Dari Teori ke Lapangan: Refleksi Matrikulasi Kajian Pariwisata 2015

Oleh Adhitia Pahlawan Putra, Angkatan 2015

Mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana tampak serius mendengarkan ceramah (foto Darma Putra)

Pemahaman tentang teori di kelas menjadi lebih hidup dengan kunjungan lapangan. Berikut adalah refleksi singkat tentang beberapa butir materi ceramah matrikulasi s2 Kajian Pariwisata Unud yang diberikan di kelas dan tentang kunjungan lapangan ke Bagus Agro Pelaga, 46 utara Denpasar.

Filsuf Italia Gimbatissta Vico dalam Orientalism karya Edward Said mengatakan bahwa manusia mengukir dan menciptakan sejarahnya sendiri. Namun demikian, hal tersebut tidak berlaku bagi Bagus Sudibya, owner (pemilik) dari Bagus Agro Pelaga.

Betapa tidak, kunjungan kami dalam rangkaian acara matrikulasi mahasiswa baru S-2 Kajian Pariwisata Pascasarjana Universitas Udayana pada Jumat 28 Agustus 2015, memberikan orientasi baru bahwa membangunan pariwisata harus didasari hati yang tulus atas cinta kasih kita pada sesama manusia, lingkungan, dan Sang Hyang Widhi.

Argumentasi Vico pun runtuh, saat narasi yang diungkapkannya pada acara diskusi menyajikan satu benang merah bahwa adalah incomplete (tidak cukup) bila manusia mengukir dan menciptakan sejarahnya sendiri.

Lebih dari itu, proses untuk memanusiawikan manusia (humanisme) adalah suatu upaya menuju kesadaran baru unutuk menemukan jati diri sebenarnya. Sederhananya, menjadi individu seutuhnya (yang punya modal) tidak cukup akan tetapi harus membantu manusia yang lain (pemberdayaan masyarakat yang diaktualisaikan beliau melalui Bagus Agrowisata dan Koperasi Petani di Desa Petang Kec. Pelaga Kab. Badung).

Hal ini sejalan dengan yang dilakukan oleh John Nash pemenang nobel ekonomi tahun 1994, alumnus Princeton University. Ketika Nash melakukan revisi atas teori Adam Smith the father of modern economic dalam The Wealth of Nations (1776) yang argumentasinya mengatakan bahwa “hasil terbaik datang dari semua orang dalam kelompok yang melakukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri”.

Namun, belum lengkap karena “hasil terbaik akan datang dari semua orang dalam kelompok untuk melakukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri dan kelompoknya” yakni, bagi Bagus Sudibya dalam bingkai Bagus Agro dan Kelompoknya di Desa Petang, Kec. Pelaga, Kab. Badung, Bali, Indonesia.

Tiga Intelegensia

Sehubungan dengan hal tersebut, penulis sangat salut atas intelegensia dan kharismanya. Bagaimana tidak, beliau berhasil menangkap suasana batin masyarakat sekitar dengan cara yang merakyat, berkarakter, dan edukatif.

Pertama, intelegensia merakyat, realitas tingginya sikap pure individualism berhasil dipatahkan melalui sikap dan tindakan partisipasi. Dia merangkul masyarakat dengan gagasan proyek imajinernya seperti memperkerjakan masyarakat sekitar di Bagus Agro, membuka, mendorong dan meningkatkan added value (nilai tambah) usaha-usaha agraris padat karya masyarakat (bunga, buah jeruk, asparagus (unggulan), sayur-sayuran, strawberry, ayam potong, dan lainnya), serta membuat koperasi bagi para petani.

Apa artinya? Bagus Sudibya telah berhasil menerapkan teori Rostow dalam The Stages of Economic Growth (1960) seperti yang diajarkan saat materi martikulasi “Pariwisata dan Ekonomi” oleh Dr. Putu Saroyini, SE., MM, akan tetapi dengan cara atau perspektifnya sendiri yaitu terjadinya perubahan struktur ekonomi masyarakat dari masyarakat tradisional-agraris menuju masyarakat modern yang mengandalkan jasa tetapi tetap tidak menghilangkan domain utama stuktur pekerjaan masyarakat Pelaga di bidang pertanian sebagai Permata (pembangunan rakyat makmur merata).

Kedua, intelegensia berkarakter, saat berkunjung ke Bagus Agro, penulis merasakan ekspresi filosofis konsep Tri Hita Karana. Sejuk lembut angin khas pegunungan, elemen alam yang menyatu dengan masyarakat, dan adanya Pura Beji sebagai elemen hubungan manusia dengan Tuhan. Bagi Anda yang penat dengan suasana kota dan butuh ketenangan disertai udara yang sehat, Bagus Agro cocok menjadi destinasi wisata yang wajib ada dalam daftar liburan anda di Bali (informasi lengkap kunjungi website-nya di www.bagusagropelaga.com).

Ketiga, intelegensia edukatif, mengutip pendapat Kaprodi Kajian Pariwsiata Prof. I Nyoman Darma Putra yang mengatakan bahwa tradisi intelektual harus sustainable karena kita punya hutang yaitu, hutang akan pengetahuan yang harus dibayar dengan pengetahuan melalui riset, menulis, publikasi. Yang mengkonsumsi pengetahuan mestilah memproduksi juga tak hanya sebagai cara membayar hutang tetapi untuk pengembangan pengetahuan itu sendiri.

Ternyata hal tersebut, diartikulasikan Bagus Sudibya melalui Agrowisata yang berorientasi edukatif. Menurut penuturan Manager Agrowisata Gusti Sumartana dan Pekerja Bagus Agrowisata, siswa-siswi sekolah dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA belajar tahapan pertumbuhan dan jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di hamparan seluas 18 hektar tersebut.

Last but not least, sebagai penutup tulisan refleksi konstruktif dalam matrikulasi tahun 2015, penulis menyampaikan apabila ada hal yang salah atau menyinggung pada rangkaian kegiatan matrikulasi mohon dimaafkan yaaaa!!!.

Akhir kata, penulis mempersembahkan narasi sajak (masih amatir) bagi teman-teman angkatan 2015 yang akan selalu terpatri di hati.

Filosofi Matrikulasi

Terdaftarlah mereka

Sehingga bangun dari tidur akademiknya

Dengan semangat menyala

Meneruskan tradisi intelektual cita-citanya  

 

Mata pun terpana penuh cinta

Ketika filosofi Dewi itu bergema

Pada insan yang berbeda

Saraswati nama-Nya

 

Kembali diingatkan oleh-Nya

Di tanah Tri Hita Karana

Untukmu putra-putri Bangsa

Buatlah Nusantara bangga

*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Bali. Alumni Jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Malang.