Inspirasi tentang Gagasan Membangun “Museum Digital” di UNESCO World Heritage Taman Ayun

Oleh I Putu Sudhyana Mecha, Angkatan 2015

Pura Taman Ayun (foto Darma Putra)

Pura Taman Ayun, 21 November 2015 (foto Darma Putra)

Hari ini, Sabtu tanggal 21 November 2015 saya kembali berkesempatan untuk mengikuti kegiatan pengabdian dan diskusi terbuka yang diadakan oleh Program Studi Pascasarjana Magister Kajian Pariwisata Unud.

Acara ini mengambil tempat di salah satu tempat (destinasi) wisata paling terkenal di Kabupaten Badung, dimana tempat ini merupakan salah satu kawasan world heritage, yaitu Pura Taman Ayun. Pura ini erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Mengwi pada masa lampau. Pura ini memang dibangun atas inisiatif Raja Mengwi, I Gusti Agung Putu pada tahun 1634.

Kawasan ini sangat menarik untuk dikunjungi karena Pura Taman Ayun memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh pura-pura lain di Bali.

Pura Taman Ayun, 21 November 2015 (Foto Ari Bestary)

Pura Taman Ayun, 21 November 2015 (Foto Ari Bestary)

Kanal-kanal Air

Salah satu ciri utama yang saya temukan adalah bahwa bangunan pura yang telah berumur 300 tahun lebih ini mempunyai kanal-kanal pengairan air yang masih bagus dan ternyata hingga saat ini kanal-kanal air masih diperuntukkan bagi subak dan kalangan pertanian. Hal ini tentu saja merupakan suatu bentuk nyata dari ecotourism.

Kegiatan pengabdian ini diawali dengan penanaman bibit pohon secara simbolis yang dipimpin oleh mantan Bupati Badung, Bapak Anak Agung Gede Agung (Gungde Agung). Setelah itu, barulah kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi terbuka yang melibatkan Bapak Gungde Agung dan Bapak Gung Prana, salah seorang praktisi pariwisata yang sudah berpengalaman di bidang pariwisata.

Tidak lupa juga ada dosen-dosen kita yang turut meramaikan diskusi terbuka ini. Ada Pak Prof Darma, Pak Syamsul, Pak Agung Suryawan, Pak Pujaastawa, Pak Sudiarta, dan masih banyak lagi.

Kehadiran Pak Gungde Agung sebagai bagian dari pemerintah daerah, Pak Gung Prana sebagai praktisi pariwisata, serta dosen-dosen Kajian Pariwisata sebagai akademisi telah membuat diskusi ini menjadi sarat makna dan berkualitas.

DSCF1117

Diskusi dengan Penglingsir Puri Mengwi, AA Gde Agung, di sini beliau mencetuskan gagasan membangun ‘Museum Digital’ untuk Taman Ayun (Foto Ary Bestari).

Seluruh komponen stakeholder (pemerintah, praktisi, dan akademisi) yang mempunyai peranan signifikan dalam kemajuan suatu pariwisata telah berkumpul dalam diskusi terbuka ini, duduk bersama dalam satu atap, serta tentu saja saling bertutur dan sharing mengenai perspektif dan pemikiran masing-masing.

Saya sebagai mahasiswa merasa senang sekali bisa hadir pada kesempatan kali ini, dimana saya juga turut merasakan atmosfir diskusi yang luar biasa, dari para stakeholder kita yang sangat luar biasa ini.

Museum Digital

Salah satu statement yang menarik perhatian saya dalam diskusi terbuka kali ini adalah pernyataan Pak Gungde Agung yang sempat menyebutkan mengenai inovasi “museum digital”. Menurut beliau, sudah seharusnya Pura Taman Ayun mempunyai suatu museum digital yang mumpuni dalam menyediakan akses informasi yang jelas dan akurat bagi para wisatawan, mengingat perkembangan era digital belakangan ini.

Hal pertama yang terlintas di benak saya ketika mendengar hal ini adalah ide penelitian saya, yaitu ide mengenai sistem informasi obyek wisata Kabupaten Badung. Beruntunglah saya yang mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat pada kesempatan kali ini.

Saya berpendapat bahwa dalam perancangan suatu model museum digital, Pura Taman Ayun hanyalah satu data, satu dari ribuan bahkan jutaan data obyek wisata di dunia. Itulah mengapa, akan sangat kurang sekali apabila kita membuat rancangan museum digital hanya untuk satu data saja, dalam kasus ini obyek wisata Pura Taman Ayun.

Saya kira akan lebih baik apabila kita merancang suatu model museum digital yang melibatkan seluruh objek wisata di Kabupaten Badung. Ada banyak sekali objek wisata potensial dan menjanjikan di Kabupaten Badung, dimana nantinya akan berimplikasi terhadap pengembangan pariwisata daerah ke arah yang lebih baik, apalagi jika rencana model museum digital ini bisa dieksekusi dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Inilah yang menurut saya bisa menjadi terobosan baru dalam bidang pariwisata. Integrasi antara budaya yang merupakan fenomena tradisional dan teknologi informasi yang merupakan fenomena modern, harapannya mampu menjadi inspirasi luar biasa bagi kita semua, yang pada akhirnya akan melahirkan inovasi bagi perkembangan pariwisata kekinian.