Monthly Archives: April 2017

Seminar Peranan Angkutan Udara dan Manajemen Logistik Menunjang Industri Pariwisata

Pemakalah Gus Mananda saat mempresentasikan makalah dalam seminar pariwisata, Jumat, 21 April 2017.

Sekitar 17 mahasiswa Prodi MagisterKajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud mengikuti seminar pariwisata yang berlangsung, Jumat, 21 April 2017, di Ruang Soka, Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Seminar yang berlangsung tepat pada Perayaan Hari Kartini itu diselenggarakan mahasiswa Jurusan S1 Industri Perjalanan Wisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Dosen University of Melbourne Tertarik Teliti Seni Pertunjukan Pariwisata

Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud Prof Darma Putra menyerahkan buku kepada A/Prof Paul Rae, ahli seni pertunjukan dan teater dari University of Melbourne, Sabtu, 22 April 2017.

Dosen University of Melbourne Australia tertarik untuk meneliti seni pertunjukan legong dalam konteks kepariwisataan.

“Saya sudah menonton legong di Ubud beberapa kali dan tertarik untuk mendalami apa makna tarian ini bagi wisatawan, masyarakat, dan bagi dunia seni pertunjukan itu sendiri,” ujar A/Prof. Paul Rae, dosen teater dan cultural communication, University of Melbourne.

Dua Wartawan ‘Kompas’ Kunjungi Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud

Wartawan Kompas Hamzirwan Hamid (kanan) menerima tiga buku tentang Bali dari Kaprodi S-2 Kajian Pariwisata Prof. Darma Putra, Rabu, 19 April 2014 (Foto Nina Susilo).

Dua wartawan Kompas dari Jakarta berkunjung ke Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, Rabu, 19 April 2017. Kedatangan mereka diterima Kaprodi Prof. I Nyoman Darma Putra di ruang Kaprodi, Gedung Pascasarjana, Unud, Denpasar.

Kedua wartawan Kompas tersebut adalah Hamzirwan Hamid (Wakil Kepala Biro Istana) dan wartawati Nina Susilo Hamzirwan adalah alumnus Universitas Syahkuala Banda Aceh, sedangkan Nina meraih gelar master dari sebuah perguruan tinggi di New Zealand.

Pariwisata Bali Berkembang 100 Tahun, namun Sejarahnya belum Ditulis Khusus

Beberapa buku biografi pelaku pariwisata dan seniman Bali yang mengandung banyak informasi tentang pariwisata.

Pariwisata Bali sudah berkembang dalam 100 tahun terakhir namun sejarahnya belum pernah ditulis secara khusus.

Demikian disampaikan Kaprodi Magister Kajian Pariwisata Unud Prof. I Nyoman Darma Putra dalam seminar nasional “Nilai-nilai Kearifan dalam Konteks Sejarah Lokal di Bali” di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, 17 April 2017.

Berfoto dengan Air Mancur, Sepotong Kenangan dari Mengikuti Program Double Degree di Perancis

Oleh Erinda Moniaga, Alumni DDIP 2013 – 2014

Menara Eiffel (Foto-foto Erinda Moniaga).

Izinkan saya mengenang kembali masa-masa ketika saya mengikuti program Double Degree Indonesia Prancis di tahun 2013-2014, sebuah program kerja sama antara Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana dengan universitas di Prancis, yang didanai oleh Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia (sebelumnya bernama Mendibud, Mendiknas).

Mengingat kembali kisah penuh kenangan itu bermula dari sini.

Tulisan Prof. Ardika Dimuat sebagai Bab Buku “WISDOM: Local Wisdom Global Solutions”

Prof. Dr. I Wayan Ardika (foto Darma Putra).

Artikel karya guru besar arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang juga dosen Prodi Magister Kajian Pariwisata Unud Prof. Dr. I Wayan Ardika,M.A. dimuat sebagai book chapter dalam buku WISDOM: Local Wisdom Global Solutions (2016).

Buku yang disunting guru besar UGM dan Mantan Wakil Mendiknas Bidang Kebudayaan Prof.  Dr. Wiendu Nuryanti ini diterbitkan oleh Gajah Mada University Press akhir tahun lalu.

Enam Mahasiswa Kajian Pariwisata Ikuti Seminar Internasional “Managing Risk in Event” di STP Nusa Dua

Catatan Nonny Aji Sunaryo, Angkatan 2016

Foto Bersama Seusai Seminar

Enam mahasiswa Magister Kajian Pariwisata Fakultas Pariwisata Unud menghadiri seminar setengah hari yang bertajuk Managing Risk Event, di STP Nusa Dua,  Kamis, 30 Maret 2017. Keenam mahasiswa tersebut adalah  Ihyana, Tiara, Tomi, Yuliska, Esther, dan Nonny (penulis).

Seminar yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini  bertujuan untuk memberi informasi dan pengetahuan tentang strategi bagaimana memenangkan dan melaksanakan dengan baik “Bisnis MICE di Bali, Risk and Crisis Management for Events- A UK Perspective

Acara dilaksanakan oleh mahasiswa MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) and Event Management 2014 sebagai ajang praktik apa yang sudah mereka pelajari.

