Catatan Perjalanan: Raja Ampat dalam Eksplorasi, Inspirasi, dan Edukasi

Oleh Reinaldo Rafael Laluyan, Angkatan 2015

rj 4 1

Di Pianemo bersama teman seperjalanan dari Magister Kajian Pariwisata 2015 Universitas Udayana, dari kiri ke kanan: Fierly Yusuf, Eva Lubis, Jesihando R. Tulung, Sukma Adisatria, Diah Praba, Yudhi Wirayuda dan Reinaldo Rafael Laluyan (Foto Sukma Sukadana).

Pada perjalanan ini, penulis bersama dengan beberapa rekan dari mahasiswa kajian pariwisata (MKP) 2015 berinisiatif melakukan travelling ke Raja Ampat, salah satu dari sepuluh daerah di Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata untuk dibangun sepopuler Bali, sehingga disebut “New Bali”.

Keindahan alam dan tantangan untuk mengeksplorasi Indonesia Timur menjadi motivasi tersendiri bagi kami semua, sekaligus sebagai pengalihan dari rutinitas sehari – hari.

atm

Istirahat tidur menanti penerbangan lanjutan di Bandara Samratulangi, Manado (Foto Sukma Sukadana & Yudhi Wirayuda_

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aksesibilitas menuju Raja Ampat masih cukup sulit, tetapi segala sesuatu yang indah tidak akan datang dengan begitu saja. Penerbangan dari Denpasar menuju Bandara Samratulangi, Manado dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan. Namun, terbatasnya akses menuju Indonesia Timur mengharuskan kami untuk menunggu di Anjungan Tunai Mandiri bandara selama 6 jam, dan 1 jam penerbangan menuju Bandara Domine Eduard Osok, Sorong.

1 raja ampat lompat

Foto Bersama di Pasir Timbul, Mansuar. Dari kiri ke kanan: Fierly Yusuf, Eva Lubis, Diah Praba, Jesihando R. Tulung, Sukma Adisatria, Reinaldo Rafael Laluyan dan Yudhi Wirayuda.

Sekali Sehari

Perjalanan belum berakhir sampai di sana. Penyebrangan dari Pelabuhan Rakyat, Sorong, menuju Pelabuhan Waisai di Raja Ampat hanya dilakukan satu kali dalam sehari (terkecuali pada hari Jumat, yang dilakukan dua kali) yaitu pukul 14.00.

Kedatangan kami yang “terlalu cepat” pada pukul 10.00 siang juga mengharuskan kami untuk menunggu selama 4 jam, dan kembali menempuh satu setengah jam perjalanan dengan kapal cepat untuk sampai ke Kepulauan Raja Ampat.

Untuk perjalanan antar pulau, misalnya dari Pelabuhan Waisai menuju Pulau Mansuar tempat kami tinggal, masih menempuh 45 menit perjalanan lagi dengan menggunakan perahu cepat. Terpaan angin selatan juga menambah waktu perjalanan sekaligus adrenalin, yang tentu sangat menguras fisik dan mental.

penulis

Penulis di di Tanjung Bintang (Foto Reinaldo Rafael Laluyan).

Hal Unik

Saat berada di Pelabuhan Waisai, penulis menemukan hal unik yang perlu untuk dikaji lebih jauh. Salah satu rekan MKP 2015, Jesihando Rafael Tulung yang juga menjadi pemandu kami, sudah mengingatkan jauh – jauh hari untuk menyediakan uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah untuk pembelian “PIN” di Raja Ampat.

pin

Penampakan Kartu Jasa Lingkungan untuk wisatawan domestik di Raja Ampat (Foto Yudhi Wirayuda).

Sempat mengundang tanya penulis apa maksud dari PIN tersebut, namun kemudian seluruhnya jelas. PIN tersebut ternyata adalah Kartu Jasa Lingkungan, atau disebut juga Environmental Service Fee yang diatur dalam Peraturan Bupati No.18 Th.2014, dengan detil yang dijelaskan dalam sebuah baliho.

Penulis juga mengacungkan jempol kepada Pemda Raja Ampat, karena mereka mengirimkan salah seorang anggotanya untuk menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya PIN ini. Retribusi memang sudah seharusnya dilakukan dalam pariwisata, namun implementasinya tentu harus jelas dan dapat diobservasi secara langsung.

rrt

Berfoto bersama di depan Homestay kami, Wombon Swandiwe. Turut serta kapten kapal kami, Pak Nikson (ketiga dari kiri), Ibu yang menyiapkan makanan kami (keempat dari kanan), Riana Karubuy dari UNIPA (ketiga dari kanan, bagian belakang), dan Sukma Sukadana ketiga dari kanan, bagian depan (Foto Ichad Wanma Kbarek)

Tiba di Raja Ampat

Akhirnya, sampailah kami di Raja Ampat, tepatnya di Pulau Mansuar. Pulau ini memang merupakan wilayah khusus untuk wisatawan, terutama wisatawan asing yang gemar mengeksplorasi kehidupan di bawah laut.

Kami menempati tiga dari sekitar 20 bangunan homestay, terbagi menjadi 8 homestay yang seluruhnya dimiliki dan dikelola langsung oleh keluarga Sauyai yang merupakan penduduk asli dari Raja Ampat.

Tempat kami menginap, Wombon Swandiwe, seketika memberi kesan begitu mendalam. Bukan hanya karena keindahan alamnya, namun keramahtamahannya yang unik juga sulit untuk dilupakan.

Kemampuan kemudi dan navigasi perahu cepat dengan seutas tali tambang, terutama ditengah terpaan angin musim selatan, menunjukkan kemampuan mereka dalam menaklukkan lautan. Kesederhanaan dan sahaja yang ramah namun tak banyak bicara, serta autentisitas dalam tutur kata hingga hidangan laut menjadi memori yang tak terlupakan.

Mungkin selama ini kita salah dalam mempersepsikan orang – orang Papua yang ternyata ramah secara alami, dan menarik untuk membahas hal ini secara mendalam di lain tulisan.

Eksplorasi Raja Ampat

Setelah sehari penuh beristirahat, kami memulai perjalanan Eksplorasi Kepulauan Raja Ampat pada tanggal 5 Agustus 2016. Kali ini, angin selatan bertiup sangat kencang dan menghasilkan gelombang pasang.

Dengan 2 buah mesin berkekuatan 40 tenaga kuda, kami menerjang lautan lepas hingga air memasuki bagian kabin, dan membasahi seluruh penumpang dan awak perahu. Tak jarang, perahu kami pun melayang di udara hingga satu detik, melompat di antara gelombang yang menghalangi jalan kami.

Perahu Terbakar

Tak disangka, perahu kami terbakar, dan seluruh awak beserta penumpang panik seketika. Api membakar bagian belakang kapal di dekat mesin, merah membara tanpa asap hitam sedikitpun. Pak Nikson, guide sekaligus captain kami di kapal Wombon Swandiwe 2, dengan sigap langsung menghantam api dengan kain basah untuk memadamkan api. Setelah api padam, beliau langsung membawa para penumpang – dengan keadaan syok – menuju Pianemo.

Karena tempat ini sedang menerima kunjungan dari wisatawan lain, maka kami harus mengantri di dermaga sandar kedua sembari memenuhi panggilan alam.

Beruntung, ternyata kami bertemu dengan bapak – bapak dari KODAM 714 yang sedang berjaga di barak. Mereka menerima kami dengan baik dan terbuka, dan bercerita bahwa mereka sudah menginap 4 hari disana untuk membentangkan bendera Merah Putih sebesar 170 meter di sepanjang kawasan Pianemo.

rrr

Bertemu dengan pasukan pembentang bendera Merah Putih di Pianemo, dalam rangka Upacara 17 Agustus 2016 (Foto Riana Karubuy).

Pembentangan bendera ini, menurut informasi yang mereka terima, akan dihadiri oleh Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya pada tanggal 17 Agustus 2016, ditambah dengan masyarakat sekitar Raja Ampat dan media massa. Sukses selalu untuk bapak – bapak yang bertugas, berkibarlah selalu Merah Putih di Tanah Papua.

Masih menunggu mereka yang asyik berfoto di puncak Pianemo, kami memutuskan untuk berputar arah menuju Telaga Bintang. Tempat ini mendapatkan namanya karena terdapat formasi batuan karst yang membentuk lautan menjadi bintang, seperti yang terlihat pada foto.

Perjalanan menuju puncak Telaga Bintang juga tidak terlalu ekstrim karena waktu perjalanan yang pendek dan pijakan kaki yang terbuat dari semen, namun tetap harus berhati – hati karena disekitarnya terdapat batuan tajam yang masih alami. Setelah puas berfoto dan puncak Pianemo sudah terlihat cukup sepi, kami segera bergegas.

Pianemo sebenarnya sudah cukup terkenal melalui media massa, karena tempat ini merupakan salah satu atraksi utama di Raja Ampat. Pianemo adalah sebuah bukit karang yang memiliki panorama indah di puncaknya, yang dapat diakses melalui ratusan anak tangga dari dermaga.

Karena keindahan Pianemo sudah menjadi rahasia umum, maka penulis akan fokus pada keadaan di dermaga sandar Pianemo, terutama bagaimana orang – orang lokal mengkonservasi dan menjaga kampung halamannya dari ancaman kerusakan lingkungan.

Sebelum memasuki kawasan ini, kami harus melapor di Pos Jaga Pianemo. Setelah diberikan izin masuk, kami dapat bergerak menuju dermaga sandar Pianemo yang unik, karena disinilah terdapat satu – satunya warung ditengah lautan lepas.

Mereka menjual kelapa, makanan ringan, hingga hiasan rumah dari laut, namun apabila bertanya kepada mereka tentang hasil lautnya, mereka juga akan menawarkan lobster dan kepiting untuk dibawa pulang atau masak di tempat. Mereka luar biasa ramah dan sederhana, juga sadar untuk menjaga lingkungan mereka dengan cara membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Pianemo juga ternyata dikelola oleh sebuah LSM, namun kebetulan sedang tidak ada yang berada di tempat. Padahal, terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan, seperti coretan yang berada di batuan Pianemo dan Telaga Bintang (yang ironisnya, beberapa dilakukan oleh orang lokal sendiri). Penulis berusaha mencari jawaban melalui Pak Nikson.

bareng

Foto bersama rekan – rekan Magister Kajian Pariwisata 2015 di Kabui. Sekilas mirip Ha Long Bay, bukan? (Foto Sukma Sukadana).

Pernah di Tanjung Benoa

Dari pembicaraan penulis dengan beliau, yang ternyata pernah menjadi dive master di Tanjung Benoa selama tujuh tahun, tersurat bahwa memang benar orang lokal juga ikut merusak lingkungan Raja Ampat karena belum paham tentang dampak dari perbuatan mereka. Tetapi, sejak ditetapkannya Raja Ampat menjadi sebuah destinasi wisata, dinas pariwisata secara proaktif memberikan sosialisasi ke desa – desa untuk menjaga lingkungan.

Beberapa orang yang kedapatan mencoret – coret juga ditegur secara langsung, dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan mereka lagi. Penulis kembali bertanya tentang bagaimana cara mengembalikan batuan tersebut seperti semula.

“Biarkan hujan dan lumut yang nanti menutupi tulisan itu, karena menghapus tulisan tersebut sama saja dengan merusak batuan itu sendiri”, ujarnya sambil membakar sebatang rokok.

Inilah resiko pariwisata yang terlihat sepele, dilakukan dalam hitungan detik atau menit, namun restorasinya harus dilakukan oleh alam dan memakan waktu hingga bertahun – tahun. Akankah Raja Ampat tetap lestari, dari dulu hingga nanti? Renungan ini penulis tutup dengan snorkeling di Desa Arborek.

dw

Desa Wisata Arborek (Foto Fierly Yusuf).

