Dr. Agung Suryawan Wiranatha: Kawasan Warisan Budaya UNESCO Jatiluwih Miliki Banyak Potensi Wisata

Catatan Novita Tani, Angkatan 2016

Wisatawan asing sedang menikmati hamparan indah sawaj JAtiluwih, ditemani seorang pemandu wisata (Foto-foto Darma Putra)

Wisatawan asing sedang menikmati hamparan indah sawaj Jatiluwih, ditemani seorang pemandu wisata (Foto-foto Darma Putra)

Kawasan hamparan persawahan warisan budaya dunia UNESCO Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, memiliki sejumlah potensi yang sangat bagus untuk dijadikan objek wisata. Potensi tersebut di antaranya kawasan persawahan dengan segala aktivitas pertanian, kawasan perkebunan, sungai dan air terjun, kawasan hutan dan pegunungan, serta air panas.

Demikian disampaikan peneliti Universitas Udayana Dr. AAP Agung Suryawan Wiranatha dalam seminar hasil penelitian “Strategi Pemasaran Pariwisata Berbasis Subak di Bali bagi Wisatawan mancanegara”, bertempat di Sanur Paradise Plaza Hotel, Selasa, 18 Oktober 2016. Dr. Agung Suryawan Wiranatha adalah ketua peneliti sekaligus dosen S2/S3 Pariwisata Unud. Seminar dibuka oleh Ibu Budi Harjanti yang merupakan Perwakilan dari Kementerian Pariwisata Republik. 

Seminar ini merupakan hasil kerja sama antara Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dengan Konsorsium Riset Pariwisata Universitas Udayana. Kami bersyukur karena, anggota tim peneliti yang juga dosen kami, Dr. IGA Oka Suryawardhani, mendorong kami untuk mengikuti seminar yang menarik ini.

Selain kami dari mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud yang menajdi mahasiswa Dr. Agung Suryawan, seminar juga dihadiri oleh beberapa tokoh penting yang memiliki andil besar dalam bidang pariwisata di Bali, di antaranya Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ketua Bapedda Kabupaten Tabanan, Mantan Ketua Bali Tourism Board, dan beberapa pengusaha serta tokoh-tokoh penting lainnya dari Jatiluwih.

Produk lokal seperti beras merah yang bisa ditawarkan kepada wisatawan.

Produk lokal seperti beras merah dan beras hitam yang bisa ditawarkan kepada wisatawan.

Daya Tarik

Dari sejumlah daya tarik yang sudah disebutkan, kawasan persawahan merupakan satu-satunya kawasan yang ramai pengunjung. Diharapkan kawasan lainnya pun dikembangkan sehingga bisa mendatangkan lebih banyak turis di waktu mendatang. Selain objek wisata, Jatiluwih juga menyediakan produk pertanian sebagai oleh-oleh khas Jatiluwih.

Menurut Agung Suryawan, produk wisata di Jatiluwih adalah supply driven products, yakni apa yang dimiliki, itulah yang ditawarkan kepada wisatawan. Oleh karena itu, beras merah merupakan produk utama yang dihasilkan di desa tersebut, maka produk olahan dari beras merah, yakni teh beras merahlah yang ditawarkan kepada wisatawan.

Jalur bersepeda yang juga menarik di antara hamparan sawah Jatiluwih.

Jalur bersepeda yang juga menarik di antara hamparan sawah Jatiluwih.

Strategi Pemasaran Jatiluwih

Berdasarakan analisis interpretative structural modeling, driver power (daya dorong) terbesar dengan nilai 12 dimiliki oleh sub-elemen memberikan pemahaman tentang keunikan sistem subak kepada wisatawan. Oleh karena itu, sub-elemen tersebut menjadi kunci pendorong utama dan paling independent dari ketergantungan dengan sub-elemen lain. Sub elemen tersebut merupakan produk. Menurut Agung Suryawan, “Apa yang mau dipromosikan kalau produknya belum diperbaiki”.

Oleh sebab itu, sebelum produk tersebut (keunikan subak Jatiluwih) tersebut dipromosikan, subak tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu, terutama akses menuju ke kawasan tersebut, agar wisatawan merasa puas dan dapat menghasilkan kunjungan berulang serta merekomendasikan ke sahabat kerta keluarga mereka.

Tanpa Pertanian, Pariwisata tidak Ada

Setelah Dr. Agung Suryawan menyelesaikan presentasinya, dibuka sesi tanya jawab oleh moderator. Dalam sesi tersebut, salah satu peserta, seorang praktisi pariwisata senior Bagus Sudibya mengungkapkan pendapatnya bahwa “without agriculture tourism does not exit”.

Menurut beliau, tulang punggung pariwisata di Bali adalah pertanian. “Pertanian ibarat air dan pariwisata ibarat ikan, sehingga ikan akan ada kalau ada air, seperti itulah kenyataan pariwisata yang ada di Bali,” ujar Bagus Sudibya, pengelola sejumlah hotel dan agrowisata di Bali. Semua produk budaya yang dijadikan komoditi utama bagi pariwisata berasal dari sistem pertanian yang sudah ada sejak zaman dahulu (*).