Enam Mahasiswa Kajian Pariwisata Ikuti Seminar Internasional “Managing Risk in Event” di STP Nusa Dua

Catatan Nonny Aji Sunaryo, Angkatan 2016

Foto Bersama Seusai Seminar

Enam mahasiswa Magister Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud menghadiri seminar setengah hari yang bertajuk Managing Risk Event, di STP Nusa Dua,  Kamis, 30 Maret 2017. Keenam mahasiswa tersebut adalah  Ihyana, Tiara, Tomi, Yuliska, Esther, dan Nonny (penulis).

Seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini  bertujuan untuk memberi informasi dan pengetahuan tentang strategi bagaimana memenangkan dan melaksanakan dengan baik “Bisnis MICE di Bali, Risk and Crisis Management for Events- A UK Perspective

Acara dilaksanakan oleh mahasiswa MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) and Event Management 2014 sebagai ajang praktik apa yang sudah mereka pelajari.

Seminar Bagus

Menurut kami, pelaksanaan seminar ini bagus. Saat pelaksanaan seminar sempat terjadi kendala ketika mic error namun dengan sigap panitia menggantinya dengan mic spare, hal ini menunjukkan  kesiap-siagaan panitia, penyediaan cadangan fasilitas memang sangat penting dalam kesuksesan dan kelancaran MICE.

Selain itu, panitia juga menyebar angket, di mana mereka meminta pendapat hadirin tentang acara ini yang nantinya menjadi bahan evaluasi.

Materi yang ditawarkan dalam seminar ini sangat bagus, sayangnya karena free kuota sangat terbatas, menurut saya sebaiknya dipunggut biaya namun dalam taraf bisa dijangkau mahasiswa. Ketika acara makan siang, sebaiknya para peserta jangan dipisahkan sehingga bisa menjadi jembatan komunikasi untuk membuat koneksi dan bertukar informasi karena tidak mungkin saling berbicara di dalam ruang seminar.

Dua Sesi

Pelaksanaan Seminar ini terbagi menjadi dua sesi dengan pembicara berbeda. Sesi pertama dimulai pukul 09.30 WITA, ditampilkan Bapak Ida Bagus Lolec Surakusuma sebagai pembicara pertama. Beliau adalah Managing Director PT Pacific World Nusantara Bali-Indonesia, perusahaan perjalanan wisata yang memiliki jaringan pemasaran internasional. Materi yang disampaikan tentang strategi bagaimana memenangkan bisnis MICE di Bali.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang mengembangkan 16 destinasi MICE di Indonesia diantaranya Batam, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Padang, Lombok, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Medan. Saat ini menurut Bapak Lolec, pemasar MICE di Indonesia lebih membidik pasar nasional saja, padahal untuk memikat secara internasional sangatlah terbuka peluangnya.

“Salah satu pasar potensial yang terdekat dengan Indonesia adalah Australia,” ujarnya pengusaha yang juga kartunis dan pelukis ini.

Bali dianggap salah satu destinasi yang paling siap karena telah memiliki bekal di mana elemen 4A (attraction, accesibility, amenity, ancilliary) sudah memadai.

Selanjutnya, beberapa strategi yang dapat dilakukan agar Bali menang dalam kompetisi pasar MICE lokal ataupun global. Pertama, sebagai Professional Exhibition Organizer (PEO) ataupun Professional Conference Organizer (PCO) harus membuat proposal yang atraktif dan kreatif yang isinya juga harus lengkap sehingga dapat mengakomodir kebutuhan klien.

Kedua, keahlian marketer juga menentukan, seorang pemasar harus memiliki kemampuan bahasa yang baik agar dapat menjadi story teller yang menunjukkan bahwasanya mereka menguasai produk yang ditawarkan dengan baik. Marketer juga harus peka dan dapat menempatkan diri dengan baik agar klien merasa senang dan nyaman sehingga mereka mau membeli apa yang ditawakan.

“Intinya ini adalah seorang marketer harus memahami apa yang diinginkan client,” tuturnya.