Seminar Bagus

Menurut kami, pelaksanaan seminar ini bagus. Saat pelaksanaan seminar sempat terjadi kendala ketika mic error namun dengan sigap panitia menggantinya dengan mic spare, hal ini menunjukkan  kesiap-siagaan panitia, penyediaan cadangan fasilitas memang sangat penting dalam kesuksesan dan kelancaran MICE.

Selain itu, panitia juga menyebar angket, di mana mereka meminta pendapat hadirin tentang acara ini yang nantinya menjadi bahan evaluasi.

Materi yang ditawarkan dalam seminar ini sangat bagus, sayangnya karena free kuota sangat terbatas, menurut saya sebaiknya dipunggut biaya namun dalam taraf bisa dijangkau mahasiswa. Ketika acara makan siang, sebaiknya para peserta jangan dipisahkan sehingga bisa menjadi jembatan komunikasi untuk membuat koneksi dan bertukar informasi karena tidak mungkin saling berbicara di dalam ruang seminar.

Dua Sesi

Pelaksanaan Seminar ini terbagi menjadi dua sesi dengan pembicara berbeda. Sesi pertama dimulai pukul 09.30 WITA, ditampilkan Bapak Ida Bagus Lolec Surakusuma sebagai pembicara pertama. Beliau adalah Managing Director PT Pacific World Nusantara Bali-Indonesia, perusahaan perjalanan wisata yang memiliki jaringan pemasaran internasional. Materi yang disampaikan tentang strategi bagaimana memenangkan bisnis MICE di Bali.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang mengembangkan 16 destinasi MICE di Indonesia diantaranya Batam, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Bali, Padang, Lombok, Makassar, Manado, Balikpapan, dan Medan. Saat ini menurut Bapak Lolec, pemasar MICE di Indonesia lebih membidik pasar nasional saja, padahal untuk memikat secara internasional sangatlah terbuka peluangnya.

“Salah satu pasar potensial yang terdekat dengan Indonesia adalah Australia,” ujarnya pengusaha yang juga kartunis dan pelukis ini.

Bali dianggap salah satu destinasi yang paling siap karena telah memiliki bekal di mana elemen 4A (attraction, accesibility, amenity, ancilliary) sudah memadai.

Selanjutnya, beberapa strategi yang dapat dilakukan agar Bali menang dalam kompetisi pasar MICE lokal ataupun global. Pertama, sebagai Professional Exhibition Organizer (PEO) ataupun Professional Conference Organizer (PCO) harus membuat proposal yang atraktif dan kreatif yang isinya juga harus lengkap sehingga dapat mengakomodir kebutuhan klien.

Kedua, keahlian marketer juga menentukan, seorang pemasar harus memiliki kemampuan bahasa yang baik agar dapat menjadi story teller yang menunjukkan bahwasanya mereka menguasai produk yang ditawarkan dengan baik. Marketer juga harus peka dan dapat menempatkan diri dengan baik agar klien merasa senang dan nyaman sehingga mereka mau membeli apa yang ditawakan.

“Intinya ini adalah seorang marketer harus memahami apa yang diinginkan client,” tuturnya.

Ketiga meningkatkan nilai jual dengan penerapan due and diligence, memperhatikan kebutuhan akan kesehatan dan keselamatan, asuransi, dan kualitas layanan jasa, yang terakhir hendaknya PEO/PCO melakukan sales call dan trade show didalam maupun di luar negeri. Hal ini membutuhkan dukungan pemerintah terutama dalam masalah pendanaan karena event promosi seperti trade show keluar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun sebagai destinasi yang digadang-gadang sebagai tuan rumah MICE, Bali masih mempunyai kelemahan dan kekurangan yang harus segera mendapatkan perhatian dan penangganan, diantaranya adalah problem carut marutnya atribut papan reklame dan kabel arus listrik,  selanjutnya ancaman akan hilangnya arsitektur Bali karena pengaruh moderenisasi dampak dari pariwisata itu sendiri. Hendaknya pemerintah segera mengambil langkah solutif dan aktif untuk mengatasi permasalahan ini.

Profesor David Hind ketika menyampaikan materi.

Sesi Kedua

Sesi kedua  dimulai pukul 13.15, Profesor David Hind sebagai pembicara kedua. Beliau adalah Dean of School, Events Tourism & Hospitality, Leeds Beckett University, UK 2016, President OF Asia Pasific Institute for Events Management 2016, Visiting Professor at STP (Sekolah tinggi Ilmu Pariwisata) Bali, Bandung, and Chung Hua University.

Lebih dari 32 tahun kiprahnya baik secara akademik dan praktis dalam design, delivery and management of academic programmes in events, tourism and hospitality in the UK and Asia. Materi yang disampaikan Risk and Crisis Management for Events- A UK Perspective.

