Catatan Perjalanan Penang dan Singapura: Kisah Ayam Rempah hingga Hotel Mewah Seharga Satu Dolar

Oleh Putu Diah Sastri Pitanatri *)

Jalan-jalan di Singapura (foto Darma Putra)

Mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana didampingi Pak Syamsul (kaos putih) saat jalan-jalan di Singapura (foto Darma Putra)

 

Travel is the only thing you buy that makes you richer (Anonymous)

Merupakan blessing luar biasa bagi saya untuk mendapatkan kesempatan menghadiri seminar internasional di Penang, Malaysia, yang dilaksanakan Universiti Sains Malaysia bekerja sama dengan Program Studi Magister (S-2) Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Think City, dan Universitas Mercu Buana Jakarta, 21 Mei 2015 (http://tourism.pps.unud.ac.id/kajian-pariwisata-unud-berseminar-di-usm-penang.html#more-292).

Terlepas dari berbagai permasalahan yang mewarnai perjalanan ini, saya mendapat banyak pengalaman berharga yang tidak akan pernah saya dapatkan dalam text book mana pun, persis seperti kata pepatah yang mengatakan bahwa ‘perjalanan adalah sesuatu yang dibeli yang membuat kita kian kaya’, paling tidak kaya pengalaman dan cerita.

Penerbangan kami dari Denpasar-Penang bolak-balik menggunakan Singapore Airlines dengan transit di Bandara Changi dua kali (saat berangkat dan saat pulang). Ketika transit pulang, kami bermalam di Singapura dengan menikmati promo khusus dari penerbangan SIA (Singapore International Airlines), menginap di hotel mewah dengan hanya membayar $1, ya satu dolar.

Berikut beberapa pengalaman perjalanan di dua negara, Malaysia dan Singapura, yang saya coba rangkum secara ringkas.

Makan enggak makan yang penting wifi. Kata-kata tersebut tidak disangka memberi makna yang mendalam saat berada di negeri orang. Mahalnya biaya roaming membuat saya menon-aktifkan fitur-fitur perangkat elektronik kecuali wifi.

Saat mencapai sebuah destinasi, yang pertama kali ditanyakan adalah password wifi. Surga adalah saat mendapatkan sinyal wifi yang gratis dan neraka terjadi saat sinyal wifi sudah tidak lagi terdeteksi gadget.

Culture shock. Sebagai seorang pelancong yang sudah lama tidak melancong, saat-saat seperti ini membuat saya terdorong untuk merasakan budaya lokal. Dengan budget pas-pasan, satu-satunya budaya lokal yang dapat saya “nikmati” adalah kuliner. Hotel tempat kami bermalam di Penang, Cititel Express, adalah hotel baru gress yang terletak di pusat kota, dan sebuah mall besar dan nyaman hanya 300 meter jaraknya dengan jalur dua-tiga kali tikungan. Tak hanya gampang menjangkau mall dari hotel, tapi dalam perjalanan kami melewati rumah tua yang merupakan bagian dari heritage George Town UNESCO Heritage Site.

Barisan rumah tua di Penang, bagiand ari George Town Heritage (foto Darma Putra)

Barisan rumah tua di Penang, bagian dari George Town Heritage (Foto Darma Putra)

Membaca banyak review dari blog-blog traveler, banyak yang merekomendasikan ayam rempah khas Malaysia sebagai must eat dish saat berkunjung ke negara tersebut. Di food court mall yang kami kunjungi, saya memilih menu ayam khas Penang itu. Harganya RM 4.80 atau sekitar Rp 16.500 sudah termasuk nasi lemak, sambal bilis (teri) dan lalapan.
Betapa terkejutnya saya merasakan kuliner yang ternyata terasa sangat asing di lidah. Menurut saya rasanya sangat berempah, sehingga rasa ayam seakan-akan hilang dari peredaran. Belum lagi sambalnya yang pedas namun sangat kecut ikut berpartisipasi menambah shock saya saat mencoba menikmati masakan ini

Hotel Semalam $1. Kami beruntung karena dapat menginap di hotel mewah di Singapura hanya dengan harga $1, ya satu dolar karena mendapat promo khusus dari Singapore Airlines. Promo mereka berbunyi: Enjoy the vibrant sights and sounds of Singapore with a Singapore Stopover Holiday from S$1*! Inclusive of accommodation, return airport transfers and admission into major attractions (worth more than S$550), it’s a great way to explore the Garden City en-route to your final destination.

Promo Singapore Airlines International.

Promo Singapore Airlines International.

