Catatan Perjalanan: Berwisata ke Berlin bersama Mahasiswa Internasional University of Applied Sciences Stralsund

Catatan Diah Praba, Angkatan 2015

d1

Berwisata ke Berlin bersama mahasiswa internasional. Penulis di depan berjaket putih.

The world is a book, and those who do not travel read only a page” [Saint Augustine]”

Ini pertama kalinya kami mengikuti perjalanan ke Berlin. Perjalanan wisata di akhir pekan Sabtu, 12 November 2016 ini dirancang oleh Lena Muller, Incoming Student Coordinator, International Academic Service Tourism Development Strategies, University of Applied Sciences Stralsund.

Kami, Dewa Putu Bagus Pujawan Putra, Ni Putu Diah Prabawati, Reinaldo Rafael Laluyan, Ni Putu Rika Sukmadewi, dan Gusti Ngurah Agus Adi Putra, adalah mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud yang mengikuti Program Joint Curriculum/Transfer Kredit Asia & Europe/ASEM di University of Applied Sciences Stralsund, 3 jam dari Berlin, Program ini dibiayai oleh Direktorat Belmawa Ristek Dikti.

Perjalanan ini sangat bermanfaat bagi kami selaku mahasiswa kajian pariwisata, yakni untuk pengayaan pengetahuan saat belajar pariwisata di Stralsund. Perjalanan ini lebih semangat dengan gabungan kawan-kawan pelajar internasional yang berasal dari Jerman, Italy, India, Finlandia, Ukraine, Perancis.

Wisata ke Berlin ini kami pesan jauh-jauh hari saat kami masih berada di Bali.

d2

Foto audio guide

Dengan baik hati buddy kami yaitu Caroline, Birgit dan Lena Mushmann bersedia meminjamkan uang terlebih dahulu untuk dibayarkan seharga €35 dan pada saat sesampai di Stralsund kami ganti.

Biasa Tepat Waktu

“Living like local” kami harus sudah terbiasa dengan ketepatan waktu orang Jerman dan cara berjalan yang seperti berlari. Perjalanan kami sebagaian besar dihabiskan dengan berjalan kaki untuk mencapai atraksi wisata.

Siang itu kami menyusuri sungai dengan perahu “wasser taxi” yang cukup besar untuk melihat panorama Berlin semacam city tour. Cara pengorganisasian boat tepat waktu dan keadaan dalam boat bersih, terdapat restoran yang menawarkan makanan khas jerman seperti curry wurst dan juga kopi selagi menikmati pemandangan kota Berlin.

Tidak ada pemandu wisata dalam city tour ini melainkan digantikan dengan audio guide dengan berbagai pilihan bahasa seperti Bahasa Perancis, Inggris, Italia, Polandia, Spanyol, Russia dengan lengkap lagu-lagu pengiring seakan dibawa merasakan kembali pada zaman lalu.

Grafiti di Tembok

Durasi menyusuri sungai sepanjang Kota Berlin sekitar 20 menit. Penulis tertarik bertanya kepada Marika, salah satu peserta tour yang juga warga Jerman: “Mengapa di sepanjang jalan yang kami lewati banyak terdapat grafiti?”

Marika menjelaskan bahwa hal itu ilegal dan dilakukan oleh beberapa kelompok orang, sama seperti kota-kota besar pada umumnya. Polisi pun tidak bisa menangkap orang-orang tersebut karena tidak mengetahui pasti dan hal itu massive terjadi di mana-mana. Kadang-kadang corat-corat-coret tersebut menyebabkan terlihat kotor dan kadang juga dianggap sebagai seni. “It’s better than just a wall”, lebih baik daripada hanya tembok.

Peserta perjalanan diberikan waktu bebas untuk mengunjungi atraksi wisata sesuai dengan keinginannya, pada saat itu kumpulan peserta Prancis memilih untuk pergi clubbing, Lena dan beberapa yang lain pergi ke Berlin Zoo dan kami peserta Bali kecuali Reynaldo, berkunjung ke Brandenburg Gate karena kurang lengkap jika berkunjung ke Berlin tanpa mengunjungi monumen ini.

Terdapat sekerumunan orang yang sedang melakukan demonstrasi berkaitan dengan pemilihan Presiden Amerika Serikat. Memang tempat ini sering menjadi tempat untuk melakukan demonstrasi secara tertib.

Setelah merasa puas berkeliling ditengah perjalanan pulang kami dihampiri segerombolan orang untuk meminta tanda tanggan donasi. Penulis tidak menggubris hal tersebut dan melanjutkan berjalan, sementara tiga teman meladeni dengan memberikan tanda tanggan sampai akhirnya mereka meminta sejumlah uang.

Menyadari hal tersebut, Gusti merasa hal ini tidak benar dan tidak memberikan uang dan pergi menyusul penulis. Tanpa sadar dompet Dewa diambil oleh segerombolan orang tersebut dan baru menyadarinya seketika salah satu orang tersebut mengembalikan dompetnya, sejumalah €200 hilang.

Beruntung tidak ada dokumen berharga yang diambil. Kejadian ini menjadi pengalaman yang berharga sekaligus mahal bagi kami dan khususnya Dewa.

d3

Glazed in Dome di Berlin

Gedung Parlemen

Pada esok hari, menerobos suhu -4 derajat celsius untuk melengkapi rasa ingin tahu, hanya delapan orang peserta yang tertarik ikut ke Gedung Parlemen Jerman, Deutscher Bundestag. Pada tampak  depan gedung ini terpancar arsitektur megah dan klasik dengan pahatan khas Eropa sangat memukau.

Penjagaan saat memasuki gedung ini sangat ketat, para peserta tour harus membuat janji terlebih dahulu, memeriksa identitas dan semua barang harus di scan terlebih dahulu sebelum masuk. Pengaturan kunjungan sangat rapi, para penjaga khusus mengantarkan untuk masuk ke dalam. Tergugah saat memasuki bagian dalam karena sangat bertolak belakang dengan tampak depan.

Gedung ini dibangun dengan gaya modern dengan walk – in glazed dome sehingga terlihat jelas panorama kota Berlin secara keseluruhan dari atas gedung.

Terdapat sejarah singkat  pemerintahan Jerman dalam bentuk tulisan dikotak kaca dan dilengkapi pula penjelasan melalui audio guide dikemas dengan bahasa yang lugas tanpa menyembunyikan fakta yang ada.

Kunjungan selanjutnya ke Museum Story of Berlin yang dikemas apik secara tiga Dimensi, kami disajikan sejarah dari Kota Berlin dari awal Kerajaan Prussia, Perang Dunia I, Perang Dunia II. Para peserta juga berkesempatan mengikuti tour of Bunker karena pada lantai bawah tanah museum ini terdapat Bunker yang digunakan pada jaman terjadinya perang dingin.

Tanpa terasa perjalanan sudah harus usai, peserta berkumpul kembali di hostel tempat menginap dan kembali ke Stralsund dengan menggunakan kereta selama tiga jam perjalanan.

Dari perjalanan singkat ke Kota Berlin tersirat kejadian masa silam yang begitu melekat dan menjadikan Kota Berlin sebagai destinasi yang penuh kenangan.

Dunia ini sebuah buku, seperti kata Saint Augustine, perjalanan kami ke Kota Berlin ibaratnya kami baru membaca beberapa paragraf.