Catatan Perjalanan: Mendaki Gunung Agung, Gunung Tertinggi di Pulau Bali

Catatan Nonny Aji Sunaryo, Angkatan 2016

Jalan naik dan turun yang terjal di Gunung Agung.

Sore pada Sabtu 25/03/2017 saya, Ihyana Hulfa, dan Wiwik Nirmala Sari mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud berinisiatif mendaki untuk menikmati keindahan dan keagungan Gunung Agung dari dekat.

Gunung yang terletak di ujung timur Pulau Bali ini berketinggian 3.142 mdpl, gunung tertinggi Bali. Lebih dari tertinggi, Gunung Agung merupakan gunung yang dianggap suci dan sakral oleh masyarakat Hindu.

Selain Gunung Agung, ada gunung yang juga indah dan suci yaitu Gunung Batur (di daerah Kintamani, Kabupaten Bangli) dan Gunung Batukaru (daerah Kabupaten Tabanan).

Pemandangan di puncak Gunung Agung yang indah yang menjadi magnet baik untuk wisatawan lokal dan mancanegara, dimana kita dapat melihat lanskap pulau Bali, yang lebih menarik adalah puncak Gunung Rinjani di Pulau Lombok juga dapat terlihat.

Penampakan tangga menuju pura di pagi hari.

Siapkan Perlengkapan

Untuk pendakian ini, kami bersiap sehari sebelumnya. Pukul 18.00 WITA, kami mulai mengumpulkan perbekalan dan kelengkapan untuk mendaki. Perbekalan mencakup makanan, kopi/teh, gula, snack ringan yang manis seperti coklat, air minum, sedangkan perlengkapan untuk bersama dintaranya adalah alat masak, bahan bakar, kompor, alat makan (gelas, piring sendok).

Selain itu, perlengkapan pribadi yang sangat penting untuk dibawa dan digunakan saat mendaki adalah head lamp, jaket tebal, sarung tangan, jas hujan, dan sepatu gunung dengan kaos kaki tebal. Tracking pole atau tongkat, opsional namun saya rasa sangat membantu jika kita bawa. Sandal juga disarankan dibawa, sebagai ganti sepatu yang kita gunakan selepas mendaki.

Persiapan yang matang akan membuat pendakian nyaman dan aman. Dalam perjalanan ini kami bertiga ditemani dua kawan mahasiswa Udayana anggota Mapala dan seorang kawan dari Makasar yaitu Abang Agam yang merupakan guide pendakian di Gunung Rinjani, Lombok.

Karena masih awam, mengajak orang yang berpengalaman sangatlah penting. Mereka lebih sigap dalam membaca medan dan solutif jika ada permasalahan.

Perjalanan Dimulai

Berangkat dari Denpasar pukul 23.00 WITA, menggunakan tiga motor, dua diantaranya matic. Sebagai informasi tambahan, jalan menuju pos jaga sangat menyiksa motor matic kami dikarenakan jalan berliku dan menanjak dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Saya dan Wiwik harus turun dari motor, karena motor kami tidak bisa naik. Oleh karena itu, saya sarankan untuk tidak memakai motor matic ke sana.

Akhirnya kami sampai di pos jaga pukul 01.15 WITA. Kami beristirahat sebentar dan registrasi. Di sini kami membayar biaya restribusi sebesar Rp 10.000 per orang. Biaya ini tidak ada peraturan dan tiket pasti, sehingga besarnya biaya yang dikenakan kepada setiap wisatawan berbeda.

Selanjutnya kami mulai mendaki pukul 01.30 WITA. Di awal pendakian, kami melewati anak tangga menuju Pura Pasar Agung di kaki gunung ini, harus hati hati meskipun bagus tangga ini licin karena terbuat dari semen dan ditumbuhi lumut.

Medan yang Ekstrim

Medan gunung ini cukup ekstrim. Di awal perjalanan, kami disambut jalan yang licin berlumpur dan penuh akar pohon, selanjutnya medan tanah, berbatu, dan berkerikil, dan di akhir area batas vegetasi medan berupa bongkahan batu.

Saat mendaki, kami bertemu warga lokal masyarakat Kabupaten Karangasem yang mengantar banten (sesajen) ke puncak gunung dalam rangka upacara tawur kasanga. Pukul 02.45 WITA, kami tiba di pos 2  di ketinggian sekitar 1000 mdpl. Kami memutuskan untuk beristirahat, makan, dan membuat minuman hangat untuk mengusir dingin dari tubuh.

Memasak dan menghangatkan diri di tenda darurat.

Melanjutkan Pendakian

Puas beristirahat 04.15 WITA, kami melanjutkan pendakian. Di kondisi yang gelap, lembab, dingin dan medan tahap dua yang berbatu dan berkerikil cukup memperlambat langkah kami, hingga tiba di Pos 3 jam 05.00 WITA. Di pos tiga kami beristirahat sebentar, namun saat kami beristirahat cuaca berubah. Kabut turun, kami memutuskan menggunakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan.

Cuaca semakin tidak mendukung. Turun hujan dan hawa semakin dingin. Pukul 05.30 WITA, kami memutuskan membuka tenda. Medan sudah mendekati batas vegetasi berupa bongkahan batu. Tenda yang kami buat merupakan tenda darurat yang asal bisa untuk berteduh. Sembari menunggu hujan reda saya, Wiwik, dan Ulfa tidur sebentar dalam keadaan badan basah dan kedinginan.

Kami berada di ketinggian 2500 mdpl, suhu sekitar 8 derajat. Pukul 07.00 belum cuaca belum menampakkan perubahan signifikan untuk menjadi lebih baik, sambil menunggu kami memutuskan untuk memasak perbekalan di dalam tenda.

Memasak air untuk membuat minuman di Pos 2.

Turun demi Keamanan

Pukul 07.30 WITA, kami memutuskan bongkar tenda. Abang Agam, sebagai guide kami, dia memperkirakan dengan melihat awan di atas puncak berwarna hitam yang berarti  sedang badai, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk turun saja dengan alasan keamanan.

Alhasil walaupun pendakian ini belum berhasil mencapai puncak, pendakian ini merupakan pengalaman yang berkesan. Pendakian ini mengajarkan kami usahakan tujuanmu, namun apabila hambatan terlalu membahayakan, tunda, coba capai lagi di waktu yang tepat dan strategi yang mantap untuk mencapainya.

Papan pengumuman.

Catatan Tambahan

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk kelestarian alam di Gunung Agung. Masih ada wisatawan yang belum sadar akan kelestarian lingkungan, terbukti terdapat aksi vandalisme berupa coretan tulisan pada batu-batu besar dan masih saya jumpai sampah anorganik, kendati sudah ada papan peringatan di daerah pos jaga.

Solusi yang mungkin dapat dilakukan adalah memeriksa barang bawaan pendaki, dimana yang berpotensi menjadi sampah harus dicek pulang pergi, dan dikenakan denda apabila ada yang hilang. Barang yang dapat digunakan untuk mecorat-coret sebaiknya disita.

Para pendaki biasanya datang di malam hari, sebaiknya papan peringatan dan pengumuman diberi lampu agar bisa dibaca dengan baik oleh wisatawan (*).