Berkat bantuan Mbak Febe Indah, GM Singapore Airlines di Bali, dalam last minutes departure, kami bisa mendapatkan promo dari SIA ini. Luar biasa. Kebetulan Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Pak Prof. Darma Putra kenal baik dengan Mbak Febe yang juga alumni S-2 Kajian Pariwisata Unud. Tanpa bantuan Mbak Febe, menurut Pak Darma, tidak mungkin dalam waktu pendek, kurang dari 24 jam, kami bisa mendapat promo istimewa ini.

Dengan paket ini, kami menginap di The Royal Queens Hotel. Yang mengagumkan, dalam paket promo ini kami mendapat voucher bus On Hop SIA untuk keliling kota bebas naik-turun di objek wisata terkenal Singapura seperti The Esplanade dan Hotel Raffles. Mbak Diah Suthari, istri Pak Darma yang lama bekerja di maskapai penerbangan Ansett Australia, memperlancar perjalanan kami sebagai ‘tour leader’ dadakan.

Di loroing Raffles Hotel Singapura, heritage yang dibangun abad ke-19 (Foto Darma Putra).

Di lorong Raffles Hotel, Singapura, heritage yang dibangun abad ke-19 (Foto Darma Putra).

Lost with no GPS. Teknologi telah memperbudak sebagian besar manusia di dunia termasuk saya. Sebagai orang Bali yang sampai saat ini tidak tahu kangin-kauh, GPS adalah penyelamat saya di sebuah destinasi asing. Di Singapura, kami menginap di hotel papan atas, The Royal Queens Hotel, berlokasi di Queens St. Lokasinya handy, dekat dengan keramaian dan pertokoan, seperti Bugis Junction yang jaraknya kurang dari satu kilometer.

Pengalaman saat kami kehilangan arah menuju hotel membuat saya memahami bagaimana di saat genting sosiologi lebih dibutuhkan dibandingkan teknologi. Malam itu, usai makan di food court Bugis Junction, kami sempat salah jalan menuju hotel. Perasaan mengatakan arah yang kami tuju benar, tapi langkah sepertinya kian salah dari tujuan arah.

Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya kami menemukan jalan tepat menuju hotel. Human interaction adalah GPS terbaik yang tidak akan pernah mampu diciptakan oleh teknologi sampai kapan pun.

Pedestrian walk dan infrastuktur transportasi yang sangat nyaman. Saya sangat setuju Singapura dijuluki sebagai surga bagi para pejalan kaki. Tanpa pedagang kaki lima pada trotor seperti di Indonesia, membuat berjalan kaki menjadi sangat leluasa. Belum lagi sistem trasportasinya yang membuat iri hampir semua negara di ASEAN. Jalan yang mulus menjangkau daerah-daerah wisata. Kebersihannya, kawasan yang tertata rapi, sampai tarif kunjungan yang dangat jelas.

Pariwisata yang terintegasi dan subsidi silang. Saya sangat beruntung untuk dapat menikmati apa yang disebut sebagi subsidi silang pariwisata Singapura. Melalui Singapore Airlines, Singapura mengintegrasikan trasportasi, akomodasi dan tour di dalam satu kesatuan yang sinergis.

Sebagai contoh, untuk ulang tahun Singapore Airlines, terdapat program khusus untuk tamu grup untuk mendapatkan voucher lebih dari SGD500 yang dapat dipergunakan untuk berbagai fasilitas dari akomoadasi sampai free entrance ke beberapa atraksi wisata. Selain itu kami bahkan memperoleh voucher senilai SGD40 yang dapat kami belanjakan sepuasnya di Changi Airport. Mbak Diah Suthari dengan sigap mengajak kami ke konter khusus mencari voucher untuk kemudian berbelanja senilai voucher.

Quality assurance dan themed Airport. Changi memang pantas mendapatkan gelar sebagai salah satu bandara terbaik di dunia. Tidak hanya penuh fasilitas yang family friendly, Changi juga menyediakan berbagai fasilitas bisnis, relaksasi bahkan mini garden dengan tema-tema yang menarik. Quality assurance yang dilakukan oleh changi Airport bahkan sampai menyentuh lini toilet attendant di mana pengunjung dapat memberikan voting terhadap pelayanan yang telah diberikan.

Kian Cinta Indonesia. Pengalaman singkat di dua negara tersebut saya entah mengapa membuat saya semakin mencintai Indonesia. Meskipun kita masih tertinggal jauh dari beberapa aspek seperti sarana dan prasarana transportasi, banyak competitive advantage yang kita miliki. Budaya dan keindahan alam menjadikan tanah air a never-ending list to visit.

Memang sebagai negara lebih dari 17000 pulau, menjadi cukup sulit untuk mengembangkan pariwisata secara terintegrasi seperti Singapura, tapi di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin bukan? ***

 *) Penulis adalah mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana, NIM 1491061001.