Berfoto dengan Air Mancur, Sepotong Kenangan dari Mengikuti Program Double Degree di Perancis

Oleh Erinda Moniaga, Alumni DDIP 2013 – 2014

Menara Eiffel (Foto-foto Erinda Moniaga).

Izinkan saya mengenang kembali masa-masa ketika saya mengikuti program Double Degree Indonesia Prancis di tahun 2013-2014, sebuah program kerja sama antara Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana dengan universitas di Prancis, yang didanai oleh Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia (sebelumnya bernama Mendibud, Mendiknas).

Mengingat kembali kisah penuh kenangan itu bermula dari sini.

Kerumunan anak-anak muda mengelilingi Patung Caturmuka yang berdiri di tengah-tengah perempatan jalan lapangan Puputan Denpasar, nampak begitu antusias memotret patung beserta air mancurnya yang kini tiap malam disinari lampu berwarna-warni, atau malah sibuk ber-selfie ria bersama kawan-kawan mereka.

Lampu-lalu lintas berubah merah, dan kendaraan yang saya tumpangi berhenti. Seorang kerabat saya menyeletuk berkomentar, “Sama air mancur aja fotoan. Desa sekali.”

Air mancur di Catur Muka Denpasar.

Beberapa orang di mobil tertawa kecil seraya bergumam mengiyakan.

“Memangnya kenapa fotoan sama air mancur?” tiba-tiba saya menyahut, defensif. “Waktu kemarin di Paris juga aku fotoan sama air mancur. ‘Kan bagus, biar ada kenang-kenangan.”

Perdebatan dilanjutkan, “Ya kan kamu waktu itu statusnya turis, kalo mereka kan orang Bali. Men kal anggo engken mepotrek di muka air mancur?”

Penulis di depan air mancur, Place de la Sorbonne, beberapa hari setelah ujian tesis dilaksanakan, sebagai kenang-kenangan.

Hampir saja saya membalas dengan pertanyaan ‘tahu dari mana orang-orang di air mancur sana itu orang Bali’, tapi urung.

Diam saja daripada energi terkuras.

Lampu berubah hijau dan kendaraan meluncur meninggalkan pemandangan tadi, yang terus saya pandangi dari jendela mobil sampai menghilang dari jangkauan penglihatan. Memori yang belum lama terpendam di otak saya kembali terusik.

Saat kejadian ini berlangsung, kondisi saya ketika itu baru saja kembali tinggal di Bali setelah melewati periode dua belas bulan tinggal di negara asing demi menuntut ilmu, didanai oleh beasiswa pemerintah Indonesia.

Foto diambil dari puncak Menara Eiffel, objek yang nampak di foto adalah l’Arc de Triomphe/Gerbang Kemenangan.

Fragmen kehidupan yang terjadi di sana di luar impian saya yang paling liar, mendapat kesempatan untuk kuliah di Université Paris 1 – Panthéon Sorbonne dan tinggal di kota Paris yang begitu tersohor. Kota dengan arsitektur klasik¾yang bagi para pelancong¾nanromantis di mana setiap sudutnya mampu dijadikan latar belakang foto bercitarasa seni tinggi. Bahkan, berfoto di depan air mancur saja sudah terasa mewah.

Barangkali penduduk kota Paris, beken disapa Parisien, pun berpikir hal yang sama, buat apa berfoto di depan air mancur yang sehari-harinya dilewati? Kesamaan para penduduk ini adalah saking terbiasanya melihat sesuatu, jadinya tidak bisa lagi mengapresiasi benda-benda layaknya ketika kali pertama tahu.

Kerinduan akan Kota Cahaya itu selalu ada, bahkan sampai detik tulisan ini diketik.

Perandaian bisa kembali ke sana meski hanya sekadar berjalan-jalan pun sekali-dua kali menghampiri benak. Benar memang Paris bukanlah kota yang ramah, justru cenderung menyebalkan, tapi entah mengapa hal-hal yang membuat kesal itu malah begitu berkesan.

Di jembatan dekat Katedral Notre-Dame Paris di kala rembang petang, salah satu lokasi wisata yang populer di ibu kota.

Serba Cepat

Ritme kehidupan orang-orang yang serbacepat seolah-olah dikejar-kejar, pesingnya bau stasiun metro bawah tanah, ketidakramahan penduduknya, ketiadaan senyum akrab serupa masyarakat Indonesia, rumitnya proses administrasi di berbagai tempat, serta seringnya mereka mengeluhkan berbagai hal mulai dari mesin kopi yang rusak sampai ketidakadilan waktu cuti bekerja bagi pilot pesawat perusahaan negara.

Namun, semua itu sepadan dengan praktisnya sistem kehidupan yang tersedia, kemudahan-kemudahan yang diberikan di balik rumitnya mengurus dokumen perlengkapan, kesempatan bertemu orang dari berbagai belahan dunia, bahkan berjalan-jalan dengan begitu gampang di negara-negara Uni Eropa.

Menara Eiffel, Paris (foto Darma Putra).

Utamanya lagi, kerinduan pada kue, roti, keju, dan anggur Prancis. Agak frustrasi mulanya ketika di Denpasar tidak bisa mendapati croissant atau pain au chocolat yang mirip seperti yang dijual di patisserie atau boulangerie di Prancis. Diikuti dengan mahalnya harga produk keju di supermarket, dan terbatasnya ketersediaan anggur.

Saking terbiasanya akan satu pola hidup, meskipun hanya terjadi dalam waktu singkat, ternyata mampu mengubah beragam persepsi lama menjadi sesuatu yang terbalik. Dari suka pedas menjadi tidak suka pedas. Dari yang mulanya tidak mengerti apa enaknya minum anggur asam, ternyata ada jenis anggur yang tidak asam.

Dari mulanya yang selalu tepat waktu, bisa menjadi tidak tepat waktu. Dari yang kurus menjadi berisi. Dari yang tidak suka berkunjung ke museum serta tempat wisata, menjadi tergila-gila akan petualangan. Dunia tidak lagi dipandang semata-mata sebagai area hitam dan putih, tapi muncul area abu-abu yang menuntut kita untuk memahami dan mendekonstruksi sebuah permasalahan yang muncul.

Paris membantu saya sebagai individu untuk belajar beragam seni kehidupan. Bagaimana hidup dan menghargai hidup. Paris mengajak saya untuk selalu dipenuhi rasa ingin tahu dan apresiasi.

Di piramida kaca di Museum Louvre.

Paris memberikan saya pertemanan seumur hidup. Kesempatan ini tentunya tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak dan semangat yang terus-menerus dijaga agar tidak mudah padam.

Saya kembali teringat pada air mancur berwarna-warni di kolam Patung Caturmuka. Tak lama waktu berselang, saya mengunjunginya dengan sepeda motor dan berfoto di sana. Kenang-kenangan untuk masa mendatang.

Apalagi yang bisa kita gunakan untuk mengenang dalam wujud fisik selain foto?

*) Erinda Moniaga, Alumni DDIP 2013 – 2014, Universitas Udayana & Université Paris 1 – Panthéon Sorbonne