Catatan Study Tour: Sayap-Sayap Anak Kampung Pulau Komodo

Catatan Helmi Laksono, Mahasiswa Angkatan 2016

Gadis kecil Pulau Komodo.

Jika sayap tak kaumiliki untuk terbang,

milikilah sebuah cita-cita,

niscaya sang Bulan pun kan kaujamah dengan ringan.

Ibarat burung, sayap-sayap saya sedang cidera saat kawan-kawan Program Studi Magister Kajian Pariwisata 2016 mengajak terbang ke Labuan Bajo, Komodo, Manggarai Barat. Tugas kuliah dan pekerjaan di hotel yang saling mengejar membuat gairah hidup saya hampir lenyap.

Namun, kawan-kawan menyemangati dan akhirnya saya turut serta dalam study tour (yang kala itu saya menyebutnya piknik, sebab tidak ada agenda study-nya).

Hari itu, Selasa, 14 Maret 2017, sinar Sang Surya telah digantikan oleh cahaya lampu neon di perahu yang mengangkut saya dan rombongan piknik dari Labuan Bajo. Perjalanan pagi-pagi dari Bali, mendarat di bandara Komodo Labuan Bajo, menaiki perahu, mampir di Pulau Kanawa dan mendaki hingga pucuk Pulau Gili Lawa sungguh menguras tenaga. Sisanya hanyalah kantuk dan lelah.

Saya benar-benar menjadi burung dengan sayap-sayap patah!

Dua ekor Komodo

Eco Village

Sekitar jam sembilan malam, perahu berlabuh di dermaga. Papan bertuliskan ‘Welcome to Eco Village’ samar-samar terbaca. Rumah-rumah di perkampungan ini sebagian besar berbentuk panggung. Saya tak mampu menahan diri untuk tidak bertanya, kenapa bentuk rumahnya seperti itu? Jawabannya beragam. Sebab, rumah panggung memang  bagian dari tradisi leluhur. Ada pula yang menjawab bawah rumah untuk memelihara hewan ternak.

Benar saja, saya melihat beberapa ekor  anak kambing yang saya kira anjing karena suasana yang remang-remang.

Menurut pemandu wisata, inilah yang terjadi:  aliran listrik dan air akan melimpah saat malam dan mati saat siang. Namun, malam seolah menelan sinyal seluler dan memuntahkannya kala siang. Sebab, itu malam saya lalui tanpa suara dering panggilan  maupun pesan masuk dalam ponsel saya.

Rumah bertangga di Kampung Pulau Komodo.

Pagi harinya, suara kokok ayam dan orang-orang bercakap membangunkan saya dari nyenyak tidur. Saya bangun, mandi, dan melihat keluar. Pemandangan lebih jelas terlihat karena mentari yang mulai bangkit.

Saya melihat rumah-rumah panggung lebih banyak dan berwarna-warni. Beberapa anak tampak melalui jalan kecil di samping tempat saya menginap. Mereka memakai kaos dan sepatu, yang mengingatkan saya pada pelajaran olahraga ketika  masih di Sekolah Dasar.

Kampung ini memiliki sekolah? Saya jadi penasaran.  Dengan kamera di tangan, saya pun menuruni tangga dan mulai petualangan kecil di kampung Komodo.

Saya bertanya dari satu warga ke warga lain untuk mencapai gedung sekolah di kampung ini. Adalah Pak Ismail yang menceritakan bahwa kampung ini dihuni oleh warga pendatang dari Ende, Labuan Bajo, dan Bima.

Para pria umumnya bekerja sebagai nelayan. Sedangkan para wanita sebagai ibu rumah tangga dan pedagang kebutuhan sehari-hari.

Dua ekor Komodo

Makanan Komodo

Dulu, para warga memiliki kebiasaan memburu hewan-hewan yang merupakan makanan komodo seperti rusa. Harga daging hewan tersebut memiliki nilai jual tinggi tetapi memburunya sama saja merebut makanan komodo.

Akibatnya, ketersediaan makanan untuk ratusan komodo yang menghuni pulau ini tak terpenuhi dan komodo pun mencari makan hingga  di kampung ini. Ketika rumah Pak Ismail masih berbentuk panggung, seekor komodo melahap kambing di bawah rumah. Cerita Pak Ismail tersebut bukanlah satu-satunya kisah kebuasan sang Kadal Raksasa. Saya pun akhirnya tahu, rumah-rumah panggung itu dibuat untuk melindungi   empunya rumah dari serangan komodo.

Saya terkejut mendengar bahwa, sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, seorang anak diterkam dari belakang oleh komodo. Racun air liur hewan ganas itu pun menyebabkan nyawa anak itu terenggut oleh maut.

Kmpung Komodo.

Tidak Membunuh Komodo

Biarpun begitu, mereka tak akan membunuh komodo. Sebab mereka tahu betul hewan itu dilindungi dan merupakan bagian dari alam. Yang bisa mereka lakukan hanyalah melindungi diri, seperti menggunakan tekhnik berlari zig-zag saat dikejar komodo, tidak berkeliaran pada malam hari, dan membangun rumah-rumah panggung.

Yang terakhir, tidak dilakukan Pak Ismail sebab rumah panggung memerlukan kayu yang banyak dan wajib direnovasi dalam periode tertentu. Artinya, biaya dan tenaga lebih tinggi diperlukan untuk sebuah rumah panggung daripada rumah biasa. Itulah sebab pak Ismail memilih membuat rumah dari semen, seperti rumah-rumah pada umumnya.

Saya jadi was-was melanjutkan perjalanan. Namun penasaran saya tentang sekolahan yang dimiliki kampung ini membuat saya terus menelusuri jalanan pemukiman. Lagipula, banyak orang yang akan menolong saya jika dikejar hewan yang gemar berpura-pura tiduran lalu menyerang secara mendadak itu.

SMPN Satap di Pulau Kemodo.

Saya pun sampai di ujung kampung. Di kaki bukit, SD dan SMP berdampingan. Dan tidak ada gedung Sekolah Menengah Atas. Menurut warga, jika ingin melanjutkan ke SMA harus ke Labuan Bajo ataupun Ende. Itulah kenapa saya tak mendapati siswa berseragam putih abu-abu di sini.

Kisah Diterkam Komodo

Saya sempat bertanya kepada beberapa anak SD dan SMP di sana tentang kebenaran berita seorang anak diterkam oleh seekor komodo. Benar, ceritaya persis seperti yang diutarakan Pak Ismail.  Malam sebelum insiden itu, anak itu ikut melaut ayahnya dan menangkap banyak ikan cumi-cumi. Bau amis yang menempel hingga pagi hari konon menarik perhatian komodo yang menerkamnya.

Dengan resiko sebesar itu dan segala keterbatasan di kampung ini, mereka berangkat dan pulang sekolah. Lalu apa motivasi mereka bersekolah? Jawaban mereka membuat saya memaknai perjalanan ini sebagai truly of studytour.

Kebanyakan anak laki-laki bercita-cita menjadi aparat keamanan seperti TNI, Brimob dan polisi. Sedangkan anak-anak perempuan bercita-cita menjadi seorang bidan dan dokter.

Ibarat burung, mereka tak memiliki sayap semewah sayap-sayap yang saya miliki. Saya malu!

Namun, setidaknya saya kembali ke guest house  dengan sebuah pelajaran berharga pagi itu, jika sayap tak kaumiliki untuk terbang, milikilah sebuah cita-cita, niscaya sang Bulan pun akan kaujamah dengan ringan. (*)…