendapatkan cara pandang dari dua sisi yang berbeda, bisa dari dalam permasalahan ataupun dari luar sebagai orang yang mengamati.

Kedua, ketika meneliti, kita sedang melatih cara pandang kita terhadap kehidupan yang akan terus kita jalani. Mulai dari latar belakang permasalahan, kita mengetahui penyebab suatu fenomena, kemudian merumuskan inti permasalahan, sehingga kita tahu apa yang menjadi tujuan dan manfaat dari kegiatan yang kita lakukan.

Keyakinan saya setelah pernah melakukan penelitian adalah apapun permasalahan yang terjadi pasti ada solusinya. Dalam penelitian, hal ini terus dilatih. Kita belajar mencari latar belakang, merumuskan masalah, tujuan, membahas masalah, membuat kesimpulan dan terakhir adalah mencari solusi dari permasalahan itu. Inilah yang menyebabkan ketika meneliti, sebenarnya kita belajar untuk membentuk paradigma kita agar siap menghadapi kehidupan nyata nantinya.

Ketiga, penelitian ini merupakan serangkaian proses mendapatkan banyak teman, tokoh, dan networking. Teman dan tokoh itu adalah narasumber yang bisa memberikan informasi. Kita bisa memilih siapapun yang ingin kita temui agar bisa memberikan informasi yang kita butuhkan dalam penyelesaian penelitian.

Tentu hal ini tidak mudah, namun saya melakukannya dengan penuh semangat. Hasilnya saat ini banyak peluang saya dapatkan setelah melakukan penelitian. Saya bisa kenal dengan instansi pemerintahan, para pelaku pariwisata, tokoh dan masyarakat adat, dan juga wisatawan dari berbagai negara. Intinya meneliti membuat kita memiliki teman baru dan bisa menambah jaringan

Keempat, proses penelitian melatih kita belajar berkomunikasi, dan belajar etika ketika akan membuat janji dengan berbagai orang yang berasal dari latar serta cara pandang yang berbeda. Pengalaman bergaul ini merupakan bonus sosial dari proses penelitian.

Jadi, saya berharap kepada teman-teman yang sedang menjalani proses ini, nikmatilah dengan sungguh-sungguh karena ini adalah proses penting yang harus dilalui. Jangan pikirkan sulitnya meneliti, tapi ingatlah ada berkah yang menanti ketika meneliti terlewati.

Email: giansukses78@gmail.com