Ketiga meningkatkan nilai jual dengan penerapan due and diligence, memperhatikan kebutuhan akan kesehatan dan keselamatan, asuransi, dan kualitas layanan jasa, yang terakhir hendaknya PEO/PCO melakukan sales call dan trade show didalam maupun di luar negeri. Hal ini membutuhkan dukungan pemerintah terutama dalam masalah pendanaan karena event promosi seperti trade show keluar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun sebagai destinasi yang digadang-gadang sebagai tuan rumah MICE, Bali masih mempunyai kelemahan dan kekurangan yang harus segera mendapatkan perhatian dan penangganan, diantaranya adalah problem carut marutnya atribut papan reklame dan kabel arus listrik,  selanjutnya ancaman akan hilangnya arsitektur Bali karena pengaruh moderenisasi dampak dari pariwisata itu sendiri. Hendaknya pemerintah segera mengambil langkah solutif dan aktif untuk mengatasi permasalahan ini.

Profesor David Hind ketika menyampaikan materi.

Sesi Kedua

Sesi kedua  dimulai pukul 13.15, Profesor David Hind sebagai pembicara kedua. Beliau adalah Dean of School, Events Tourism & Hospitality, Leeds Beckett University, UK 2016, President OF Asia Pasific Institute for Events Management 2016, Visiting Professor at STP (Sekolah tinggi Ilmu Pariwisata) Bali, Bandung, and Chung Hua University.

Lebih dari 32 tahun kiprahnya baik secara akademik dan praktis dalam design, delivery and management of academic programmes in events, tourism and hospitality in the UK and Asia. Materi yang disampaikan Risk and Crisis Management for Events- A UK Perspective.

Prof. Hind menyampaikan tentang The Importance of the MICE/Events Industry to Indonesia and why managing Health & Safety at Events is ESSENTIAL. PEO harus selalu memegang dua pemikiran di kepala mereka sepanjang waktu yaitu tentang kesehatan dan keamanan. Hal utama yang harus dipikirkan penyelenggara adalah hazard and risk perhelatan dan solusinya karena sesungguhnya keselamatan adalah tanggung jawab utama penyelenggara.

Hazard adalah sesuatu yang dapat menyakiti, hal ini dapat berasal dari dalam dikarenakan staff behaviour, poor maintenance, lack of supervision,  namun dapat juga dari luar seperti strike action, terrorism, wheather, crime.

Risk adalah kesempatan bahaya terjadi dan tingkat bahanyanya. Kunci agar bahaya dapat ditangani dengan cepat, diawal harus sudah melakukan Risk Assessment. Penilaian ini mencakup kontrol, dan resiko terhadap kesehatan dan keamanan pekerja dan yang lain.

Secara singkat manajemen resiko merupakan proses menantang intelektual, yang membuat user  berfikir jika terjadi masalah apa dampaknya?, bagaimana konsekuensinya terhadap manusia, lingkugan dan event itu sendiri?

Dikarenakan setiap events menghadapi tantangan risiko, kesehatan dan keamanan akibat keramaian, lingkungan yang tidak familier, pengaturan sementara, dan banyaknya pekerja temporer. Hasilnya keamanan harus menjadi prioritas pemerintah, masyarakat, pihak sponsor, dan hadirin perhelatan. Planning for safety juga harus dipikirkan bersamaan dengan perencanaan aspek lain dalam pengusulan event. Teori yang dapat digunakan di antaranya theories of accident causationHuman Error di mana kecelakaan diakibatkan oleh serangkaian kejadian yang linier.

Developing a Risk Management Strategy, sebagai penyelenggara yang berurusan dengan risiko terdapat hal yang harus diperhatikan yaitu mematuhi hukum, belajar dari kesalahan, risk assessment, risk management. Dari kesalahan tersebut selanjutnya terjadilah kejadian dimana penyelenggara belajar, namun alangkah baiknya jika diantisipasi menggunakan risk assessment, risk management sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan.