Buku Pariwisata dan “Jurnal Kajian Bali” untuk Maestro Nyoman Gunarsa

IMG_5574

Maestro Nyoman Gunarsa memegang buku Recent Development in Bali Tourism dan Jurnal Kajian Bali di studionya di Klungkung, Bali Timur. Cover jurnal adalah lukisan baligrafi Sang Maestro. Buku dan jurnal disampaikan Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud, 25 Mei 2016.

Kaprodi Magister Kajian Pariwisata I Nyoman Darma Putra menyerahkan buku Recent Development in Bali Tourism: Culture, Heritage, and Landscape in an Open Fortress (2015) I Nyoman Darma Putra dan Siobhan Campbell dari University of Sydney kepada Maestro Nyoman Gunarsa di studionya di Klungkung, Bali Timur, Rabu, 25 Mei 2016.

Saat itu, Darma Putra juga menyampaikan Jurnal Kajian Bali edisi April 2016 yang gambar sampulnya adalah hasil goresan estetik oleh Maestro Nyoman Gunarsa. Buku dan jurnal juga diserahkan kepada Prof Emeritus Peter Worsley dari University of Sydney. Worlsey yang dikenal di Bali sebagai penulis buku Babad Buleleng (1972) belakangan banyak melakukan penelitian tentang seni lukis klasik Bali termasuk di koleksi Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa.

IMG_5578

Prof. Emeritus Peter Worsley di Museum Gunarsa memegang buku dan jurnal.

“Pak Nyoman selalu sigap membantu kami jika memerlukan ilustrasi lukisan untuk sampul buku atau jurnal,” ujar Darma Putra, yang sejak lama akrab dengan mantan dosen seni rupa ISI Yogya itu. Beberapa waktu lalu, Gunarsa juga menyediakan lukisan karyanya untuk sampul kumpulan puisi berbahasa Bali Den Pasar lan Don Pasar (2014).

Nyoman Gunarsa tidak saja terkenal sebagai pelukis tetapi juga pendiri museum Seni Lukis Klasik Bali, yang kini menjadi salah satu objek wisata budaya di Bali Timur.

“Selain untuk wisatawan, museum ini juga untuk pelestarian seni lukis dan tempat generasi budaya mengenal warisan budaya Bali,” ujar Nyoman Gunarsa.

Nyoman Gunarsa sering bekerja sama dengan masyarakat setempat dan seniman Bali, untuk menggelar berbagai festival seni, termasuk seni bahasa dan sastra Bali. Dia pernah menggelar festival barong, festival tari, dan The International Festival of Balinese Language pada bulan November 2013 lalu.

Festival-festival itu merupakan sarana hiburan dan pendidikan seni budaya. (*)