Catatan Event: Ubud Royal Weekend 2015 “Creativity, Culture, Civilization”

IMG_5533

Oleh Putu Diah Sastri Pitanatri *)

Sabtu 6 Juni 2015, saya berkesempatan untuk menghadiri mini gathering yang di-organize oleh Markplus Institute dengan tuan rumah Museum Puri Lukisan Ubud, Bali.   Acara yang diisi dengan seminar ini merupakan bagian dari acara “Ubud Royal Weekend” yang bertema “Creativity, Culture, Civilization”, berlangsung 5-7 Juni.

Yang menarik dalam mini gathering adalah sinergisitas dua menteri yang memberi kesan birokrat yang merakyat. Kedua menteri yang tampil saat itu adalah Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) AAGN Puspayoga. Keduanya memberikan pemaparan materi tentang kreativitas yang disampaikan dalam suasana rileks  sesuai dengan suasana indah halaman sejuk hijau Museum Puri Lukisan Ubud.

Suasana seminar bertambah kian terasa santai karena dipandu oleh TV persona Andy F Noya (Kick Andy). Seminar dihadiri tokoh-tokoh dari berbagai elemen termasuk Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pimpinan MArkPlus Hermawan Kartajaya dan tokoh Puri Ubud Cokorda Putra Sukawati dan keluarga.

“Ubud Royal Weekend” tahun 2015 merupakan yang kedua, setelah yang pertama dihelat 2014 di tempat yang sama. Berikut highlight kegiatan secara singkat:

Peresmian ‘Eat, Pray Love Package Tour’. Paket tur berspeda ini diluncurkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Jalur tur bersepeda adalah menelusuri perjalanan tokoh film “Eat Pray Love” saat syuting di Ubud.

Ini adalah pertama kalinya saya menghadiri acara peresmian tanpa protokoler panjang, tanpa sambutan ketua panitia, tanpa laporan pihak penyelenggara dan tanpa tari sambutan. Peresmian oleh pejabat negara sekelas Menteri justru padat dan bermakna karena disampaikan dengan sangat menarik, tentang promosi pariwisata dengan budaya. Strategi kita adalah “menjual budaya, sedikit kontradiktif, katanya, namun menurutnya saat terjadi balance antara manfaat ekonomis dengan budaya, maka pada saat itulah akan tercipta culture sustainability. Korea, misalnya, merupakan salah satu negara yang sangat berhasil memajukan pariwisatanya dengan menjual “budaya”.

Banyuwangi, Sunrise From Java. Saya kagum sekaligus terperanjat atas pencapaian Banyuwangi. Sebagai sebuah kota yang seringkali terlewatkan, pemerintah daerah Banyuwangi melakukan terobosan yang harus di copy-paste kota-kota lain di Indonesia: memutus rantai birokrasi.

Komunikasi dilakukan kepala daerah kepada staff melalui BBM, watsapp group dan email. Keputusan dapat diperoleh dengan cepat dan dan sangat efisien waktu dan tenaga.

Strategi pemasaran pariwisata pun dilakukan dengan melibatkan rakyat melalui pemasangan 1400 spot wifi gratis sehingga masyarakat dapat meng-upload status dan foto ke akun media sosial mengenai keindahan destinasi pariwisata Banyuwangi.

Pengerahan para sosialita ini ternyata berdampak positif terhadap visibility Banyuwangi di media. Banyuwangi yang dulunya terkenal sebagai kota “santet” kini menjadi kota pariwisata yang sering menjadi “trending topic” di sosial media. *dua jempol*

Kreativitas, Inovasi dan Semangat yang tak Pernah Padam. Mungkin itu hal yang saya pelajari dari pemaparan Dynand Fariz, pencetus Jember Fashion Carnival. Bagaimana tidak, pemenang perancang terbaik di pentas sekelas Miss Universe ini mampu mengubah kesan Jember yang adem ayem menjadi destinasi unik karena parade fashion carnival-nya.

Hebatya lagi kita harus memesan kamar jauh-jauh hari sebelum parade berlansung karena dipastikan hotel di Jember pasti fully booked bahkan dua bulan sebelum festival berlangsung.

Revolusi Mental. Topik ini dibawakan dengan penuh semangat oleh Prof Paulus Wiroutomo. Bagaimana Indonesia merupakan bangsa besar yang berpotensi untuk menjadi hebat jika ada gerakan terstruktur, massif dan kontinu dari segenap aspek masyarakatnya.

Revolusi Mental jangan dibuat “mēntal” dengan meyakini ini adalah tugas pemerintah semata. Masyakat pun dapat berkontribusi gerakan ini mulai dari tidak membuang sampah sembarangan sampai semangat anti-KKN.

Penciptaan UKM yang Kreatif dan Inovatif, merupakan topik yang dibawakan oleh AAGN Puspayoga, Meteri Koperasi dan UKM. Melalui siaran live oleh radio RRI Pro 3, Puspayoga mendorong masyarakat untuk menjadi pencipta lapangan kerja bukan lagi sebagai pencari kerja.

Mindset bahwa pengurusan izin usaha dan hak paten yang berbelit-belit dipatahkannya dengan ke luarnya kebijakan baru yang akan dituangkan melalui Peraturan Menteri. Izin usaha dan pendaftaran hak paten dapat diperoleh secara GRATIS dengan waktu tunggu selambat-lambatnya 2×24 jam.

Prosedur online juga sedang diusahakan oleh kementerian UKM sehingga gairah masyarakat untuk berwirausaha menjadi semakin tinggi.

Jelajah Museum. Setelah sesi diskusi usai, acara dilanjutkan dengan sesi jalan-jalan menjelajahi Museum Puri Lukisan Ubud. Yang menarik, guide kami adalah Raja Ubud sendiri Tjokorda Gde Putra Sukawati.

Sungguh pengalaman yang sangat berharga saat beliau menceritakan sejarah Ubud sebagai destinasi pariwisata budaya sejak tahun 1930-an. Melihat langsung guest book puri Ubud, tercatat nama-nama dunia mulai dari Marilyn Monroe, Charlie Chaplin sampai President Kennedy.

Kesempatan Luar Biasa

Saya sungguh beruntung mendapat kesempatan yang sangat luar biasa seperti ini oleh MarkPlus Centre of Tourism and Hospitality melalui Bapak Hermawan Kartajaya. Hanya dalam satu hari, membuat saya semakin optimis bahwa perubahan besar ke arah yang lebih baik sedang terjadi di Indonesia.

Generasi muda, masyarakat dan pemerintah mulai bersatu dan bersinergi untuk menciptakan Indonesia hebat. Mari kita buat perubahan untuk bangsa dan negara yang kita cintai ini! Jayalah selalu Indonesia!

 *) Penulis adalah mahasiswa S-2 Kajian Pariwisata Universitas Udayana, NIM 1491061001.