Dosen Tamu Dr. Guillaume Tiberghien: Otentisitas Penting dalam Pembangunan Pariwisata

Dr. Guillaume Tiberghien saat memberikan kuliah tamu di Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud, 24 Mei 2017.

Otentisitas (authenticity) memiliki peranan penting dalam konteks warisan budaya (cultural heritage) dan pembangunan pariwisata. Makin banyak tourism experience (pengalaman wisata) yang bisa ditawarkan sebuah destinasi, semakin kuat daya tarik destinasi tersebut dalam mendapatkan angka kunjungan.

Demikian disampaikan Dr. Guillaume Tiberghien dalam kuliah tamunya dengan topik ‘Authenticity and the Tourism Experience’ di S-2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Rabu, 24 Mei 2017.

Guillaume Tiberghien adalah dosen bidang pariwisata dengan konsentrasi Manajemen/Marketing, di School of Interdisciplinary Studies, The University of Glasgow. Dia berada di Bali sebagai bagian dari kerja sama Unud dengan University of Glasgow yang dirintis dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pada hari yang sama Guillaume Tiberghien juga memberikan kuliah umum untuk mahasiswa S-3 Pariwisata Unud, dengan topik “Authenticity and the Eco-Cultural Tourism Experience in Bali: Building Alternative Sustainable Forms of Tourism” .

Dr. Guillaume Tiberghien berfoto bersama peserta kuliah tamu.

Dalam kuliah umum itu, Dr. Tiberghien menyampaikan penting sekali bagi pengelola industri pariwisata untuk memahami persepsi wisatawan dan pengalaman mereka terhadap daya tarik dan event wisata yang berkaitan dengan atau dianggap sebagai otentik.

“Memahami otentisitas dengan baik memberikan peluang untuk memberikan pengalaman berwisata bagi turis. Pengalaman wisatawan mengenai otentisitas memberikan manfaat ekonomi yang positif bagi pembangunan pariwisata,” ujar  Dr. Tiberghien, yang sudah ke Unud tiga kali dalam waktu setahun ini.

Banyak Pengertian

Menurut Dr. Tiberghien, konsep otentisitas memiliki banyak pengertian. Ada pengertian otentik yang mengacu pada benda warisan budaya, semakin lama semakin kuno berarti semakin otentik. “Ini adalah pengertian objective authenticity,” katanya.

Dalam konteks pariwisata, memberikan wisatawan peluang untuk melihat, menyimak atau menikmati objek yang otentik itu berarti memberikan pengalaman berwisata yang khusus. “Pengalaman berwisata yang khusus itu pun adalah sesuatu yang otentik,” tambahnya.

Segala daya tarik lokal di sebuh destinasi akan memberikan pengalaman berwisata yang khusus dan unik bagi wisatawan. Pengalaman tersebut bisa disebut sebagai pengalaman yang otentik. Dia mencontohkan bagaimana wisatawan di sebuah destinasi diundang untuk makan siang atau dinner ke rumah penduduk, menikmati makanan dan percakapan serta atmosfir budaya yang berbeda dengan di daerahnya.

Wisatawan yang berada di tengah dan mengambil foto event ritual sebagai pengalaman otentik (Foto Darma Putra)

“Biasanya pengalaman otentik itu bisa diperoleh di rural tourism destination,” katanya, sambil meminta mahasiswa menambahkan contoh pengalaman otentik yang dapat dinikmati wisatawan yang berkunjung ke Bali. Seorang peserta kuliah umum menyampaikan pengalaman menenun tradisional dalam sebuah desa wisata di Bali Timur, atau pengalaman turis ikut menanam padi.

“Itu contoh yang tepat, karena pengalaman otentik itu tidak akan diperoleh di tempat asal wisatawan,” katanya.

Desa wisata atau wisata desa memiliki potensi memberikan pengalaman otentik bagi wisatawan. Hanya saja, katanya, pengalaman itu hanya bisa dinikmati wisatawan jika saat berwisata ke desa dengan berlaku seperti orang lokal (live like local), pelan (slowness), perjumpaan yang intim (intimate encounter), dan mengalami (to experience).

Acara kuliah umum berlangsung interaktif ditandai dengan tanya-jawab yang dinamis antara mahasiswa dengan dosen tamu (dp).