Contoh “Community Based-Tourism”

Oleh Sang Nyoman Bagus Satya Wira, Angkatan 2015

IMG_7132

Perkebunan untuk pariwisata (Foto Darma Putra)

Rangkaian acara matrikulasi untuk mahasiswa baru Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana yang telah berlangsung dari tanggal 24 Agustus diakhiri dengan kunjungan ke Bagus Agrowisata pada Jumat, 28 Agustus 2015.

Peserta kunjungan terdiri dari mahasiswa angkatan 2014 dan 2015, didampingi oleh para dosen dan staf. Kegiatan kunjungan ini bertujuan untuk mempertemukan mahasiswa dari tiap angkatan dan secara khusus untuk pengenalan objek daya tarik wisata di Desa Pelaga.

Desa Pelaga, Kecamatan Petang adalah salah satu desa wisata di Bali yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Badung. Sangat berbeda dengan Badung Selatan yang dikenal dengan pantai dan hotel-hotel mewahnya, Pelaga menonjolkan keasrian dan keaslian lingkungannya, merepresentasikan budaya agraris yang merupakan budaya masyarakat Indonesia, khususnya Pulau Bali yang sangat terkenal dengan budaya agrarisnya yang eksotis.

Dengan mewariskan filosofi, sistem dan budaya asli dari leluhur, Bali telah dikenal dunia dengan pola hidupnya yang sangat unik. Gunung sebagai simbol maskulin dan danau sebagai simbol feminin diinterpretasikan sebagai simbol kesuburan, dan wilayah sekitarnya, di Bali, dipergunakan sebagai kawasan pertanian dan perkebunan.

Perkebunan dan Pariwisata

Terletak di hamparan perbukitan yang berada kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut dengan keseluruhan luas tanah 18 hektar, Bagus Agrowisata didesain menjadi lahan perkebunan yang berwawasan pariwisata dengan menggunakan 2% bagiannya untuk membangun Farm House, Farm Villa, dan Camping Area.

Kegiatan pariwisata yang disuguhkan di tempat ini berupa kegiatan yang bersifat Experience Tourism yang melibatkan wisatawan secara langsung dalam setiap aktivitasnya sehingga menjadi sangat atraktif bagi wisatawan yang sudah jenuh dengan wisata pantai dan lalu lalang kendaraan di beberapa kawasan turistik di Bali.

Di tempat ini mahasiswa diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung kegiatan dan fasilitas di perkebunan, mulai dari pembibitan, penanaman, dan perawatan segala jenis tanaman dari sayur, buah-buahan, dan juga bunga. Hal yang sangat menarik dari perkebunan ini adalah jenis tanaman atau komoditasnya yang lebih didominasi dengan jenis luar seperti; Asparagus, Cherry Tomato, Paprika, Stroberi, Mawar Holland, dan macam-macam jenis kubis.

Contoh “Community Based-Tourism”

Dari penjelasan Gusti, Agro Manager Bagus Agro, diketahui bahwa jenis-jenis tanaman yang ada di perkebunan adalah kualitas unggul dan saat ini hasil perkebunan hampir seluruhnya digunakan untuk kebutuhan hotel dan restoran dari kelompok usaha Bagus Discovery yang tersebar di Bali.

Perkebunan ini salah satu contoh dari Community Based Tourism yang sedang marak berkembang di beberapa daerah di Bali sebagai implementasi dari Sustainable Tourism. Dengan melibatkan masyarakat dan budaya aslinya maka diharapkan mampu meningkatkan pemerataan kesejahteraan dan pembangunan di seluruh wilayah Bali.

Berangkat dari ideologi modern farmer, Bagus Sudibya mulai merintis usahanya untuk mempertahankan budaya agraris Bali melalui Bagus Agrowisata yang rencananya akan mulai aktif beroperasi bulan Desember mendatang.

Visi Bagus Agro

“Bali green and sustain” adalah visi dari Bagus Agro Wisata yang berkali-kali ia sebutkan saat diskusi tentang kondisi pariwisata Bali yang menurutnya kurang selaras dengan pemeliharaan aspek-aspek pendukung pariwisata itu sendiri.

Ia mengatakan bahwa telah terbentuk budaya Antagonism dari masyarakat Bali terhadap pariwisata; di satu sisi masyarakat atau pelaku pariwisata secara tidak sadar meninggalkan budayanya dan di sisi lain menyalahkan pihak lain atas segala masalah yang ditimbulkan dari kesalahannya sendiri.

Untuk itu para mahasiswa yang datang berkunjung dimintanya untuk melanjutkan perjuangan menjaga pariwisata Bali, setidaknya dengan menyadari bahwa setiap masalah yang ditimbulkan oleh pariwisata sebenarnya dapat diatasi dan dibenahi jika ada kesadaran dari semua pihak baik masyarakat umum, praktisi, stakeholders, dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan.