Catatan Perjalanan: Pengalaman ‘Solo Travelling’ Jerman-Perancis

Oleh Diah Prabawati, Angkatan 2015

Diah Praba, penulis.

Kesempatan berharga ketika mengikuti program joint curriculum di University of Applied Sciences Stralsund Jerman November-Desember 2016 menjadi lebih bernilai ketika memanfaatkan waktu akhir pekan untuk menjelajahi negara tetangga dari Jerman.

“The More You Travelling, The More You Learning and Experiencing” belajar dan berwisata menjadi satu paket yang tidak terpisahkan.

Kami berlima, yaitu Reinaldo Rafael Laluyan, Gusti Ngurah Adi Putra, Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Ni Putu Rika Sukmadewi, dan Ni Putu Diah Prabawati (penulis) merupakan mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud yang mengikuti Program Joint Curriculum/Transfer Kredit di Jurusan Tourism Development Strategies, University of Applied Sciences Stralsund, Jerman.

Program ini berada dalam payung kerja sama Asia-Europe Meeting (ASEM) yang dikelola oleh Direktorat Belmawa Kementerian Ristek Dikti.

Hal yang nyata dirasakan penulis adalah berwisata di Europe sangat mudah dan praktis dengan bantuan teknologi, dari berbekal smart phone dan mengunduh aplikasi travelling di apps store menjadikan dunia dalam genggaman.

Aplikasi di telepon genggam

Beberapa aplikasi travelling yang memudahkan yaitu FLIX Bus yang menghubungkan antara Germany dan negara-negara sekitar seperti Paris, Amsterdam dan Belgium. Aplikasi Go Euro juga membantu dalam membandingkan harga antara bus, kereta dan penerbangan. Hal ini sangat memudahkan dalam menganggarkan pengeluaran.

Dengan Bus

Penulis merupakan travel addicted yang pada kesempatan ini berwisata ke Paris, France. Penulis memilih bewisata dengan bus karena Flix Bus Germany sangat tepat waktu, nyaman dan harga sesuai dengan kantong pelajar.

Bus ini memiliki stasiun di Stralsund yang mana sebelum 15 menit dari jadwal keberangkatan bus sudah stand by dan paperless karena dilengkapi fasilitas check in via QR Code.

Ketika memutuskan sebagai “Woman Solo Traveller” tentunya banyak hal yang harus dipertimbangkan. Paris terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah dengan turis dan selalu menggunakan bahasa Perancis. Meskipun begitu keinginan penulis tetap mantap untuk menginjakkan kaki di negara Ayam Jantan tersebut.

Perjalanan dari Germany ke Paris ditempuh selama 22 jam. Penulis menggunakan pendekatan “the power of relationship” penulis bertemu dengan Thomas yang mana relasi dari Sukma Adisastra teman baik penulis di S2 Kajian Pariwisata.

Jalan Kaki

Kami mengunjungi atraksi wisata dengan berjalan kaki karena sangat mudah dijangkau dan tempatnya berdekatan. Dimulai dari statiun Porte Maillot, Place de la Concorde, Le Louvre, Cathedral Notra Dame, Tour de Eiffel dan yang membuat perjalanan ini lebih berkesan karena penulis berkesempatan mengunjungi Universite Paris II Pantheon Assas. Beliau me-lobbying petugas agar kami dapat masuk untuk melihat sekeliling kampus dan mengamati proses belajar. Keadaan kampus yang modern dan sangat mendukung proses pembelajaran.

Berwisata ke suatu negara tiada kesan tanpa berinteraksi langsung dengan warga lokal. Penulis merasa beruntung karena dapat bertemu dengan warga lokal yang bersedia berbincang-bincang dan mengajak sight seeing disela-sela aktivitasnya.

Kami memiliki ketertarikan yang sama terhadap sejarah dan pada saat itu minggu pertama di setiap awal bulan, seluruh Museum di Paris bebas biaya masuk. Kami mengunjungi Musee National du Moyen Age. Nampak antusias warga Perancis sangat kuat dengan sejarah antrean panjang dari anak kecil hingga orang tua beduyun-duyun datang. Museum tetap mempertahankan arsitektur asli meskipun sudah semakin tua.

Keadaan di dalam Musee National du Moyen Age – The Lady and Unicorn

Di sela-sela waktu kami berbincang tentang imigran di Paris seperti African, Turkish dan Marrocain. Beliau pun menjelaskan Paris tidak bisa membatasi keluar masuknya penduduk sesama daratan Eropa, terlebih dahulu negara tersebut sempat dikolonialisasi oleh Perancis sehingga pikiran mereka jika ingin sukses mereka harus pernah hidup di Paris. Dari perjalanan ini penulis menyimpulkan suatu perjalanan bukan diukur dari apa dan berapa akan tetapi bagaimana cara menikmati dan menjadikannya suatu pengalaman berharga.

Pilihan Berarti

Menjadi “Woman Solo Traveller” merupakan pilihan yang berarti “You are the one who responsibility with yourself, your choice, and be decision maker”

– Isu keamanan menjadi perhatian utama bagi seorang perempuan baik dari keamanan negara yang akan dikunjungi sampai dengan sex harassment yang mungkin dihadapi di tempat wisata tersebut. Feeling sangat diperlukan karena intusisi yang tajam menuntun untuk berhati-hati, waspada dalam memilih orang untuk bertanya menerima pemberian dan mengobrol.

– Solo travelling merupakan moment yang lebih banyak dihabiskan berjalan-jalan sendiri untuk menikmati ”quality time with our selves” bebas mengekspolasi diri, memilih tempat yang ingin dikunjungi, kegiatan yang disukai dan tidak ada paksaan dari siapa pun.

– Solo traveller merupakan implementasi menjadi manager untuk diri sendiri seperti visit attraction planning dan budgeting. Semakin diasah semakin cepat dalam mengambil keputusan dan memiliki rencana-rencana cadangan jika tidak sesuai dengan kenyataan (*).