Kabar Alumni: Cicip Minuman Beras Merah Saat ‘Study Tour’ ke Jatiluwih

Oleh Putu Sucita Yanthy, Angkatan 2008

Mahasiswa Kajian Pariwisata Angkatan 2008 menjelang study tour ke Jatiluwih dan Strawberry Farm di Bedugul.

Mahasiswa Kajian Pariwisata Angkatan 2008 menjelang study tour ke Jatiluwih dan Strawberry Farm di Bedugul.

Pagi-pagi sekali, pukul 06:00, suatu hari di tahun 2008, kami sudah berkumpul di depan gedung Pascasarjana kampus Unud Sudirman untuk sembahyang bersama dan melakukan persiapan perjalanan studi lapangan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Dua tujuan study tour waktu itu adalah hamparan persawahan indah Jatiluwih dan kebun strawberry di Bedugul. Ini adalah study tour kedua setelah sebelumnya kami ke agrowisata Bagus Agro di Pelaga, Badung Utara.

Mobil sewaan parkir dengan rapi dan siap mengangkut kami semua. Setelah doa bersama, oleh Prof. I Nyoman Sirtha dan Drs. Nyoman Sunarta, Ketua dan Sekretaris Prodi Magister Pariwisata periode tersebut, kami dibekali informasi dan tata tertib yang harus kami patuhi selama perjalanan sampai tempat yang dituju.

Jatiluwih nan luwih

Perjalanan studi lapangan ke Jatiluwih yang terletak dikabupaten Tabanan sungguh menyenangkan. Daerah persawahan Jatiluwih dengan luas sekitar 303 hektar saat itu baru saja dinominasikan sebagai warisan Budaya yang ditetapkan oleh UNESCO. Nominasi ini membuahkan hasil tahun 2012, persubakan ini masuk sebagai bagian dari warisan budaya dunia UNESCO dengan daerah lainnya di Bali dalam label “Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy”.

Informasi Jatiluwih sepenuhnya kami peroleh dari diskusi dengan para dosen, pejabat setempat dan Agus Muriawan yang ternyata kini menjadi rekan dosen semenjak saya mengabdi sebagai tenaga pendidik di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Penjelasan yang tercatat oleh saya pada waktu itu tentang Jatiluwih adalah tiga potensi yang menjadi pondasi kuat kawasan ini tetap lestari, yaitu pahrahyangan (aspek ketuhanan), pawongan (aspek Sosial kemanusiaan), palemahan (aspek lingkungan). Potensi-potensi tersebut adalah potensi parahyangan seperti Pura Luhur Petali beserta kegiatan ritualnya, Tari Sang Hyang Memedi (Tari sakral) dan Menara Jepang.

Potensi pawongan seperti aktivitas petani mengolah sawah mulai dari nampadin (merapikan pematang), ngelampit (membajak), melasah, nandur (menanam padi), manyi (panen), negen padi kelumbung, dan nebuk (menumbuk).

Potensi pelemahan tidak diragukan lagi hamparan sawah yang berterasering, perkebunan, hutan dan pegunungan yang menjadi kenggulan Jatiluwih. Kelestarian Jatiluwih tetap terjaga karena masyarakat memegang teguh kepercayaan bahwa melakukan pujawali di Pura Luhur Petali, mengadakan pengaci ke hutan, Danau Tamblingan dan sawah pada waktu dan hari yang sudah ditentukan.

Beli beras merah Jatiluwih untuk oleh-oleh.

Beli beras merah Jatiluwih untuk oleh-oleh.

Pisang Goreng

Hal lainnya yang menarik adalah saat kami disuguhkan pisang goreng dan minuman beras merah cendana hangat, rasanya sungguh nikmat apalagi udara saat itu sangat dingin.

Pada saat rehat diskusi, kami satu sama lain juga saling bercerita dan berbagi canda yang menambah kedekatan kami sebagai kawan seperjuangan.

Foto: Membeli beras merah cendana untuk oleh-oleh pulang ke Denpasar

Next Stop Strawberry Stop

Perhentian kedua setelah puas menyaksikan keindahan alam Jatiluwih adalah strawberry stop. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah hamparan luas kebun strawberry dan memetik buahnya tanpa henti.

Setibanya di sana, kami disambut hangat oleh pengelola dan langsung mengantar kami untuk melihat sekeliling sebelum acara ramah tamah dimulai. Strawberry stop adalah zona pengembangan buah strawberry dan berbagai tanaman hias.

Memetik strawberry di daerah Bedugul.

Memetik strawberry di daerah Bedugul.

Terletak di kawasan Candikuning, Tabanan, dan dikembangkan sebagai agrowisata dengan potensi buah strawberry organik.

Senang rasanya, walau tempat ini tak seluas apa yang kami bayangkan sebelumnya. Tidak hanya strawberry kami juga diperkenalkan pada beberapa jenis tanaman hias yang dibudidayakan pada tempat ini. Masih terkenang, pada saat itu udara semakin dingin lalu kami disuguhkan pan cake dengan topping strawberry segar asli petik sendiri.

Studi lapangan ini memang singkat tak kurang dari sehari kami menyelesaikan perjalanan pada dua kawasan wisata yang sangat menarik. Perjalanannya memang singkat tapi kenangannya sungguh melekat karena satu sama lain menjadi dekat.

Saat ini kami sudah kembali pada aktivitas masing-masing setelah menamatkan studi tapi sesekali di waktu luang, kami berkumpul untuk reuni.

Putu Sucita Yanthy, putusucitayanthy@yahoo.com