Prof. Hind menyampaikan tentang The Importance of the MICE/Events Industry to Indonesia and why managing Health & Safety at Events is ESSENTIAL. PEO harus selalu memegang dua pemikiran di kepala mereka sepanjang waktu yaitu tentang kesehatan dan keamanan. Hal utama yang harus dipikirkan penyelenggara adalah hazard and risk perhelatan dan solusinya karena sesungguhnya keselamatan adalah tanggung jawab utama penyelenggara.

Hazard adalah sesuatu yang dapat menyakiti, hal ini dapat berasal dari dalam dikarenakan staff behaviour, poor maintenance, lack of supervision,  namun dapat juga dari luar seperti strike action, terrorism, wheather, crime.

Risk adalah kesempatan bahaya terjadi dan tingkat bahanyanya. Kunci agar bahaya dapat ditangani dengan cepat, diawal harus sudah melakukan Risk Assessment. Penilaian ini mencakup kontrol, dan resiko terhadap kesehatan dan keamanan pekerja dan yang lain.

Secara singkat manajemen resiko merupakan proses menantang intelektual, yang membuat user  berfikir jika terjadi masalah apa dampaknya?, bagaimana konsekuensinya terhadap manusia, lingkugan dan event itu sendiri?

Dikarenakan setiap events menghadapi tantangan risiko, kesehatan dan keamanan akibat keramaian, lingkungan yang tidak familier, pengaturan sementara, dan banyaknya pekerja temporer. Hasilnya keamanan harus menjadi prioritas pemerintah, masyarakat, pihak sponsor, dan hadirin perhelatan. Planning for safety juga harus dipikirkan bersamaan dengan perencanaan aspek lain dalam pengusulan event. Teori yang dapat digunakan di antaranya theories of accident causationHuman Error di mana kecelakaan diakibatkan oleh serangkaian kejadian yang linier.

Developing a Risk Management Strategy, sebagai penyelenggara yang berurusan dengan risiko terdapat hal yang harus diperhatikan yaitu mematuhi hukum, belajar dari kesalahan, risk assessment, risk management. Dari kesalahan tersebut selanjutnya terjadilah kejadian dimana penyelenggara belajar, namun alangkah baiknya jika diantisipasi menggunakan risk assessment, risk management sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan.

 

Potret Polos Masyarakat Lokal dalam Bingkai Pariwisata Taman Nasional Komodo

Oleh Tiara Estu Amanda, Angkatan 2016

Suasana Desa Komodo.

Ketenaran Pulau Komodo di dunia internasional sebagai destinasi wisata sudah tidak diragukan lagi, apalagi setelah mendapatkan predikat World Heritage Site oleh UNESCO dan diikutkan sebagai finalis New Seven Wonders of Nature di tahun 2010.

Tetapi, tahukah Anda bahwa komodo tidak hidup sendiri di pulau tersebut? Karena terdapat sebuah desa berpenduduk kurang lebih 1.714 jiwa yang berbagi habitat dengan binatang purba itu. Mereka hidup serderhana dan polos, bersahaja, dalam geliat perkembangan pariwisata Komodo menuju salah satu yang akan dibangun dalam deretan ’10 Bali Baru’.

Ojek Kampung Waerebo: Saat Sepi Rp 100 Ribuan, Saat Rame Rp 600 Ribuan

Catatan Novi Tani, Angkatan 2016

Penulis, di depan rumah adat Waerebo yang anggun.

Siapa yang tidak mengenal Waerebo, Manggarai Barat, Pulau Flores? Kampung ini rasanya tidak asing asing lagi terdengar di telinga orang Indonesia, khususnya kaum muda yang suka akan budaya dan travelling. Sejalan dengan mengalirnya wisatawan berkunjung ke sebuah desa di Pulau Bunga ini, masyarakat setempat mulai merasakan manfaatnya. Selain dari pendapatan sewa rumah, juga pendapatan tukang ojek.

Untuk melengkapi kisah-kisah perjalanan kawan-kawan kami mahasiswa Prodi Magister Kajian Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana (misalnya klick negeri di atas awan dan Waerebo yang Memukau ), berikut sepintas riwayat rumah adat Waerebo dan manfaat yang dirasakan masyarakat termasuk tukang objek (bukan Go-Jek) dengan pendapatan antara Rp 100 ribuan sampai Rp 600 ribuan, sesuai musim.

Traveling to Flores: Magnificent Treasure of the Easterners

By Putu Yunita Wacana Sari, Batch 2016

Blue sea and beautiful green hill on the way to Komodo Island from Bajo Harbour (photo Darma Putra)

With lots of excitement, 19 students from Master Program in Tourism Studies 2016 of Udayana University and a lecturer as a trip supervisor, decided to explore Flores Island, East Nusa Tenggara Province from 14th – 19th of March 2017.

The trip was began by flying from Ngurah Rai Airport in Bali to Komodo Airport in Labuan Bajo. After landing safely at Komodo Airport, the group were directly transferred to Labuan Bajo harbor to begin the sailing trip.