Hari Kedua

Hari kedua kami bergerak menuju daerah Kabui, tepatnya menuju Batu Pinsil. Kawasan ini menjadi atraksi wisata karena banyak batuan karst yang memiliki estetika yang unik, seperti batu wajah dan formasi batuan.

Sepintas, tempat ini memang mirip dengan Ha Long Bay, Vietnam. Tetapi menurut salah satu rekan Penulis di MKP 2015, Fierly Yusuf, mengatakan bahwa Kabui masih jauh lebih indah dari tempat tersebut, terutama dengan warna laut yang unik.

Setelah puas berfoto, kami kembali untuk makan siang. Jika sebelumnya penulis menceritakan tentang hasil laut yang ditawarkan oleh orang lokal di Pianemo, maka kali ini hasil laut tersebut sudah siap untuk disajikan.

Setelah makan siang, rombongan langsung bergegas menuju Desa Yenbuba di Pulau Mansuar Besar. Desa ini merupakan salah satu tempat tinggal penduduk yang bekerja di homestay sekitar Pulau Mansuar, termasuk homestay kami.

Pak Nikson adalah salah satu dari penduduk yang tinggal di desa ini, dan beliau mengajak kami untuk melihat keadaan desanya. Tempat ini dapat diakses melalui perjalanan darat apabila laut sedang surut, dan perahu kecil apabila sedang pasang. Beruntung, saat kami berada di sana laut sedang surut sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat ini.

Medannya pun tidak terlalu sulit, dan banyak pemandangan indah yang kami lihat selama kurang lebih setengah jam perjalanan.

Di sinilah Pak Nikson bercerita banyak tentang Pulau Mansuar. Mansuar terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Mansuar Besar dan Mansuar Kecil.

Homestay kami, Wombon Swandiwe, termasuk ke dalam Mansuar Kecil. Sedangkan tujuan kami, Desa Yenbuba, termasuk ke dalam Mansuar Besar, bersama dengan distrik (mungkin setara kelurahan) Miosmansar.

Hal yang cukup miris untuk didengar adalah pendidikan di daerah ini; Sekolah Dasar (SD) memang terdapat di setiap desa, namun sekolah menengah pertama (SMP) di sekitar daerah tersebut hanya berada di Miosmansar, dan untuk sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/K), mereka harus menempuh perjalanan ke Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat selama kurang lebih satu jam dari Yenbuba.

aldo dan

Penulis dengan petugas dari Dinas Kelautan, yang menjelaskan tentang Kartu Jasa Lingkungan (Foto Reinaldo Rafael Laluyan).

Asal-usul Raja Ampat

Ketika penulis bertanya tentang keberadaan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama lainnya, Pak Nikson mulai bercerita sedikit tentang asal usul nama Raja Ampat.

Raja Ampat adalah kumpulan dari empat kerajaan yaitu Waigeo, Salawati, Batanta dan Misool yang hari ini menjadi empat “daerah” (mungkin setara kecamatan). Orang – orang di Waigeo (termasuk Pulau Mansuar), Salawati dan Batanta harus bersekolah di Waisai yang merupakan bagian dari daerah Waigeo, namun orang – orang Misool memiliki SD, SMP dan SMAnya sendiri karena letaknya yang sangat jauh dari Waisai.

Bahkan, orang – orang Misool yang ingin ke Waisai biasanya melakukan perjalanan melalui kota Sorong, kemudian masuk kembali ke daerah Raja Ampat menuju Waisai. Pak Nikson sendiri mengaku tidak tahu banyak tentang keadaan orang – orang Misool. Untuk desa Yenbuba sendiri, mereka masih sangat sederhana, dengan landmark sebuah perpustakaan kecil dan gereja protestan. Untuk rumah penduduk di sini hanya sebesar rumah KPR (Kredit Perumahan Rakyat), dan tidak terdapat furniture yang mewah.

Setelah melihat – lihat Yenbuba, kami kembali menikmati keindahan bawah laut di Desa Yenbuba dengan snorkeling. Perjalanan pun dilanjutkan ke Pasir Timbul, dimana pasir pantai akan muncul ketika air laut surut, dan kembali menghilang ketika air mulai pasang.

Kami mengambil kesempatan untuk berfoto di tempat ini, namun segera air laut kembali pasang dan menutupi seluruh pulau. Beruntung, kami masih dapat mengambil foto ini, untuk seluruh rekan – rekan MKP15.

IMG_20160805_103527

Pesona Raja Ampat.

 Tips Berkunjung ke Raja Ampat?

Untuk menutup catatan perjalanan ini, penulis akan merefleksikan perjalanan ini ke dalam kalimat – kalimat tanya, dengan harapan berguna bagi rekan – rekan yang akan bepergian ke Raja Ampat di lain hari. Berikut refleksi Penulis:

  • Kapan waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Raja Ampat?

Raja Ampat dapat diakses sepanjang tahun, namun akan lebih baik untuk menghindari bulan Agustus – September. Hal ini dikarenakan tiupan angin selatan, yang menyebabkan gelombang semakin besar dan berpotensi mengancam perjalanan.

  • Siapa saja yang harus mengunjungi Raja Ampat, dan mengapa?

Tentunya para karyasiswa Magister Kajian Pariwisata UNUD manapun wajib (dalam pendapat Penulis) melakukan studi banding menuju Raja Ampat. Konsep community based tourism dan ecotourism dapat dengan mudah diamati, dan dibandingkan langsung dengan keadaan di Bali. Para penyelam juga pasti sering mendengar keindahan bawah laut Raja Ampat, dan terdapat banyak homestay yang dikhususkan untuk para divers. Apakah Penulis berlebihan untuk mengatakan Raja Ampat sebagai “The World’s Capital City of Divers”? Biarkan para penyelam yang menentukan hal tersebut.

  • Bagaimana cara mengunjungi Raja Ampat?

Apabila tersedia, akan jauh lebih baik untuk mengambil rute langsung Denpasar – Sorong. Mungkin akan lebih ekonomis apabila melakukan transit terlebih dahulu ke Bandara Samratulangi seperti kami, tetapi bersiaplah untuk “menginap” di sana. Rute Makassar – Sorong juga tersedia, namun bandingkan harga, waktu tempuh dan transit yang diperlukan dari setiap rute.

Untuk menuju Raja Ampat, Pembaca dapat menyewa kendaraan roda empat di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong untuk menuju Pelabuhan Rakyat, kemudian menyebrang ke Pelabuhan Waisai di Raja Ampat untuk mengakses tempat ini. Penginapan kami sendiri, Wombon Swandiwe yang terdapat di Pulau Mansuar, dapat diakses dari Pelabuhan Waisai dengan perjanjian sebelumnya.

  • Apa saja yang perlu disiapkan oleh Pembaca yang akan melakukan perjalanan ke Raja Ampat?

Bersiaplah untuk menggunakan air payau untuk mandi dan mencuci, karena air tawar sulit untuk ditemukan di sini. Bersiap pula untuk mengkonsumsi seafood setiap hari, karena itulah makanan utama yang dimiliki dan ditawarkan di Raja Ampat. Tuna, Ikan Batu, dan Lobster hanyalah beberapa makanan yang dapat disantap di tempat ini, selebihnya Pembaca harus bertanya langsung kepada para nelayan yang berada di sana.

  • Apa saja atraksi wisata di Raja Ampat?

Untuk rute yang kami tempuh, atraksi wisata yang dapat ditemui adalah Telaga Bintang, Pianemo, Kabui, Desa Wisata Arborek, Pasir Timbul dan Desa Yenbuba. Untuk rute lain, Pembaca dapat menuju Kepulauan Wayag atau Misool.

Sekian catatan perjalanan penulis, Reinaldo Rafael Laluyan dari MKP 2015. Mari berdiskusi melalui kolom komentar dibawah, atau melalui email di Reinaldo_rafael@student.unud.ac.id. Suksema!